Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Patimah Anjelina - Dosen Faperta UNAND

Swasembada Pangan dan Realitas Pertanian Kita

Ulas Dulu | 2026-02-14 15:04:51

Target swasembada pangan kembali menguat. Produksi beras, jagung, dan protein hewani digenjot lewat berbagai program dan peningkatan anggaran. Di atas kertas, optimisme terasa masuk akal. Namun di lapangan, pertanyaan mendasarnya justru sering luput: apakah pertanian Indonesia benar-benar siap menopang target besar itu?

Bagi publik perkotaan, swasembada identik dengan satu hal yaitu pangan tersedia dan harga stabil. Tetapi bagi petani, ceritanya jauh lebih rumit. Produksi pangan hari ini tidak hanya soal benih unggul dan pupuk bersubsidi, melainkan juga cuaca yang kian sulit diprediksi, kualitas tanah yang menurun, serta akses air dan pasar yang tidak selalu berpihak.

Perubahan iklim membuat musim tanam tak lagi patuh pada kalender. Hujan bisa datang terlambat, lalu turun terlalu deras. Sawah kebanjiran di satu musim, kekeringan di musim berikutnya. Dalam kondisi seperti ini, target produksi kerap terasa sebagai tekanan tambahan. Petani diminta meningkatkan hasil, sementara risiko gagal panen justru semakin besar.

Di tengah ketidakpastian itu, modernisasi pertanian terus didorong. Mekanisasi, digitalisasi, dan teknologi pertanian digadang-gadang sebagai solusi. Namun adopsinya tidak selalu merata. Petani kecil yang jumlahnya paling banyak, sering tertinggal karena keterbatasan modal, akses teknologi, dan pendampingan. Jika tidak dirancang inklusif, modernisasi justru berpotensi memperlebar jurang antara petani besar dan petani kecil.

Persoalan lain yang kerap luput adalah kondisi sumber daya alamnya. Tanah pertanian makin tertekan oleh penggunaan pupuk kimia berlebihan, alih fungsi lahan, dan degradasi lingkungan. Produktivitas memang bisa digenjot dalam jangka pendek, tetapi sering mengorbankan keberlanjutan. Padahal, swasembada sejati bukan hanya soal panen tahun ini, melainkan kemampuan bertani dalam puluhan tahun ke depan.

Masalah regenerasi petani juga belum tertangani serius. Rata-rata usia petani terus menua, sementara minat generasi muda masih terbatas. Bukan semata karena mereka enggan bertani, tetapi karena sektor ini kerap dipersepsikan tidak menjanjikan secara ekonomi dan sosial. Target produksi akan sulit dicapai jika pelaku utamanya semakin sedikit.

Tentu saja, swasembada pangan tetap penting. Ketergantungan pada impor membuat sistem pangan nasional rentan terhadap gejolak global. Namun mengejar swasembada tanpa memperkuat fondasinya justru berisiko melahirkan kebijakan tambal sulam: mengejar produksi hari ini, menanggung masalah ekologis dan sosial di kemudian hari.

Sudah waktunya cara pandang diperluas. Swasembada tidak cukup diukur dari tonase dan angka statistik. Perlu berjalan seiring dengan pertanian yang menjaga lingkungan, petani yang sejahtera, dan sistem yang tahan terhadap krisis iklim. Tanpa itu, swasembada hanya akan menjadi slogan yang berulang setiap periode, bukan kenyataan yang berkelanjutan.

Pertanyaan terpentingnya bukan sekadar berapa banyak yang bisa kita produksi, melainkan seberapa lama kita bisa bertahan dengan cara bertani seperti sekarang. Di persimpangan itulah masa depan pertanian Indonesia sesungguhnya dipertaruhkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image