Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Niken Ayu Mutiara Bintang

Petugas Administrasi Kesehatan: Garda Terdepan yang Sering Terlupakan

Eduaksi | 2025-12-03 19:58:26

Oleh: Niken Ayu Mutiara Bintang, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga

Ketika orang berbicara tentang tenaga kesehatan, yang terlintas biasanya hanya dokter atau perawat. Padahal, sebelum bertemu mereka, pasien pasti lebih dulu berhadapan dengan sosok lain yang tak kalah penting, yaitu petugas administrasi kesehatan.

Mereka inilah pintu pertama layanan, terutama di fasilitas dasar seperti salah satu Rumah Sakit di Surabaya Timur tempat saya melakukan pengamatan.

Menurut data Kementerian Kesehatan, kunjungan pasien di Rumah Sakit bisa mencapai 20 hingga 200 orang per hari, tergantung wilayah. Artinya, petugas administrasi harus menghadapi puluhan bahkan ratusan orang setiap hari, dari yang panik, bingung, marah, sampai yang terlalu banyak bertanya.

Selama pengamatan, saya melihat bagaimana mereka menginput data pasien ke sistem SIMPUS atau P-Care BPJS, mencetak kartu berobat, mengurus berkas rujukan, hingga mengatur antrean agar tetap rapi. Semua itu dilakukan nyaris tanpa jeda.

Salah satu petugas bahkan sempat berkata sambil tertawa lelah,

“Kadang saya merasa bukan cuma jadi admin, tapi juga resepsionis, customer service, dan terapis mental keluarga pasien.”

Dalam situasi ramai, mereka bukan hanya mengetik dan mencetak, tapi juga berperan sebagai penengah kecil di tengah kepanikan. Saya menyaksikan seorang ibu muda yang datang tergesa karena anaknya demam tinggi. Dengan nada panik, ia bertanya, “Mbak, ini langsung bisa masuk dokter atau harus antre dulu?” Petugas itu menjawab tenang,

“Tenang, Bu. Saya bantu dulu daftarkan, nanti saya prioritaskan ke perawat triase ya. Yang penting anaknya dipangku dulu.”

Jawaban sederhana, tapi hangat sekali rasanya. Di momen itu, saya sadar bahwa pekerjaan mereka tidak hanya soal dokumen dan komputer tapi juga soal empati yang dibungkus kesabaran.

Sayangnya, profesi ini sering tidak dianggap sebagai bagian dari “tenaga kesehatan”. Padahal tanpa mereka, dokter tak akan tahu siapa pasiennya, perawat tak akan tahu ruang mana yang penuh, dan antrean bisa berubah jadi kekacauan.

Mereka mungkin tidak memakai stetoskop, tapi mereka memegang kendali alur layanan. Mereka mungkin tidak menyuntik pasien, tapi mereka menyuntikkan ketertiban dalam sistem kesehatan.

Namun yang paling menarik perhatian saya bukan hanya soal beban kerja mereka, melainkan minimnya apresiasi. Di media sosial, kita sering melihat kampanye “terima kasih dokter” atau “terima kasih perawat” dan itu memang layak. Tapi kapan terakhir kali ada unggahan bertuliskan “Terima kasih, petugas administrasi kesehatan”? Hampir tidak pernah.

Padahal jika mereka berhenti satu hari saja, sistem pelayanan bisa lumpuh. Pendaftaran berhenti, antrean kacau, dokter tidak tahu siapa pasiennya, bahkan obat tidak bisa ditebus tanpa data mereka.

Sebagian masyarakat masih menganggap pekerjaan ini sepele. Ada pasien yang berkata, “Loh, cuma masukin data doang kok lama?” Padahal yang mereka lakukan jauh lebih kompleks, memastikan identitas, validasi BPJS, kecocokan rujukan, hingga klasifikasi jenis kunjungan. Sekali salah klik, bisa berdampak panjang pada pengobatan pasien.

Dari pengamatan ini saya belajar, pelayanan kesehatan bukan hanya soal keahlian medis, tapi juga kolaborasi antarprofesi. Dan dalam kolaborasi itu, petugas administrasi bukanlah figuran, melainkan pemeran pendukung utama yang menentukan jalannya cerita.

Sudah saatnya mereka diberi tempat dalam narasi besar dunia kesehatan. Jika kita menghormati dokter karena menyelamatkan nyawa, maka kita juga perlu menghargai mereka yang menjaga pintu agar layanan tetap berjalan.

Karena sesungguhnya, sebelum ada tindakan penyembuhan, selalu ada tangan administrasi yang mengantarkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image