Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Patimah Anjelina - Dosen Faperta UNAND

Dari Keranjang Belanja ke Kebun: Rantai Tanggung Jawab yang Terputus

Gaya Hidup | 2026-03-02 21:38:25

Troli didorong pelan di lorong supermarket yang terang dan rapi. Rak-rak tertata sempurna. Buah-buahan mengilap tanpa noda, sirup dan kurma ditumpuk di bagian depan, minyak goreng dan gula diberi label promo khusus Ramadhan. Diskon besar terpampang di berbagai sudut. Semua terasa efisien, praktis, dan—yang paling penting—tersedia.

Di bulan Ramadhan, keranjang belanja sering terisi lebih penuh dari biasanya. Ada kebutuhan berbuka, sahur, hidangan keluarga, dan persiapan Lebaran. Aktivitas konsumsi meningkat, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana religius itu sendiri.

Di tangan konsumen, proses seolah telah selesai. Kita memilih, membayar, lalu pulang. Namun di kebun, di sawah, di ladang, segalanya baru saja dimulai.

Ada jarak panjang antara keranjang belanja dan tanah tempat benih ditanam. Jarak itu bukan hanya persoalan kilometer, melainkan juga persoalan kesadaran. Kita jarang tahu siapa yang menanam beras yang kita masak untuk sahur, di lahan seperti apa cabai itu tumbuh, atau berapa harga yang diterima petani dari setiap kilogram hasil panen yang permintaannya melonjak selama Ramadhan.

Modernitas telah membuat rantai pasok begitu efisien sehingga ia juga menjadi anonim. Kita menyaksikan kenaikan harga di kota, tetapi jarang menelusuri bagaimana fluktuasi itu dirasakan di tingkat produsen. Kita mengeluhkan mahalnya bahan pokok, namun jarang membayangkan risiko gagal panen yang dihadapi petani ketika cuaca tak menentu.

Ramadhan sejatinya adalah bulan pengendalian diri. Ia mengajarkan batas, kesadaran, dan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Namun dalam praktiknya, bulan ini juga kerap diiringi lonjakan konsumsi. Meja berbuka sering kali lebih berlimpah dari hari-hari biasa. Tak sedikit makanan yang akhirnya tersisa.

Di pasar modern, harga menjadi bahasa yang paling fasih. Murah dianggap kabar baik. Mahal dianggap masalah. Dalam suasana Ramadhan, sensitivitas terhadap harga semakin tinggi karena kebutuhan meningkat. Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: apa yang tersembunyi di balik harga yang terlalu murah?

Produksi pangan selalu mengandung biaya yang tidak seluruhnya tercetak di label. Tanah yang terus-menerus dipaksa berproduksi tanpa pemulihan memadai. Air yang tercemar limpasan pupuk dan pestisida. Tenaga kerja yang bekerja di bawah tekanan harga yang fluktuatif, terutama ketika permintaan musiman melonjak.

Ketika pasar menuntut ketersediaan melimpah dengan harga serendah mungkin, seseorang di hulu rantai produksi harus menyerap tekanan itu.

Kita ingin pasokan stabil selama Ramadhan. Kita ingin harga terjangkau. Kita ingin kualitas baik. Semua itu wajar. Namun produksi yang lebih bertanggung jawab—yang menjaga kesuburan tanah, mengelola limbah dengan benar, dan memberi ruang pendapatan layak bagi petani—tidak selalu bisa dicapai dengan logika harga paling murah.

Di sinilah rantai tanggung jawab terasa terputus. Konsumsi dan produksi diperlakukan sebagai dua wilayah terpisah. Yang satu berada di dapur dan ruang makan, yang lain di kebun dan ladang. Padahal keduanya terhubung dalam satu lingkaran yang sama.

Konsumsi yang bertanggung jawab bukan berarti setiap orang harus selalu membeli produk paling mahal atau bersertifikat tertentu. Ia juga bukan tentang kesempurnaan moral individu. Ramadhan justru mengajarkan keseimbangan—antara kebutuhan dan keinginan, antara cukup dan berlebih.

Dalam konteks itu, pertanyaan yang lebih mendasar bukan sekadar apa yang kita beli, melainkan bagaimana kita memaknai konsumsi itu sendiri. Apakah ia sekadar pemenuhan selera, atau juga bentuk dukungan terhadap cara produksi tertentu?

Setiap keputusan di rak toko mengirim sinyal ke pasar. Ketika kita secara konsisten memilih produk hanya berdasarkan harga terendah tanpa mempertimbangkan asal-usulnya, kita menguatkan sistem yang menekan biaya di hulu. Sebaliknya, ketika kita mulai peduli pada cara produk dihasilkan—meski dalam langkah kecil—kita sedang memperbaiki arah sinyal itu.

Ramadhan menyediakan ruang refleksi yang jarang kita miliki di bulan-bulan lain. Kita menahan lapar dan dahaga bukan karena kekurangan pangan, tetapi sebagai latihan kesadaran. Barangkali latihan yang sama dapat diperluas ke cara kita berbelanja: menahan dorongan membeli berlebih, mengurangi pemborosan, dan menghargai proses panjang di balik setiap bahan makanan.

Menghubungkan kembali keranjang belanja dengan kebun bukan berarti mempersulit kehidupan modern. Ia lebih merupakan upaya mengembalikan dimensi etis dalam aktivitas ekonomi sehari-hari. Bahwa antara dapur dan ladang terdapat hubungan yang tak terpisahkan, meski tak selalu terlihat.

Di bulan yang mengajarkan empati, kita diingatkan bahwa kesejahteraan tidak berhenti di meja makan. Ia juga menyangkut tangan-tangan yang menanam, memanen, dan mengolah. Jika produksi yang bertanggung jawab adalah tujuan, maka konsumsi yang lebih sadar adalah salah satu jalannya.

Di lorong supermarket yang terang itu, keranjang belanja tampak sederhana. Namun di baliknya ada tanah yang diolah, air yang digunakan, dan tenaga yang dikerahkan. Dari keranjang belanja ke kebun, rantai itu sesungguhnya tidak pernah benar-benar hilang. Hanya perhatian kitalah yang sering terlepas darinya.

Dan mungkin, di bulan Ramadhan ini, perhatian itu bisa kita temukan kembali.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image