Jerami Padi dan Biochar: Emas Hitam yang Terlupakan di Lahan Pertanian
Eduaksi | 2026-02-15 20:16:55
Setiap musim panen padi berakhir, jerami menjadi pemandangan yang nyaris tak pernah berubah. Tertumpuk di pojokan lahan, dibakar, atau dibiarkan menghilang tanpa makna. Praktik ini seolah menegaskan satu asumsi lama, nilai ekonomi pertanian berhenti pada gabah. Padahal, justru pada jerami tersimpan peluang penting untuk mentransformasi pertanian menuju sistem yang lebih berkelanjutan, melalui pengolahan biochar yang memberi manfaat ekonomi sekaligus ekologis.
Biochar adalah arang hayati yang dihasilkan dari biomassa melalui proses pemanasan dengan oksigen terbatas. Berbeda dengan pembakaran terbuka, proses ini tidak mengubah jerami menjadi abu dan asap, melainkan menjadi material karbon stabil yang bernilai tinggi. Inilah titik balik penting: jerami tidak lagi dilihat sebagai sisa panen, tetapi sebagai komoditas ekologis.
Secara ekologis, biochar dari jerami memiliki fungsi yang jelas. Struktur porinya yang sangat halus membuatnya mampu menyimpan air dan unsur hara lebih lama di dalam tanah. Biochar juga menjadi habitat ideal bagi mikroorganisme tanah, sehingga memperbaiki kehidupan biologis lahan. Tanah yang diberi biochar cenderung lebih gembur, tidak mudah kering, dan lebih efisien memanfaatkan pupuk.
Keunggulan lain yang sangat penting adalah kemampuannya menyimpan karbon dalam jangka panjang. Karbon dalam biochar dapat bertahan di tanah selama puluhan hingga ratusan tahun. Artinya, setiap jerami yang diubah menjadi biochar bukan hanya memperbaiki tanah, tetapi juga berkontribusi nyata dalam mengurangi emisi karbon ke atmosfer. Bila ditarik ke persoalan krisis iklim, tentu bukan hanya nilai simbolik, melainkan manfaat nyata.
Dari sisi ekonomi, biochar jerami juga memiliki peluang yang semakin terbuka. Di banyak negara, biochar telah dipasarkan sebagai pembenah tanah, campuran media tanam, hingga bahan tambahan pertanian organik. Nilai jualnya jauh melampaui jerami mentah, bahkan melampaui kompos biasa. Dengan pengolahan yang tepat, jerami yang sebelumnya tidak bernilai dapat menjadi produk yang layak diperjualbelikan.
Memang, produksi biochar membutuhkan proses tambahan. Jerami perlu dikeringkan, dipirolisis dengan alat sederhana atau tungku khusus, lalu diaplikasikan atau dipasarkan. Namun tantangan ini sebanding dengan manfaatnya. Dibanding pembakaran terbuka yang hanya menyisakan asap dan abu, biochar menyimpan nilai dalam bentuk yang tahan lama dan bisa digunakan berulang kali.
Masalah utama bukan pada teknologi, melainkan pada cara pandang. Selama jerami dianggap gangguan, bukan sumber daya, maka pembakaran akan selalu menjadi pilihan termudah. Padahal, pertanian berkelanjutan justru menuntut kemampuan mengelola apa yang tersisa setelah panen. Tanah tidak bisa terus dipaksa produktif tanpa dikembalikan bahan organik dan karbon yang hilang.
Mengolah jerami menjadi biochar juga memberi pesan penting bagi sistem pertanian kita: nilai tidak selalu lahir dari hasil utama panen, tetapi dari bagaimana sisa panen dikelola. Disinilah posisi jerami padi layak disebut emas hitam. Bukan karena harganya semata, melainkan karena kemampuannya menopang pertanian jangka panjang. Di tengah tekanan biaya input, degradasi lahan, dan perubahan iklim, biochar dari jerami menawarkan jalan keluar yang konkret, bukan sekadar wacana.
Selain jerami padi, banyak sisa panen lain yang berpotensi diolah menjadi biochar. Sekam padi, tongkol jagung, batang jagung, tempurung kelapa, sabut kelapa, tandan kosong kelapa sawit, hingga ranting dan limbah kayu pertanian merupakan biomassa yang kaya karbon. Semua bahan ini, jika dikelola dengan benar, dapat menjadi pembenah tanah sekaligus sumber nilai ekonomi baru.
Pertanyaannya, kapan kita berhenti membakar potensi yang sudah ada di lahan sendiri. Selama sisa panen masih dipandang sebagai limbah, emas hitam itu akan terus lenyap menjadi asap. Tetapi ketika diolah dan dimanfaatkan, pertanian kita selangkah lebih dekat pada keberlanjutan yang sesungguhnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
