Ritual Flexing: Ketika Status Sosial Dibayar Tunai di Instagram
Kultura | 2025-12-10 16:16:53Ritual Flexing : Ketika Status Sosial Dibayar Tunai di Instagram
Mengapa Kita Terobsesi Pamer?
Kita hidup di masa kebahagiaan seolah-olah hanya sah jika terekam kamera dan terunggah di media sosial. Handphone iPhone, skincare, nugas di coffeeshop yang satu gelas harga kopi nya bisa mencapai 50.000; semua itu dianggap mata uang baru yang harus dipamerkan agar semua orang tahu. Namun mengapa ritual pamer (flexing) ini justru sering memicu kemarahan dan keamanan massal? Antropologi mengajarkan kita; Ketika seseorang terlalu gencar memamerkan kehidupannya, ia sama saja membuka pintu bagi publik untuk mengawasinya. Fenomena Display Culture menunjukkan adanya krisis identitas dan tuntutan status sosial yang tidak pernah terpuaskan.
Melenturkan sebagai Ritual Status Sosial
Dalam Antroplogi, status sosial Merujuk pada posisi atau kedudukan sesorang dalam masyarakat yang ditentukan oleh orang lain. Di masa lalu, status ditentukan berdasarkan siapa yang mempunyai tanah lebih banyak, gelar agama atau pendidikan dan juga bisa dari garis keturunan. Namun, di kota-kota metropolitan, status diperoleh dan dipertahankan melalui benda-benda yang jelas menunjukkan kekayaan dan diperbarui secara cepat. Flexing adalah ritual untuk memvalidasi benda penentu status sosial tersebut. Ketika seseorang memajang handphone iPhone atau Perawatan ke salon berjuta-juta dan diunggah ke media sosial, ia sedang berusaha mengkomunikasikan pesan bahwa ia layak berada di kelas sosial tertentu. Ini adalah usaha untuk menggunakan uang sebagai alat branding agar mendapatkan pengakuan dan status tinggi dari masyarakat.
Jebakan keterbukaan: Netizen sebagai Divisi Spill The Tea Kolektif
Amarah dan ekosistem massal yang muncul bukan sekadar rasa cemburu. Dalam ilmu Antropologi, ini merupakan upaya pengawasan kolektif moral yang sebelumnya dilakukan oleh para tetua adat atau tokoh masyaakat. Media sosial kini menjadi 'Pengadilan Rakyat Online' di mana jutaan netizen berfungsi sebagai juri. Mereka Bersatu dalam solidaritas anonim (komunitas) untuk menegaskan Kembali norma-norma yang mereka yakini (misalnya, kesuksesan harus dicapai melalui proses yang transparan dan kerja keras). Hujatan, doxing, dan unfollow sebagai sanksi sosial modern yang bertujuan; (1) Menghancurkan status sosial pelaku, dan (2) Memulihkan keseimbangan moral komunitas virtual.
Literasi Budaya, Bukan Sekadar Etika Digital
Pada akhirnya, fenomena Display Culture dan Flexing adalah hiburan sosial yang tak dapat dihindari di era digital. Pamer kekayaan dan kebahagiaan adalah cara kita mengklaim dan memvalidasi status sosial di masyarakat Tengah metropolitan yang serba anonim. Namun, ritual ini datang dengan biaya sosial yang mahal: ia memaksa tokoh masyarakat untuk membagikan kehidupan mereka tanpa adanya batasan privat, dan mengundang keikutsertaan masyarakat yang merasa berhak menghakimi setiap inci kehidupan kita. Hujatan massal di media sosial merupakan bentuk nyata bahwa sanksi sosial kini jauh lebih instan, masif dan seringkali lebih kejam daripada sanksi hukum formal.
Oleh karena itu, Solusi untuk meredam kemarahan dan kecurgiaan massal ini bukan hanya dengan perlindungan “Literasi Digital” atau “Bermedia sosial yang bijak”. Yang lebih mendesak dan harus menjadi fokus utama kita adalah Literasi Budaya Digital. Kita harus didorong untuk memahami bahwa: pertama, yang kita lihat hanyalah pertunjukan sosial, bukan realitas utuh kehidupan seseorang; dan kedua, ketika kita sebagai netizen menghakimi di media sosial, kita sedang ikut serta dalam pembentukan norma sosial baru yang bersifat ambivalen — di satu sisi menegaskan kembali nilai kejujuran, namun di sisi lain dapat menghalalkan penghakiman masyarakat yang kejam, dampaknya sangat nyata dan besar. Mari kita lebih bijak dalam menentukan batas diri — mengetahui seberapa banyak yang layak dipertontonkan — serta lebih empatik dalam peran sebagai pengawas moral.
Referensi
Indrayani, LM, Amalia, RM, & Citraresmana, E. (2023). Literasi budaya digital: Strategi membangun generasi cerdas, berkarakter, dan santun berbahasa. Dharmakarya: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat, 12(3), 349–353. https://doi.org/10.24198/dharmakarya.v12i3.350
Peran Antropologi Digital Untuk Memahami Fenomena Sosial dan Budaya Dalam Dunia Digital | oleh Reynaldi Saifullah | Sedang. (2023, 6 Juni). Diakses tanggal 2 November 2025, dari https://medium.com/@Reynaldi_Saifullah/peran-antropologi-digital-untuk-memahami-fenomena-sosial-dan-budaya-dalam-dunia-digital-202d57692935
Putri, EY, & Rosa, DV (2024). Flexing Sebagai Simulasi Mesin Hasrat dan Fragmentasi Tubuh Generasi Z. Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, 11(1), 14–24. https://doi.org/10.24036/scs.v11i1.622
Khayati, N., Apriliyanti, D., Sudiana, VN, Setiawan, A., & Pramono, D. (2022). Fenomena flexing di media sosial sebagai ajang pengakuan kelas sosial dengan kajian teori fungsionalisme struktural. Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian, dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan, 9(2), 113–121.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
