Tadabbur Malam (009): Mengapa Allah Mencintai Hamba yang Bersyukur
Khazanah | 2026-01-21 19:47:33Syukur sering dipahami sebagai reaksi atas kenikmatan. Ketika mendapat kelapangan, kita bersyukur. Ketika diberi kemudahan, kita mengucap terima kasih. Padahal, dalam pandangan iman, syukur bukan sekadar respons emosional, melainkan sikap batin yang jauh lebih dalam. Ia tidak hanya hadir saat keadaan menyenangkan, tetapi justru diuji ketika hidup terasa berat.
Allah mencintai hamba yang bersyukur bukan semata karena banyaknya nikmat yang diterima, melainkan karena cara ia memandang kehidupan. Hamba yang bersyukur tidak menutup mata dari ujian. Ia merasakan sakit, lelah, dan kecewa sebagaimana manusia lainnya. Namun ia tidak menjadikan ujian sebagai alasan untuk menjauh, apalagi berburuk sangka kepada Allah. Dalam hatinya tetap ada keyakinan bahwa tidak ada satu pun takdir yang hadir tanpa hikmah.
Di waktu malam, syukur menemukan bentuknya yang paling jujur. Tidak ada tuntutan untuk terlihat kuat. Tidak ada keharusan untuk tampak bahagia. Syukur hadir sebagai penerimaan yang tenang—bahwa apa pun yang Allah tetapkan hari ini, baik yang kita pahami maupun yang belum kita mengerti, semuanya berada dalam genggaman kebijaksanaan-Nya.
Pada saat itulah syukur berubah dari sekadar ucapan menjadi kesadaran. Kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus sesuai rencana untuk tetap bernilai. Kesadaran bahwa keterbatasan bukan tanda ditinggalkan, dan ujian bukan bukti kurangnya kasih sayang Allah. Justru di sanalah iman diuji untuk tumbuh lebih dewasa.
Orang yang bersyukur di malam hari biasanya lebih tenang di siang hari. Ia tidak mudah iri melihat keberhasilan orang lain, karena hatinya telah berdamai dengan apa yang dimilikinya. Ia tidak cepat mengeluh ketika keadaan tidak ideal, karena ia percaya bahwa setiap fase hidup memiliki waktunya sendiri. Dan ia tidak tergesa menyalahkan takdir, sebab ia yakin Allah tidak pernah salah dalam menetapkan.
Syukur semacam ini tidak membuat hidup bebas dari masalah, tetapi membuat hati tidak mudah runtuh oleh masalah. Ia menjadi penopang batin yang halus namun kokoh. Dari sanalah lahir ketenangan yang tidak bergantung pada situasi, dan kekuatan yang tidak bersumber dari dunia.
Mungkin karena itulah Allah mencintai hamba yang bersyukur. Sebab syukur adalah tanda iman yang hidup—iman yang tidak hanya bersinar saat lapang, tetapi tetap menyala di tengah gelap. Dan barangkali, syukur yang tumbuh di waktu sunyi itulah yang menjadi cahaya, menuntun langkah kita ketika kembali berjalan di waktu terang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
