Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Patimah Anjelina

Dari Dapur ke Tanah: Mengelola Sampah Organik Lewat Biopori

Eduaksi | 2026-01-30 11:17:21

Setiap hari, dapur rumah tangga menghasilkan sesuatu yang sering kita anggap remeh: sisa sayur, kulit buah, ampas kopi, daun kering. Jumlahnya tidak banyak jika dilihat per rumah, tetapi jika dikumpulkan dari jutaan rumah, ia berubah menjadi persoalan besar. Ironisnya, sebagian besar sampah organik ini berakhir di tempat pembuangan akhir, bercampur dengan plastik, lalu membusuk tanpa arah. Padahal, sampah organik sejatinya bukan limbah. Ia adalah bagian dari siklus alam yang selama ribuan tahun menjaga kesuburan tanah.

Di sinilah biopori menemukan relevansinya. Lubang kecil di tanah ini sering dipahami sebatas alat resapan air. Padahal, perannya jauh lebih luas. Biopori memungkinkan sampah organik rumah tangga kembali ke tanah, diuraikan secara alami oleh organisme tanah, dan perlahan berubah menjadi sumber nutrisi.

Berbeda dengan tempat sampah tertutup, biopori bekerja mengikuti ritme alam. Sisa makanan yang dimasukkan ke dalam tanah tidak “dihilangkan”, melainkan diolah. Mikroorganisme, cacing, dan makhluk tanah lainnya melakukan pekerjaan yang selama ini kita abaikan: mengubah sisa organik menjadi humus yang memperbaiki struktur tanah. Air hujan yang meresap membantu proses ini berlangsung tanpa bau dan tanpa limbah tambahan.

Kebiasaan sederhana ini mengubah cara kita memandang sampah. Yang semula dianggap kotor dan merepotkan, ternyata adalah bahan baku kehidupan tanah. Dari halaman rumah, kita mulai memahami bahwa persoalan sampah bukan selalu soal pengangkutan dan pembuangan, melainkan soal bagaimana kita memulihkan siklus yang terputus.

Di titik inilah keterkaitannya dengan pertanian berkelanjutan menjadi terasa, tanpa perlu dipaksakan. Pertanian yang sehat bergantung pada tanah yang hidup, tanah yang kaya bahan organik, mampu menyimpan air, dan menjadi rumah bagi organisme. Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, kesuburan tanah sering diperlakukan sebagai sesuatu yang instan: ditambah pupuk, dipanen hasilnya, lalu dilupakan.

Biopori, meski lahir dari skala rumah tangga, mengajarkan logika yang sama dengan pertanian berkelanjutan: mengembalikan sisa, bukan membuangnya. Ketika sampah organik kembali ke tanah, kita sedang meniru proses yang terjadi di alam dan di lahan pertanian yang dikelola secara Lestari, tidak ada yang benar-benar terbuang, semua berputar.

Dari sisi lingkungan perkotaan, dampaknya nyata. Volume sampah yang harus diangkut ke TPA berkurang, genangan air bisa ditekan, dan kualitas tanah di sekitar rumah meningkat. Dari sisi yang lebih luas, kebiasaan ini menanamkan kesadaran bahwa pangan tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan tanah, air, dan cara kita memperlakukan sisa-sisanya.

Bagi banyak orang kota, pertanian berkelanjutan mungkin terdengar jauh, urusan sawah, kebun, atau desa. Namun melalui biopori dan pengelolaan sampah organik, konsep itu hadir di halaman rumah sendiri. Kita belajar bahwa merawat tanah tidak selalu menunggu lahan luas, cukup dengan konsistensi kecil dan kesediaan mengubah kebiasaan.

Pada akhirnya, biopori bukan sekadar lubang di tanah. Ia adalah pengingat bahwa keberlanjutan dimulai dari hal-hal paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari dapur, dari sisa makanan, dari keputusan untuk tidak membuang apa yang masih bisa dikembalikan.

Jika rumah tangga mulai memandang sampah organik sebagai bagian dari siklus pangan, bukan sebagai beban, maka pertanian berkelanjutan tidak lagi sekadar wacana. Ia tumbuh perlahan, diam-diam, dari bawah, dari tanah yang kembali hidup.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image