Tantangan Stunting di Indonesia dan Upaya Pencegahannya
Hospitality | 2025-12-04 13:23:28Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan bahwa prevalensi stunting pada balita masih berada di angka yang cukup tinggi, meskipun pemerintah telah menetapkan target penurunan menjadi 14% pada tahun 2024. Fenomena ini bukan sekadar masalah gizi, tetapi juga mencerminkan kompleksitas persoalan sosial, ekonomi, dan budaya yang saling terkait.
Mengapa stunting menjadi isu yang krusial? Stunting bukan hanya tentang tinggi badan anak yang kurang dari standar, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas di masa depan. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kualitas hidup yang rendah, sehingga secara tidak langsung mempengaruhi daya saing bangsa. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menghambat pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Salah satu penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan gizi yang memadai, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Namun, jika kita telaah lebih dalam, akar masalahnya tidak hanya pada ketersediaan makanan bergizi, tetapi juga pada pola asuh, sanitasi, dan akses terhadap layanan kesehatan. Banyak keluarga di daerah terpencil yang masih kesulitan mendapatkan air bersih dan fasilitas kesehatan yang layak. Selain itu, rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya gizi seimbang turut memperburuk situasi.
Menurut saya, upaya penanggulangan stunting harus dilakukan secara holistik. Program pemberian makanan tambahan atau bantuan pangan memang penting, tetapi tidak cukup jika tidak diiringi dengan edukasi gizi dan perbaikan sanitasi. Pemerintah perlu memperkuat kolaborasi dengan sektor swasta dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak. Misalnya, melalui kampanye edukasi yang masif, pelatihan kader posyandu, serta pengembangan infrastruktur dasar di daerah tertinggal.
Selain itu, saya berpendapat bahwa pendekatan berbasis komunitas adalah kunci. Masyarakat harus dilibatkan secara aktif dalam setiap program, bukan hanya menjadi penerima manfaat. Dengan membangun kesadaran kolektif, kita dapat menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan. Tidak kalah penting, pengawasan terhadap distribusi bantuan harus diperketat agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.
Kesimpulannya, stunting adalah masalah multidimensional yang membutuhkan solusi komprehensif. Jika kita ingin mencapai target penurunan stunting, maka intervensi tidak boleh hanya bersifat jangka pendek, tetapi harus berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dan perbaikan sistem kesehatan. Saya optimis, dengan komitmen bersama dan langkah strategis yang tepat, Indonesia dapat keluar dari krisis stunting dan mencetak generasi emas yang sehat dan produktif.
Dampak Ekonomi Stunting : Stunting tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Anak-anak yang mengalami stunting cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah, sehingga berpengaruh terhadap produktivitas kerja di masa depan. Hal ini dapat mengurangi pendapatan nasional dan meningkatkan beban biaya kesehatan. Menurut Bank Dunia, kerugian ekonomi akibat stunting dapat mencapai miliaran dolar setiap tahunnya.
Peran Teknologi dalam Pencegahan Stunting : Teknologi dapat menjadi solusi inovatif dalam mengatasi stunting. Aplikasi mobile untuk pemantauan gizi, platform edukasi digital, dan telemedicine memungkinkan masyarakat mendapatkan informasi dan layanan kesehatan dengan lebih mudah. Pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi untuk mengembangkan teknologi yang ramah pengguna dan dapat diakses oleh masyarakat di daerah terpencil
Contoh Program Pemerintah : Pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program untuk menurunkan angka stunting, seperti Program Gizi Seimbang, pemberian makanan tambahan, dan kampanye edukasi melalui Posyandu. Selain itu, program "Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan" menjadi fokus utama dalam memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup sejak dini. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan pengawasan yang ketat.
Dengan adanya upaya terpadu dari berbagai pihak, diharapkan angka stunting di Indonesia dapat menurun secara signifikan. Komitmen bersama, inovasi teknologi, dan penguatan sistem kesehatan adalah kunci untuk menciptakan generasi yang sehat dan produktif.
Daftar Pustaka :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Jakarta: Kemenkes RI.
World Health Organization. (2020). Reducing stunting in children: equity considerations for achieving the global nutrition targets 2025. Geneva: WHO.
UNICEF Indonesia. (2021). Pencegahan Stunting di Indonesia: Strategi dan Intervensi. Jakarta: UNICEF.
TNP2K. (2020). Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting. Jakarta: Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
Forouzanfar, M. H., et al. (2016). Global burden of childhood stunting and wasting: trends and projections. The Lancet Global Health, 4(1), e16-e25.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
