Mengabaikan Nikmat Allah
Agama | 2026-02-27 05:07:10Mengabaikan Nikmat Allah
Dalam pandangan kami, mengabaikan nikmat Allah—termasuk melupakan atau mendustakan firman-Nya "Fa biayyi aalaa'i Rabbikumaa tukadzdzibaan" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ? ) adalah bentuk kufur nikmat yang serius, yang menunjukkan tipisnya muraqabah (merasa diawasi Allah) dan lemahnya ma'rifatullah (mengenal Allah).
Kami memandang bersyukur bukan sekedar mengucapkan alhamdulillah, melainkan mengakui di dalam hati bahwa segala kenikmatan murni berasal dari Allah (tauhid), menggunakannya untuk ketaatan, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat.
Berikut adalah jabaran lengkapnya:
Pandangan kami Terhadap Pengabaian NikmatKufur Nikmat adalah Penyakit Hati: Orang yang mengabaikan nikmat disebut kufur nikmat, yaitu menyembunyikan dan melupakan bahwa nikmat itu dari Allah.
Tanda Jauh dari Tuhan: Dalam perspektif kami, orang yang tidak bersyukur berarti sedang "buta" dari melihat jejak-jejak kasih sayang Allah (rahmah) dalam hidupnya, sehingga jiwanya kering dan jauh dari sifat ihsan.
Penyebab Azab (Siksa):
Mengabaikan nikmat Allah akan mendatangkan azab yang pedih, baik berupa hilangnya nikmat tersebut maupun tersiksanya hati dengan ketidakpuasan yang terus-menerus.
Kelalaian (Ghaflah):
Orang yang mengabaikan nikmat seringkali terjebak dalam hasad (dengki) atau selalu melihat ke atas (melihat apa yang belum dimiliki), sehingga kehilangan rasa syukur atas apa yang sudah ada.
Sumber Dalil dalam Al-Qur'anQS. Ar-Rahman (Ayat 13, dst):
"Fabiayyi aalaa'i Rabbikumaa tukadzdzibaan" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ? )
Tafsiran:
Ayat ini diulang 31 kali untuk menegaskan bahwa manusia sering melupakan nikmat Allah yang tak terhitung, padahal seluruh alam semesta adalah tanda kasih sayang-Nya.
QS. Ibrahim Ayat 7:
"Lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna 'adzabi lasyadid."
(Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih).
QS. An-Nahl Ayat 53:
"Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah..." (Menegaskan bahwa segala sesuatu bersumber dari-Nya).Hadis PendukungHadis tentang Kufur Nikmat:
"Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada Hari Kiamat..."
(Di antaranya adalah orang yang tidak bersyukur atas nikmat).
Hadis tentang Syukur kepada Manusia:
"Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia."
(Hadis Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi).
Maksiat dengan Nikmat:
Sufi mengingatkan bahwa menggunakan nikmat untuk maksiat adalah cara tercepat untuk menghilangkan nikmat dan mengundang murka Allah.
Dalil Muktabar dalam Diri, Keluarga, dan Lingkungan SosialDalam pandangan tasawuf, syukur harus diaplikasikan secara komprehensif:
Diri Sendiri (Hati & Jasmani):
Mengakui nikmat napas, kesehatan, dan iman (kesadaran diri).
Syukur hati adalah kesadaran akan kehadiran Allah, syukur lisan adalah memuji-Nya, dan syukur anggota badan adalah ketaatan.
Keluarga (Rumah Tangga):
Tidak kufur nikmat terhadap pasangan dan anak.
Menggunakan rezeki untuk menafkahi keluarga dengan cara yang halal dan mendidik mereka dengan nilai-nilai agama (tidak mengabaikan tanggung jawab).Lingkungan Sosial (Masyarakat):
Berbagi nikmat dengan sesama.
Bersedekah adalah bentuk nyata dari syukur atas kelimpahan rezeki.
Tidak pamer (riya) dan tidak mengungkit-ung.kit pemberian (mannan).
Kesimpulan Tasawuf:
Orang yang mengabaikan nikmat Allah dianggap orang yang "terhijab" (terha lang) dari mengenali Allah.
Penyembuhannya adalah dengan muhasabah (introspeksi) dan tafakur merenungkanbetapa besarnya kasih Allah dalam setiap hembusan napas.
Dengan kerendahan hati saling berbagi mudah mudahan dengan syafa'at dari Nabi Besar junjungan kita Muhammad SAW Tercinta Suri teladan kita sepanjang Zaman ada manfa'at nya buat kita saudara saudaraku.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
