Tadabbur Malam (021): Syukur yang Menenangkan Hati
Khazanah | 2026-02-03 19:38:44
Ada malam-malam ketika tubuh telah beristirahat, tetapi hati masih kelelahan. Bukan oleh pekerjaan, bukan pula oleh perjalanan panjang, melainkan oleh perasaan yang tak pernah benar-benar merasa cukup. Kita memiliki banyak hal untuk disyukuri, namun justru sedikit ketenangan. Bukan karena hidup kurang memberi, melainkan karena hati terlalu sering sibuk membandingkan.
Di sanalah kegelisahan bermula. Nikmat yang ada di tangan sendiri terasa biasa, sementara milik orang lain tampak lebih bercahaya. Kita lupa bahwa setiap manusia berjalan di lintasan takdir yang berbeda. Allah tidak pernah keliru membagi, tetapi manusia kerap keliru menilai.
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berpegang pada apa yang telah dianugerahkan dan menjadi orang-orang yang bersyukur. Perintah ini terdengar sederhana, namun berat untuk dijalani. Sebab syukur menuntut kejujuran paling dalam: mengakui bahwa apa yang kita miliki hari ini adalah pemberian, bukan semata hasil kecerdikan, kerja keras, atau perencanaan matang.
Syukur sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal syukur justru menjadi fondasi agar ikhtiar tetap sehat. Ia menjaga usaha agar tidak berubah menjadi keluhan, dan ambisi agar tidak menjelma kecemburuan. Hati yang bersyukur tetap bergerak, tetapi tidak gelisah. Ia bekerja tanpa iri, berdoa tanpa tuntutan, dan berharap tanpa memaksa.
Banyak orang lelah bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena hati terlalu menolak. Menolak keadaan hari ini, menolak proses yang sedang dijalani, dan menolak kenyataan bahwa Allah sedang mendidik melalui keterbatasan. Padahal, tidak semua pelajaran datang dalam bentuk kelapangan. Sebagian justru hadir melalui kesabaran yang sunyi.
Dalam tadabbur malam, kita belajar bahwa kegelisahan sering lahir bukan dari kekurangan, melainkan dari keengganan menerima. Ketika syukur tumbuh, hati perlahan berhenti melawan takdir. Bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena hati telah berdamai. Ada lapang yang lahir dari penerimaan, dan ada tenang yang tumbuh dari keyakinan.
Syukur tidak menghapus masalah, tetapi menguatkan jiwa yang menghadapinya. Ia tidak selalu membuat hidup lebih ringan, namun selalu membuat hati lebih kokoh. Dan hati yang kuat, dengan izin Allah, akan mampu berjalan meski jalan terasa panjang.
Malam pun mengajarkan satu hikmah sederhana: syukur bukan tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang menenangkan hati dengan apa yang telah ada.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
