Fenomena Fatherless di Indonesia
Parenting | 2025-11-28 13:49:43
Apa itu Fatherless?
Fatherless adalah sebuah fenomena di mana seorang anak merasakan ketidakhadiran figur seorang ayah. Kondisi tersebut terjadi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran, peran aktif, atau keterlibatan ayah dalam kehidupannya baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Fenomena ini bukan hanya tentang ketiadaan figur ayah secara fisik atau raga, melainkan juga secara mental atau jiwa. Ketidakhadiran ayah tersebut bisa secara fisik karena perceraian, kematian, pekerja migran, dan penelantaran. Bisa juga secara emosional karena walaupun sang ayah hadir secara fisik tetapi tidak terlibat aktif dalam pengasuhan sang anak.
Jumlah Fatherless di Indonesia
Menurut data Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA, 2021) menyebutkan bahwa: “Indonesia termasuk negara dengan tingkat “Fatherless” tertinggi ke-3 di dunia, setelah Amerika Serikat dan Brasil. Sekitar 60–70% anak Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan aktif ayah.” Hal tersebut makin diperkuat dengan data jumlah fatherless di Indonesia yang dilansir dari Kompas yang mengolah data Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) Maret 2024, bahwa anak Indonesia yang fatherless ini setara 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia kurang dari 18 tahun. Dari 15,9 juta anak fatherless, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara itu, 11,5 juta anak lain tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari.
Dampak Buruk Fatherless Bagi Tumbuh Kembang Sang Anak
Fenomena ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Fatherless bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang sang anak. Dampak tersebut meliputi aspek psikologis hingga aspek sosial. Dampak ini tidak hanya berdampak sementara, tetapi juga berdampak hingga jangka panjang. Ketidakhadiran figur ayah dapat memengaruhi pembentukan rasa percaya diri, hingga kesulitan dalam membentuk identitas diri sang anak. Terdapat tiga proses utama pembelajaran dalam perjalanan tumbuh kembang seorang anak, yakni observasional, behavioral, dan kognitif. Ketiganya membutuhkan sosok kehadiran sang ayah sebagai role model dalam mendukung perkembangan emosional.
Selain itu, ketiadaan figur ayah secara emosional maupun fisik juga menyebabkan anak kehilangan sosok model perilaku utama baik dalam pengendalian diri, kedisiplinan, interaksi sosial, serta sikap bertanggung jawab. Fenomena ini juga berpengaruh pada prestasi akademik di mana anak menjadi kurang dukungan dan kontrol belajar, serta penurunan motivasi dan konsentrasi anak. Sang anak dapat berubah dalam aspek perilaku sosial dan disiplin sehingga munculah dari diri mereka kenakalan remaja, perilaku agresif, dan pelanggaran aturan sekolah.
Langkah Untuk Mengatasi Fatherless di Indonesia
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Indonesia diharapkan dapat berperan aktif dalam mengatasinya. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengadakan edukasi mengenai pendidikan pranikah pada calon pasangan agar mereka dapat siap menjalani tanggung jawab sebagai orang tua kelak. Selain pemerintah, perguruan tinggi juga dapat membantu dalam mengatasi hal ini. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran sosial dan kultural, termasuk tentang pentingnya peran ayah (fatherhood awareness). Fenomena ini tidak bisa diselesaikan hanya di level keluarga, perlunya intervensi pendidikan sehingga kampus adalah ruang paling potensial untuk menanamkan kesadaran ini sejak dini.
Pencegahan fatherless bukan hanya soal hadirnya sosok ayah secara fisik, melainkan juga tentang kehadiran emosional, spiritual, dan sosial ayah dalam keluarga. Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan keluarga untuk mencegah fenomena fatherless, yaitu:
- Menguatkan komitmen peran ayah sejak awal pernikahan
- Ayah harus hadir secara emosional, bukan hanya finansial
- Mengatur waktu dan prioritas keluarga, jadwalkan “Family Day”di mana semua anggota keluarga berkegiatan bersama tanpa gawai.
- Membangun literasi pengasuhan ayah (Fatherhood Literacy)
- Menjaga kualitas relasi suami istri
- Menanamkan nilai ayah sebagai teladan (Role Model)
- Melibatkan lingkungan dan komunitas
Fenomena Fatherless di Indonesia harus segera diatasi agar generasi muda Indonesia merasakan kehadiran figur atau sosok sang ayah dan dapat memiliki tumbuh kembang yang baik serta dapat menjadi pribadi yang berperilaku baik dan berprestasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
