Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Eko Widiantoro

H Baya: Merawat Sampyong Sama dengan Merawat Kehidupan

Kultura | 2026-02-13 17:01:18
Ketua Komite Ekraf dan Forkopimda Majalengka berdo'a bersama di situs Sangraja. (Foto: Eko/Republika)

Retizen.Republika.co.id, MAJALENGKA— Ketika tabuhan kendang mulai terdengar di kompleks Situs Sangraja Cigasong, Jumat (13/2/2026), suasana yang semula hening perlahan berubah hangat. Di antara para pelaku seni Sampyong, tampak sosok H. Baya melangkah ke panggung. Ia tak sekadar tampil, tetapi menghadirkan pesan: seni tradisi harus terus hidup bersama masyarakatnya.

Penampilan itu menjadi bagian dari agenda Ngaruat Jagat Alam Cai Kahuripan, rangkaian kegiatan budaya yang digelar bertepatan dengan Hari Jadi Majalengka ke-186. Acara tersebut menyatukan ikhtiar merawat alam, kepedulian sosial, dan pelestarian budaya dalam satu ruang yang sarat makna.

Sejak pagi, warga sudah berkumpul di kawasan situs. Penanaman pohon menjadi pembuka, disusul penyerahan santunan bagi anak yatim dan lanjut usia. Santunan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Eman Suherman, sebagai penanda bahwa pelestarian warisan sejarah tak bisa dipisahkan dari empati sosial.

Bagi H. Baya, Sampyong bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah ingatan kolektif masyarakat Majalengka yang diwariskan lintas generasi. “Seni tradisi itu hidup karena ada manusia di dalamnya. Selama masih dirawat, ia akan terus bernapas,” ujar Baya, yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Ekonomi Kreatif Majalengka.

Ia meyakini, kebudayaan dan seni tradisi memiliki tempat penting dalam ekosistem ekonomi kreatif. Ketika diberi ruang dan dikelola bersama masyarakat, seni tradisi bukan hanya menjaga identitas, tetapi juga membuka harapan ekonomi bagi para pelakunya. “Budaya bisa menjadi jalan rezeki, tanpa kehilangan nilai,” katanya.

Sementara itu, Bupati Majalengka Eman Suherman menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk kembali merawat dan menghidupkan Situs Sangraja sebagai aset sejarah. Lokasinya yang dekat dengan pusat pemerintahan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ruang edukasi, rekreasi, dan aktivitas masyarakat.

Kedepan, penataan kawasan Situs Sangraja akan dilakukan secara kolaboratif dengan masyarakat adat dan warga setempat. Harapannya, situs ini tak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga ruang hidup yang menguatkan kebudayaan dan kesejahteraan masyarakat.

Di tengah gemuruh Sampyong sore itu, H. Baya berdiri sejajar dengan para seniman. Bukan sebagai figur semata, melainkan sebagai pengingat bahwa merawat budaya berarti merawat kehidupan—hari ini dan untuk generasi yang akan datang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image