Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image TAJUS SYAROFI

'Ancaman Sunyi' Kesehatan Mental Anak

Kolom | 2026-02-19 15:52:52
Foto: Ilustrasi stress atau depresi pada anak

Di balik optimisme menghadapi “Indonesia Emas 2045”, tersimpan cerita pilu yang menyesakkan hati kita sebagai bangsa. Tragedi bunuh diri yang menimpa YBS (10) –Siswa kelas IV SDN di Ngada Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi “alarm keras” bagi seluruh rakyat Indonesia tentang pentingnya kesehatan mental dan kualitas hidup anak.

Masa kanak-kanak yang seharusnya menjadi fase tumbuh kembang, kini justru menjadi generasi yang lelah sebelum waktunya. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) setidaknya ada dua puluh enam anak bunuh diri selama tahun 2025. Selain karena pengasuhan yang tidak memadai, tekanan ekonomi, kasus ini juga dipicu oleh perundungan “bullying”. KPAI juga mencatat bahwa perundungan di lingkungan sekolah menjadi faktor yang paling dominan.

World Health Organization (WHO) mengestimasi bahwa setiap satu kematian bunuh diri, setidaknya mempengaruhi dua puluh orang lainya untuk melakukan percobaan bunuh diri: kerentanan dilakukan oleh siswa perempuan sebesar 12,9 persen dan laki-laki 8,4 persen. United Nations Children’s Fund (UNICEF) mencatat sekitar 6,2 persen remaja usia 15 sampai 24 tahun di Indonesia pernah memiliki keinginan bunuh diri. Sementara kerentanan tinggi terhadap kesehatan mental menunjukan gejala depresi 6,5 persen pada anak-anak berusia 7 sampai 17 tahun.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam membangun lingkungan bagi anak-anak kita. Mereka seolah-olah dipaska oleh bisingnya dunia yang terlalu cepat bagi usianya dalam menghadapai realitas kehidupan yang keras. Profesor Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat, Sir Michael Marmot (1945) mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi menciptakan hierarki sosial yang tajam. Seorang anak dari status ekonomi rendah sering mengalami gangguan stres yang lebih tinggi akibat rasa rendah dan pengucilan sosial. Inilah pemicu awal terjadinya depresi pada mereka.

Menciptakan Psycological Safety

Dari kasus ini, kita memerlukan paradigma kolektif untuk mencari solusi sehingga tidak terjadi kasus yang sama di kemudian hari. Dari perspektif psikologi, kita tidak bisa hanya melihat kejadian tunggal, melainkan harus melihat realitas interaksi perkembangan anak di lingkunganya.

Teori Ekologi Sistem yang di cetuskan oleh Urie Bronfenbrenner (1917-2005) --seorang Psikolog ternama kelahiran Rusia, menjelaskan bahwa kesehatan mental anak bukan hanya masalah individu anak itu sendiri, melainkan cerminan dari kegagalan lapisan masyarakat di lingkunganya. Teori ini memberikan setidaknya tiga sistem yang membentuk kesehatan mental anak. Pertama mikrosistem. Ini merupakan lingkungan keluarga inti dan lapisan terdekat dengan anak. Sistem ini mencakup lingkungan di mana anak berinteraksi secara langsung dan intensif dalam kehidupan sehari-hari, jika anak mendapatkan dukungan dan kasih sayang di rumah, maka kesehatan mentalnya akan stabil.

Mikrosistem sering kali berhadapan dengan kondisi ekonomi keluarga. Kemiskinan ekstrem akan menciptakan stressor yang tinggi di lingkungan rumah. Hal ini dikarenakan komunikasi antara orang tua dan anak terabaikan karena fokus pada perbaikan ekonominya. Selain itu, ketidak harmonisan keluarga juga menjadi variabel penting –high alert. Jika anak terus menyaksikan perselisihan antara kedua orang tuanya, maka akan mengganggu perkembangan otak dan kestabilan emosinya.

Kedua, eksositem, kesehatan mental anak sering kali terganggu oleh tekanan luar seperti kebijakan sekolah, kurangnya dukungan sosial, dan bullying. Artinya, jika kebijakan sekolah masih sangat kaku terhadap urusan seragam sekolah, sepatu, buku, dan pena, maka bagi anak yang orang tuanya tidak mampu menjadi korban tekanan psikologis yang paling besar. Menurut Hope Theory C.R Snyder (1944-2006), harapan seseorang terdiri dari tekad dan jalan keluar. jika anak menggunakan jalan keluar tertutup, maka ia melihat jalan menuju cita-cita yang diharapkan terhambat oleh ketiadaan seragam dan buku. Ketika harapan tertutup dan tekad hancur, maka anak mengalami kondisi psikologis di mana ia tidak bisa mengontrol hidupnya.

Ketiga, makrosistem. Yaitu lapisan terluar yang terdiri dari ideologi, nilai-nilai budaya, hukum, adat, sistem sosial, dan kebijakan politik suatu Negara. Meskipun letaknya paling jauh dari jangkauan anak, sistem ini menjadi “cetak biru” yang memengaruhi sistem di bawahnya. Jika anak tinggal di lingkungan budaya masyarakat yang menganggap bahwa kemiskinan itu adalah aib, maka anak akan malu untuk mencari bantuan atau bercerita kepada orang lain tentang masalahnya.

Bronfenbrenner menjelaskan bahwa kesehatan mental anak adalah produk dari lingkungan keluarga dan masyarakatnya, sehingga kebijakan politik harus menjadi solusi hulu untuk memperbaiki kondisi sistem di bawahnya.

Lalu, Apa Pelajaran yang Dapat Kita Ambil.

Tragedi ini mengingatkan kita semua bahwa kesehatan mental anak jauh lebih berharga dari pencapaian apapun. Kita harus membangun budaya kesadaran dari lapisan terdekat anak. Memberikan motivasi, menanyakan kabar di sekolah dan lingkungan bermainya, serta benar-benar setia menunggu jawabannya dengan hati yang terbuka.

Kesadaran ini harus betul-betul ditanamkan pada setiap masyarakat terutama di lingkungan pendidikan. Pendidikan bukan sekedar soal seragam, alat tulis, pelajaran, dan prestasi seorang anak. Lebih dari itu, ia harus memberikan dukungan psikologis dan konseling terutama kepada anak-anak yang membutuhkan. Mendengar dengan aktif secara langsung dan terbuka, hindari pernyataan yang memojokkan, dan ciptakan suasana nyaman supaya anak lebih terbuka.

Konseling yang efektif adalah tentang memberikan kehadiran, bukan sekedar solusi instan. Seorang anak yang ingin menyerah dan tidak bisa mengontrol emosinya sering kali lebih butuh satu orang yang benar-benar mendengar mereka tanpa menghakiminya. Carl Rogers (1902-1987) Psikolog asal Amerika dalam teori Person Centered Therapy, mengatakan bahwa pendekatan humanistik dan revolusioner sangat efektif untuk membantu mengembalikan kesehatan mental anak. Teori ini menekankan bahwa setiap individu memliki kecenderungan untuk tumbuh dan mengaktualisasi diri mencapai potensi penuhnya –asalkan berada di lingkungan yang tepat.

Dalam perspektif Rogers, Lembaga pendidikan harus menjadi “growth-promoting-climate” yaitu iklim yang mendukung petumbuhan anak didiknya. Artinya, Jangan jadikan harga diri anak hanya ditentukan oleh angka di atas kertas ujian, keberadaan buku di atas meja, dan tertibnya administrasi pembiayaan pendidikanya.

Membangun kesehatan mental anak adalah investasi jangka panjang. Ia bukan sekedar harus “bebas dari gangguan mental”, melainkan fondasi utama yang menentukan kualitas hidup mereka saat dewasa nanti. Jika kita melihat kesehatan mental sebagai investasi, maka setiap dukungan yang kita berikan hari ini adalah modal utama yang akan memberikan keuntungan di masa depan –baik untuk keluarga, lingkungan maupun Negaranya.

Negara harus hadir dan mendengar teriakan sunyi anak-anaknya di seluruh pelosok negeri. Hal ini sangat krusial, karena tersmasuk dalam kategori krisis kesehatan masyarakat di tengah realitas ekonomi yang timpang. Kehadiranya juga harus bersifat sistemik, mencakup efektivitas perlindungan, pencegahan, regulasi pendidikan, dan penyediaan fasilitas kesehatan dan konseling yang terbaik. Ini merupakan amanat konstitusi yang wajib “mutlak” dijalankan oleh penyelenggara Negara di semua tingkatan --sesuai dengan UUD 1945 tentang perlindungan hak hidup setiap orang.

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Jakarta

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image