Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Lebih Mudah Membenci daripada Mendoakan?

Agama | 2026-03-02 16:09:08

Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

"Mazhab Boleh Berbeda, Kiblat Kita Tetap Satu"

Dalam sejarah Islam, perbedaan antara Sunni dan Syiah bukan sekadar soal fikih atau ritual, melainkan berakar pada peristiwa politik awal pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW—khususnya konflik kepemimpinan yang memuncak dalam tragedi Karbala. Dari sana lahir luka sejarah yang diwariskan turun-temurun. Luka yang kadang lebih sering diingat daripada nilai-nilai rahmah yang diajarkan oleh Nabi.

Namun, jika kita kembali pada fondasi, kita akan menemukan bahwa Syiah tetap bersyahadat yang sama, menghadap kiblat yang sama, membaca Al-Qur’an yang sama. Mereka bersujud kepada Allah yang sama. Dalam banyak forum internasional, termasuk di bawah naungan Organisasi Kerja Sama Islam, Syiah dan Sunni diakui sebagai bagian dari umat Islam.

Masalahnya sering bukan pada akidah semata, tetapi pada politik, identitas, dan kepentingan geopolitik yang membungkusnya. Konflik di Timur Tengah berkali-kali memperlihatkan bagaimana mazhab dijadikan kendaraan mobilisasi massa. Ketika agama dipinjam untuk ambisi kuasa, yang tersisa bukan lagi iman, melainkan kecurigaan.

Di titik inilah kalimat ini menjadi penting: “Jangan melihat mereka Syiah. Yang pasti mereka Islam saudara kita. Setidaknya bantu doa.”

Ada kebijaksanaan spiritual di sana. Tasawuf mengajarkan bahwa inti agama bukan pada label, melainkan pada kejernihan hati. Jalaluddin Rumi pernah menulis, “Di luar gagasan benar dan salah, ada sebuah ladang. Aku akan menemuimu di sana.” Ladang itu adalah ruang batin tempat manusia bertemu sebagai makhluk Tuhan, bukan sebagai identitas sosial.

Dalam perspektif sufistik, memelihara kebencian atas nama kebenaran justru menjauhkan seseorang dari Cahaya. Hati yang sibuk menghakimi sering lupa bercermin. Kita mudah menyebut orang lain sesat, tetapi jarang memeriksa kesombongan yang bersembunyi dalam keyakinan kita sendiri.

Bukan berarti perbedaan harus dihapus. Perbedaan adalah fakta sejarah dan realitas teologis. Tetapi perbedaan tidak harus berubah menjadi permusuhan. Doa adalah bentuk solidaritas paling sunyi dan paling tulus. Ia tidak menuntut persetujuan teologis. Ia hanya menuntut kemanusiaan.

Dan mungkin, di zaman ketika dunia Islam sering dipecah oleh identitas, sikap paling revolusioner justru adalah mengakui: kita berbeda, tetapi kita tetap bersaudara.

Pada akhirnya, yang akan ditanya bukanlah seberapa keras kita membela mazhab, melainkan seberapa lembut hati kita kepada sesama hamba Allah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image