Mengapa Banyak Orang Sakit Meski Makan Cukup? Ilmu di Balik Mikrobioma dan Pangan
Gaya Hidup | 2026-01-31 10:27:23Oleh: Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si., Dosen Reproduksi Veteriner, Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA), Universitas Airlangga, Banyuwangi
Selama ini, penyakit tidak menular (non-communicable diseases/NCDs) seperti diabetes, penyakit jantung, kanker, alergi, hingga gangguan saraf sering dipersepsikan sebagai akibat dari pola makan berlebih, kurang olahraga, atau faktor genetik. Namun, kajian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa masalahnya tidak hanya hal tersebut, jauh lebih hulu masalahnya juga terkait dengan bagaimana makanan itu diproduksi.
Artikel ilmiah yang terbit di jurnal One Health tahun 2024 (Ramkumar et al. 2024 dalam publikasi https://doi.org/10.1016/j.onehlt.2024.100734) menegaskan bahwa kualitas pangan sangat berkaitan dengan kesehatan mikrobioma, baik mikrobioma tanah, tanaman, hewan, maupun manusia . Mikrobioma ini merupakan kumpulan mikroorganisme “baik” yang berperan penting dalam metabolisme, sistem imun, hingga fungsi saraf. Ketika mikrobioma terganggu (dysbiosis), risiko berbagai penyakit kronis meningkat drastis.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pertanian industrial yang mengandalkan pupuk sintetis, pestisida, herbisida, antibiotik, dan sistem monokultur telah merusak keanekaragaman mikrobioma tanah. Tanah yang miskin mikroba akan menghasilkan tanaman dengan kualitas nutrisi lebih rendah. Tanaman ini kemudian dikonsumsi manusia, dan pada akhirnya berkontribusi pada gangguan mikrobioma usus.
Mikrobioma usus bukan sekadar “penghuni pasif” saluran cerna. Ia terlibat aktif dalam pencegahan penyakit hati berlemak, diabetes, obesitas, alergi, penyakit radang usus, bahkan kanker usus besar dan gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson. Pola makan yang sering mengkonsumsi ultra-process food, gula, dan daging merah, yang banyak berasal dari sistem produksi industrial terbukti mendorong dysbiosis dan peradangan kronis.
Sebaliknya, pertanian regeneratif (regenerative agriculture) menawarkan pendekatan berbeda. Sistem ini menekankan kesehatan tanah melalui rotasi tanaman, minim olah tanah, penggunaan pupuk organik, integrasi ternak, serta penghindaran bahan kimia sintetis. Hasilnya bukan hanya tanah yang lebih subur, tetapi juga pangan dengan kandungan vitamin, mineral, antioksidan, dan fitokimia yang lebih tinggi, serta residu toksik yang lebih rendah .
Bagi kesehatan manusia, ini membuka peluang baru yang sangat relevan. Pangan dari sistem regeneratif berpotensi memperbaiki mikrobioma usus, menurunkan inflamasi sistemik, dan mengurangi risiko NCDs dalam jangka panjang. Dengan kata lain, pencegahan penyakit dimulai dari tanah yang sehat.
Konteks ini menjadi sangat penting jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia. Negara ini kaya sumber pangan nabati dan hewani, namun ironisnya juga mengalami peningkatan signifikan penyakit kronis. Salah satu penyebab yang jarang dibahas adalah sistem pengolahan dan produksi pangan yang mengabaikan dampak kesehatan jangka panjang.
Banyak produk pangan di Indonesia, baik dari tanaman maupun hewan diproses secara berlebihan, menggunakan bahan tambahan kimia, pengawet, pewarna, serta residu antibiotik atau pestisida yang tidak sepenuhnya terkontrol. Sistem peternakan intensif dengan penggunaan antibiotik subterapeutik, misalnya, bukan hanya berisiko pada resistensi antimikroba, tetapi juga memengaruhi kualitas mikrobioma manusia yang mengonsumsi produknya.
Hal menarik lainnya, artikel ini menyoroti keterkaitan antara mikrobioma usus dan kesehatan mental. Gangguan kecemasan, depresi, ADHD, hingga autisme memiliki hubungan dengan ketidakseimbangan mikrobioma. Ini membuka perspektif baru bahwa pangan bukan hanya “mengenyangkan”, tetapi juga memengaruhi suasana hati, perilaku, dan fungsi otak.
Dari sudut pandang kebijakan dan praktik, temuan ini seharusnya menjadi alarm bagi sistem pangan nasional. Indonesia memiliki peluang besar menerapkan prinsip pertanian regeneratif berbasis kearifan lokal: agroforestri, tumpangsari, integrasi ternak-tanaman, hingga pemanfaatan fermentasi tradisional seperti tempe, tape, dan sayuran fermentasi yang mendukung mikrobioma sehat.
Lebih jauh, artikel ini menggarisbawahi bahwa komunitas kesehatan diantaranya dokter, dokter hewan, ahli gizi, dan akademisi harus terlibat aktif dalam diskusi sistem pangan. Selama ini, pembahasan pertanian didominasi isu produksi dan ekonomi, sementara dampaknya terhadap kesehatan manusia sering terpinggirkan.
Jika paradigma ini diubah, pangan tidak lagi dipandang sekadar komoditas, melainkan intervensi kesehatan masyarakat. Mendorong konsumsi pangan berbasis tanaman, minim proses, berasal dari sistem produksi yang ramah mikrobioma, dapat menjadi strategi preventif yang jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan penyakit kronis.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya “apa yang kita makan”, tetapi dari tanah seperti apa makanan itu berasal. Tanah yang rusak akan menghasilkan generasi yang sakit. Sebaliknya, tanah yang sehat berpotensi melahirkan masyarakat yang lebih kuat, lebih produktif, dan lebih berdaya tahan menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memperbaiki manusia yang sakit, dan mulai serius menyembuhkan sistem pangan kita.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
