Memberi Sekaligus Meminta
Kolom | 2026-03-15 14:13:28
Salah satu tradisi sosial yang sangat kentara adalah berkumpul, ini tampak diwakili oleh uangkapan makan tidak makan asal kumpul, Walaupun ketika kumpul tentu ada peluang makan-makan.
Ada satu pemandangan yang hampir selalu berulang. Orang-orang berkumpul selepas doa atau peringatan tertentu. Tikar digelar. Beberapa orang membawa nasi bungkus, kue, atau kotak makanan yang disusun rapi. Setelah doa selesai, makanan itu dibagikan. Ada yang langsung dimakan, ada pula yang dibawa pulang.
Tradisi seperti ini telah hidup lama dalam masyarakat kita. Ia hadir dalam berbagai bentuk; kenduri, syukuran panen, tumpengan soran (di bulan suro), syukuran keluarga, peringatan hari tertentu, atau pertemuan sosial yang dibingkai dengan doa. Orang datang tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa sesuatu untuk dibagikan. Dalam bahasa yang sederhana, ini disebut berbagi. Ada rasa yang dibangun untuk saling memberi.
Tidak ada yang salah dengan praktik seperti itu. Justru di situlah wajah solidaritas masyarakat komunal begitu tampak. Orang berkumpul, saling menyapa, saling mendoakan, dan saling memberi. Kalau boleh dikatakan sebagai ritual, tentu ritual semacam ini sering dianggap sebagai bukti bahwa masyarakat kita masih memiliki ikatan sosial yang kuat, zoon politicon, nyedulur, nyemanak, dst.
Namun jika kita melihatnya sedikit lebih dalam, ada satu pertanyaan yang berkelindan, apakah semua bentuk berbagi benar-benar tentang memberi?
Tidak sedikit kegiatan yang menunjukkan aktivitas “berbagi” ternyata bukan semata bermakna memberikan sesuatu kepada orang lain. Ia juga sering menjadi cara yang lebih halus untuk meminta sesuatu, murih balen, mengail simpati dan apapun lah istilahnya. Bukan meminta dalam arti materi, melainkan meminta pengakuan, eksistensi, minimal nambah laqob dermawan.
Dalam setiap ritus pun tradisi sosial, selalu ada dimensi simbolik yang sangat implisit, tersirat, gamang. Ketika seseorang membawa makanan atau sumbangan dalam sebuah acara publik, ia memang sedang memberi. Tetapi pada saat yang sama, ia juga sedang menegaskan kehadirannya, bahwa ia bagian dari lingkaran sosial itu, bahwa ia ikut berkontribusi, bahwa ia tidak berada di luar.
Berbagi, dalam pengertian ini, menjadi semacam bahasa sosial. Ia mengatakan banyak hal tanpa harus diucapkan; tentang kepedulian, tentang posisi dalam komunitas, bahkan kadang tentang kehormatan. Orang yang membawa sesuatu sering kali merasa telah melakukan bagian yang semestinya dilakukan. Dan khalayak pun, secara tidak langsung, memberikan pengakuan atas tindakan itu.
Di sinilah paradoks kecil mulai muncul, tindakan memberi yang seharusnya sederhana kadang berubah menjadi semacam pertukaran simbolik. Seseorang memberi bukan hanya karena ingin membantu, tetapi juga karena ada kebutuhan untuk tetap diakui sebagai bagian dari jaringan sosial itu. Sebaliknya, mereka yang menerima pun tidak selalu benar-benar berada dalam posisi menerima. Ada rasa sungkan, ada kewajiban moral untuk suatu saat melakukan hal yang sama, utang rasa yang harus dibayar impas.
Ritual berbagi akhirnya membentuk lingkaran yang rapi. Hari ini seseorang, komunitas, atau lembaga yang memiliki inisiatif memberi atau berbagai, tidak sedikit yang berharap bahwa besok ia akan menerima, lusa ia memberi lagi. Cakra manggilingannya jelas, muter sedemikian rupa.
Tidak ada yang sepenuhnya keliru dalam mekanisme itu. Justru dalam masyarakat luas, siklus saling memberi dan menerima adalah salah satu cara menjaga hubungan sosial tetap hidup. Tanpa mekanisme semacam itu, masyarakat bisa menjadi lebih individualistis dan jauh dari rasa kebersamaan.
Namun persoalan muncul ketika ritual itu perlahan kehilangan arah. Ketika berbagi tidak lagi tentang membantu mereka yang membutuhkan, tetapi lebih tentang mempertahankan ritme sosial dalam lingkaran yang sama, dalihnya tentu stabilitas sosial.
Orang-orang yang hadir dalam ritual itu sering kali adalah orang-orang yang relatif memiliki kemampuan tidak jauh berbeda. Mereka saling memberi dalam ruang terbatas pada komunitas yang sama.
Sementara itu, mereka yang benar-benar membutuhkan sering kali bahkan tidak berada di ruang tersebut. Pada dasarnya, jarak antara niat dan dampak mulai terasa. Jauh api dari panggangan, niat yang tumbuh mungkin tulus, tetapi hasilnya tidak selalu sampai ke tempat yang paling membutuhkan.
Berbagi berubah menjadi semacam ekonomi pengakuan, matrikulasi eksistensi, yang dipertukarkan bukan sekadar makanan atau sumbangan kecil, melainkan juga status moral. Orang atau kelompok ingin dikenali sebagai bagian dari komunitas yang peduli, sebagai orang yang tidak abai terhadap tradisi, sebagai seseorang yang ikut menjaga kebersamaan.
Semua ini berlangsung tanpa perlu diumumkan. Ia bekerja secara halus dalam kebiasaan sosial sehari-hari.
Karena itu, ada ruang reflektif untuk melihat fenomena semacam ini agar tidak diarahkan untuk menolak tradisi atau ritual sosial. Tradisi memiliki peran penting dalam menjaga kehangatan hubungan antar manusia. Ia menyediakan ruang perjumpaan yang sering kali semakin langka dalam kehidupan modern yang serba cepat.
Sejatinya yang perlu dijaga justru kesadaran tentang makna di balik aktifitas berbagi. Bahwa berbagi seharusnya tidak berhenti pada sirkulasi kebaikan di dalam lingkaran yang sudah mapan. Ia semestinya juga membuka jalan bagi kepedulian yang lebih luas kepada mereka yang mungkin tidak hadir dalam ruang-ruang seremonial tersebut.
Sebab inti dari berbagi bukanlah sekadar memastikan bahwa setiap orang di dalam komunitas mendapatkan bagian yang sama. Intinya adalah memperkecil jarak antara mereka yang memiliki dan mereka yang kekurangan.
Dalam pengertian itu, berbagi yang paling jujur sering kali justru berlangsung tanpa banyak sorotan. Ia tidak selalu hadir dalam acara yang terjadwal atau dalam ritual yang meriah. Kadang ia terjadi dalam tindakan sederhana, seperti membantu seseorang yang kesulitan, memberi tanpa menunggu balasan, atau menolong tanpa perlu diketahui banyak orang.
Artinya, berbagi menjadi sesuatu yang sederhana. Ia bukan cara untuk meminta pengakuan, melainkan cara untuk memastikan bahwa kehidupan orang lain sedikit lebih ringan dari sebelumnya.
Tradisi sosial dan keagamaan tentu akan terus hidup dalam masyarakat. Ia adalah bagian dari identitas kolektif yang tidak mudah digantikan oleh apa pun. Namun tradisi akan tetap bermakna hanya jika kita terus memeriksa niat yang menghidupkannya.
Jika tidak, kita mungkin akan terus menyalakan tungku niat baik, tetapi lupa memastikan apakah panasnya benar-benar sampai ke panggangan kehidupan sosial yang membutuhkan.
Berbagi, tentu menjadi aktifitas yang tanpa disadari akan terus terjadi. Tetapi maknanya perlahan bisa berubah dari memberi kepada meminta, dari kepedulian kepada sekadar pengakuan.[]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
