Ketika Dunia Menangisi Monyet
Khazanah | 2026-03-01 18:16:16
Kisah bayi monyet Punch di kebun binatang Ichikawa prefektur Chiba Jepang, yang diabaikan ibunya dan berteman dengan boneka, akhirnya viral ke seluruh dunia. Kondisi Punch memicu lahirnya basis penggemar Punch, yang setia membagikan setiap aktivitasnya dengan tagar #HangInTherePunch.
Punch seolah bagian dari mereka. Media sosial menayangkan kisah pilunya, dan mendapat perhatian netizen. Postingan pengumuman disertai foto Punch memeluk erat boneka orangutan ini disaksikan 5,2 juta kali dan mendapatkan 84.000 respon suka. Kebun binatang Ichikawa pun menjadi destinasi wisata baru, tempat kumpulnya pecinta hewan, wisatawan, hingga pemburu konten yang penasaran dengan sosok primata yang sedang naik daun tersebut.
Hanya saja, saat dunia menangisi seekor bayi monyet yang memegang boneka, di waktu yang sama bayi-bayi di Gaza meregang nyawa. Lebih dari 20.000 anak di sana, sebagaimana dilaporkan Unicef, menghadapi ketakutan, bom, sakit, kedinginan, kelaparan, dan kesedihan yang tak terperi. Mereka tak hanya kehilangan boneka, tetapi juga ayah bunda, keluarga, rumah, bahkan anggota tubuh. Glorifikasi kondisi Punch, tak setara dengan ketidakberdayaan anak-anak Gaza.
Media memalingkan perhatian dunia, menggiring opini agar iba melihat penderitaan seekor monyet kecil yang kehilangan ibunya. Sementara manusia-manusia kecil di Gaza, menghadapi derita yang bertubi-tubi tanpa jeda, dan tak satu negara pun yang mampu menolong. Betul memang kita iba melihat penderitaan bayi monyet, namun jangan sampai hati kita beku terhadap nasib bocah kecil Gaza.
Terbentuk standar ganda dan empati selektif, media menggiring perasaan manusia kepada hewan, dan perlahan tapi pasti, akan hilang pula keberpihakan terhadap korban genosida yang sesungguhnya. Sementara nasib mereka sekarang berada di dalam genggaman Amerika Serikat dan sekutunya.
Sejatinya, anak-anak ini adalah bagian dari umat terbaik (khairu ummah) yang memiliki masa depan gemilang. Tak boleh ada satu kekuatan pun menghalangi mereka mencapai predikat tersebut. Maka dibutuhkan persatuan umat dan institusi pemersatu, yang akan membebaskan umat dari penderitaan. Tsumma takuunu khilaafatan ala minhajin nubuwwah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
