Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Firdausi Ahla

Dentistry for Mental Health: Merawat Gigi Menjadi Bentuk Self-Care

Edukasi | 2025-12-02 23:41:17

Selama ini kesehatan gigi sering dipandang sebagai urusan teknis: menyikat gigi dua kali sehari, pergi ke dokter gigi jika sakit, atau melakukan scaling setiap enam bulan. Namun di balik rutinitas tersebut, terdapat aspek lain yang jarang dibahas, yakni hubungan antara kesehatan gigi dengan kesehatan mental. Banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan sederhana menjaga kebersihan mulut sebenarnya dapat menjadi bentuk self-care, regulasi emosi, dan bahkan cara untuk membangun kepercayaan diri.

Merawat gigi terlihat sangat biasa, tetapi justru di situ letak kekuatan psikologisnya. Menyikat gigi adalah salah satu aktivitas yang dilakukan di awal dan akhir hari, sehingga ia menjadi ritual pembuka dan penutup yang konsisten dalam kehidupan seseorang. Dalam psikologi perilaku, rutinitas kecil yang stabil dapat memberikan rasa kontrol, mengurangi kecemasan, dan menciptakan perasaan “aku masih mampu menjalani hari dengan baik.” Bagi banyak orang yang sedang stres atau berada dalam kondisi mental menurun, konsistensi seperti ini sangat penting. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami depresi atau burnout, salah satu perawatan diri yang pertama kali diabaikan adalah kebersihan mulut. Hal sederhana seperti tidak sempat menyikat gigi malam hari sering kali menjadi tanda awal terganggunya regulasi emosi.

Di sisi lain, kesehatan mulut yang baik juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri. Bukan hanya karena gigi yang bersih terlihat menarik ketika tersenyum, tetapi juga karena perasaan nyaman di mulut dapat membuat seseorang lebih bebas dalam berbicara, presentasi, berinteraksi sosial, atau sekadar menyapa orang lain. Dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja, kemampuan berkomunikasi memiliki pengaruh besar terhadap penilaian diri. Ada hubungan yang tidak terlihat antara kondisi gigi dengan cara seseorang memandang dirinya. Individu yang merasa mulutnya bersih cenderung memiliki citra diri yang lebih positif, dan hal itu berdampak pada perilaku sehari-hari.

Hubungan antara mental dan kesehatan gigi sebenarnya bersifat dua arah. Stres, kecemasan, atau gangguan tidur dapat memicu bruxism, yaitu kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur yang menyebabkan keausan gigi dan rasa nyeri pada rahang. Gangguan makan juga dapat mempengaruhi enamel karena paparan asam berulang. Obat antidepresan tertentu bisa menimbulkan efek mulut kering, yang pada akhirnya meningkatkan risiko karies. Sebaliknya, rasa sakit gigi kronis dapat menurunkan kualitas hidup, mengganggu tidur, dan memicu iritabilitas. Ketika rasa sakit ini berlangsung lama, seseorang dapat mengalami penurunan motivasi, gangguan konsentrasi, bahkan gejala mirip depresi. Dengan kata lain, kesehatan mulut dan kesehatan mental berada dalam lingkaran yang saling memengaruhi.

Menariknya, pengalaman berkunjung ke dokter gigi juga bisa dilihat dari sudut pandang kesehatan mental. Banyak klinik gigi modern yang mulai memikirkan desain ruang praktikk bukan hanya dari segi sterilisasi dan protokol klinis, tetapi juga suasana psikologis pasien. Pencahayaan lembut, aroma mint, musik pelan, hingga cara dokter menyapa pasien dapat menciptakan rasa aman. Setelah melakukan pembersihan karang gigi, misalnya, banyak orang mengaku merasa “lebih ringan” atau “lebih segar”, sesuatu yang bersifat mental dan emosional, bukan sekadar efek fisik. Momen ini sebenarnya bisa dianggap sebagai “reset kecil” terhadap stres yang menumpuk.

Paradigma baru yang bisa ditawarkan dalam edukasi kesehatan gigi adalah menggeser pesan dari “rawat gigi agar tidak sakit” menjadi “rawat gigi karena kamu berhak merasa nyaman.” Perawatan gigi dapat menjadi simbol penghargaan terhadap diri sendiri. Seseorang yang menyempatkan waktu untuk flossing di malam hari sedang mengatakan kepada dirinya, “aku peduli pada kesehatan dan kebahagiaanku.” Kebiasaan kecil itu dapat membangun disiplin, ketenangan, dan rasa percaya diri—hal yang juga menjadi tujuan banyak teknik self-care dalam psikologi.

Melihat hubungan yang menarik antara dua dunia ini, dokter gigi sebenarnya memiliki peran lebih luas dari sekadar klinisi. Mereka bisa menjadi pendamping perubahan perilaku, pengingat kebiasaan sehat, sampai pembimbing dalam membentuk rutinitas yang berdampak positif pada pikiran. Konsep seperti mindful brushing, edukasi tanpa ancaman, serta pendekatan empatik terhadap pasien bisa menjadi masa depan komunikasi dokter gigi. Pada akhirnya, gigi yang sehat memang penting, tetapi pengalaman merawat gigi secara sadar dan teratur dapat menjadi pintu kecil menuju kesehatan mental yang lebih baik.

Kesehatan gigi bukan hanya tentang terhindar dari rasa sakit, melainkan tentang membangun kualitas hidup. Senyum yang bersih, mulut yang segar, dan rasa nyaman ketika berbicara memberi efek ke tubuh yang jarang disadari: tubuh rileks, pikiran lebih ringan, dan hubungan sosial lebih baik. Di tengah berbagai tekanan hidup, mungkin sudah saatnya melihat perawatan gigi bukan sebagai kewajiban medis, tetapi sebagai salah satu cara paling sederhana untuk menjaga kewarasan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image