Jeda (13) Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
Khazanah | 2026-02-26 11:52:46Ada fase dalam hidup ketika langkah terasa berat, napas terasa sesak, dan hari-hari seperti berjalan lebih lambat dari biasanya. Masalah datang silih berganti, seolah belum selesai satu ujian, sudah menunggu ujian berikutnya. Pada titik itu, hati mudah sekali bertanya, “Sampai kapan?”
Namun Allah pernah menenangkan kita dengan kalimat yang begitu kuat dan pasti. Dalam Al-Qur'an, pada Surah Al-Insyirah, Allah mengulang dua kali: “Fa inna ma’al ‘usri yusrā, inna ma’al ‘usri yusrā.” Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Bukan setelah kesulitan. Tapi bersama.
Seolah Allah ingin memastikan bahwa kita tidak salah dengar. Tidak salah paham. Tidak merasa sendirian.
Kesulitan itu nyata. Tangis itu nyata. Lelah itu nyata. Tetapi kemudahan juga sedang berjalan berdampingan, meski kita belum melihatnya. Kadang kemudahan itu berupa kekuatan baru dalam diri kita. Kadang berupa orang-orang baik yang Allah kirimkan. Kadang berupa hati yang lebih sabar dari sebelumnya.
Nabi ﷺ juga mengingatkan bahwa urusan seorang mukmin itu menakjubkan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar. Dan keduanya adalah kebaikan baginya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya. Di sini kita belajar: bukan kesulitan yang menentukan nilai kita, tapi cara kita memaknainya.
Kesulitan bukan hukuman. Sering kali ia adalah proses. Ia mengikis kesombongan, menumbuhkan empati, melatih tawakal. Ia memaksa kita mengetuk pintu langit lebih lama dari biasanya. Dan di situlah hubungan kita dengan Allah justru menjadi lebih dalam.
Bukankah banyak orang menemukan jati dirinya setelah terjatuh? Bukankah banyak doa paling tulus lahir dari hati yang remuk? Bukankah banyak keberhasilan besar berdiri di atas pondasi kegagalan yang tidak terlihat orang?
Kemudahan itu kadang tidak datang dalam bentuk yang kita minta. Tapi ia datang dalam bentuk yang kita butuhkan.
Dari seluruh perjalanan ini, kita belajar bahwa iman bukan tentang hidup tanpa masalah, melainkan tentang keyakinan bahwa setiap masalah membawa misi kebaikan. Allah tidak pernah menulis kesulitan tanpa menyertakan kemudahan di dalamnya. Tugas kita bukan memahami seluruh skenario-Nya, tetapi menjaga hati tetap sabar, menjaga lisan tetap berdoa, dan menjaga langkah tetap berjalan. Saat kita memilih bersabar dan berhusnuzan, di situlah kita sedang membuka pintu kemudahan yang Allah janjikan.
Maka jika hari ini terasa berat, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah meninggalkanmu. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan ruang yang lebih luas di hatimu. Bisa jadi Allah sedang membesarkan kapasitas jiwamu. Bisa jadi, kemudahan itu sudah sangat dekat—hanya terhalang satu langkah sabar lagi.
Berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Ucapkan, “Ya Allah, aku percaya.”
Karena di balik setiap air mata yang jatuh diam-diam, ada tangan tak terlihat yang sedang menyusun takdir terbaik. Dan di balik kesulitan yang membuatmu hampir menyerah, ada kemudahan yang sedang berlari mendekat—tepat pada waktu yang paling indah menurut-Nya.
Jangan menyerah. Jangan putus asa.
Sebab mungkin hari ini adalah halaman terakhir dari bab sulitmu, dan esok adalah awal dari kisah yang akan membuatmu bersyukur pernah bertah
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
