Belajar Menjadi Pemimpin, Ibrah dari Peristiwa Penempatan Kembali Hajar al Aswad

Image
Ade Sudaryat
Agama | Thursday, 12 May 2022, 01:33 WIB

“Kita lebih baik kehilangan nyawa daripada kehilangan wibawa. Kita adalah orang-orang yang layak menempatkan kembali hajar al aswad di ka’bah yang mulia ini.” Kata pemimpin kabilah Bani Abdu al Dar.

Peristiwa tersebut terjadi sesaat usai renovasi bangunan ka’bah. Padahal, sebelum melaksanakan renovasi bangunan suci tersebut mereka telah mendeklarasikan perdamaian, keamanan, dan ketertiban. Mereka sepakat untuk melaksanakan pembangunan ka’bah tanpa pertikaian.

“Ini adalah bangunan suci. Apapun yang dilakukan terhadap bangunan ini haruslah dengan niat dan perbuatan yang suci. Kita tak boleh menggunakan uang dari hasil mencuri, prostitusi, riba, dan penindasan terhadap hak azasi manusia. Kita juga tak boleh berbuat onar selama merenovasi bangunan suci ini. Tidak boleh ada perselisihan dan perdebatan yang mengakibatkan keluarnya kata-kata kotor, saling mengancam, apalagi sampai terjadi adu fisik.” Demikian kesepakatan semua kabilah yang ada di Quraisy.

Masing-masing kabilah mendapatkan kehormatan mengerjakan bagian dari bangunan suci tersebut. Tak ada perselisihan diantara mereka. Persoalan muncul tatkala akan mengembalikan hajar al aswad ke tempatnya semula. Mereka meyakini, siapapun yang mampu menempatkan batu yang berasal dari sorga tersebut ke tempatnya semula berhak mendapat kemuliaan dan berbagai penghargaan dari seluruh penduduk Makkah.

Masing-masing kabilah mengklaim dirinya sebagai kelompok yang paling berhak menempatkan kembali batu yang dimuliakan tersebut. Perselisihan pun tak terelakan. Deklarasi damai, tenang, dan tertib pun mereka lupakan.

Untunglah, seorang sesepuh yang disegani, Abu Umayyah bin al Mughirah al Makhzummy melerai perselisihan tersebut. “Ingatlah, kepada kesepakatan awal ketika kita merenovasi ka’bah ini! Mengapa sekarang kalian nodai dengan perselisihan. Kembalilah kepada niat suci kalian!”

Merekapun kembali sadar dan melakukan musyawarah. Meskipun berjalan alot, mereka menyepakati, penempatan kembali hajar al aswad akan diserahkan kepada orang yang pertama masuk ka’bah melalui pintu Shafa di pagi hari.”

Masing-masing kabilah menempatkan orang kepercayaannya untuk mengawasi orang yang pertama kali masuk ka’bah dari pintu Shafa di pagi hari. Setelah semua utusan melakukan pengawasan, mereka sangat bergembira ketika mengetahui orang yang pertama masuk ka’bah dari pintu Shafa itu adalah Al Amin. Dialah Muhammad sang Calon Nabi yang waktu itu berumur 35 tahun.

Singkat cerita, setelah mengetahui persoalannya, Muhammad Sang Calon Nabi berkata, “Apakah kalian akan menerima semua keputusanku?”

“Apapun keputusanmu, kami akan menerimanya, sebab kami yakin Anda akan jujur dan adil.” Kata mereka.

Kemudian, ia melepas kain serban, dan dihamparkannya di atas tanah. Ia mengambil hajar al aswad dan meletakkannya di atas hamparan serban. Masing-masing pemimpin dari empat kabilah yang berselisih disuruh memegang satu sudut serban.

Kemudian, ia menyuruh mereka mangangkat serban tersebut. Sesaat kemudian, ia mengembalikan hajar al aswad ke tempatnya semula. “Hajar al aswad telah dikembalikan ke tempatnya semula. Sekarang, masing-masing dari kalian memiliki jasa dalam merenovasi bangunan suci dan menempatkan batu yang mulia ini. Jangan lagi ada lagi perselisihan diantara kalian!”

Itulah kecerdasan Muhammad Al-Amin dalam memecahkan masalah pelik sebelum ia diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Ia merupakan sosok piawai yang selain jujur, juga menjadi sosok yang dapat merangkul semua kalangan.

Secara sunatullah, Rasulullah saw sudah diberi bekal sifat kenabian, yakni fathanah (cerdas). Dari sudut pandang dunia pendidikan modern, kecerdasan Rasulullah saw dalam memecahkan masalah tergolong kepada kecerdasan interpersonal (Thomas Amstrong, Multiple Intelligences in the Classroom, 3rd edition, 2009 : 11).

Salah satu komponen dari kecerdasan interpersonal adalah kemampuan mencerna dan merespons secara cepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan keinginan orang lain. Menurut Thomas Amstrong, kebanyakan pemimpin yang bijak memiliki tingkat kecerdasan interpersonal. Terlebih-lebih kecerdasan yang dimiliki Rasulullah saw yang kecerdasannya secara langsung dibimbing Allah melalui Malaikat Jibril a.s.

Dari sudut pandang leadership, apa yang dilakukan Rasulullah saw sebelum menjadi Nabi dan Rasul merupakan sifat dan perilaku yang harus dimiliki para pemimpin. Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan dan kemampuan merangkul semua kalangan; mampu meredam gejolak pertikaian; dan mampu memecahkan masalah rumit yang tengah dihadapi diri sendiri dan orang lain.

Di negara kita, sejak era reformasi digulirkan, hampir di semua kalangan tumbuh keinginan untuk menjadi seorang pemimpin, baik menjadi pemimpin formal maupun nonformal. Terlebih-lebih untuk menjadi pemimpin formal, sejak digulirkannya pemilihan pimpinan daerah secara langsung minat orang-orang untuk menduduki jabatan tersebut semakin meningkat. Mereka berlomba-lomba mendaftarkan diri sebagai calon pemimpin.

Di atas kertas, semua orang yang mencalonkan diri menjadi pemimpin entah itu calon wali kota, calon bupati, calon gubernur, bahkan calon presiden memiliki tekad yang baik untuk sama-sama membangun dan memajukan negeri ini. Ketika akan dimulai “genderang perang program” melalui kampanyeu, para calon pemimpin beserta tim suksesnya sepakat mendeklarasikan kampanyeu aman, damai, dan siap saling menghargai.

Namun di tengah perjalanan, janji aman, damai, siap kalah dan menang tersebut terkadang terhapus gejolak ambisi siap menang saja dan tak siap kalah. Bukan rahasia lagi, saling klaim sebagai pemenang, pertikaian, perselisihan, saling ejek, saling tuduh berbuat curang, dan saling gugat ke pengadilan sering terjadi.

Apabila kita kembali kepada kisah pada awal tulisan ini, kiranya semua kalangan merindukan sosok seorang “Muhammad Al-Amin”. Para calon pemimpin harus benar-benar menjaga kesucian tekad dan niatnya. Siapapun pemimpin yang nantinya terpilih selayaknya mampu merangkul semua pihak seperti ketika Muhammad Al-Amin diminta menempatkan kembali hajar al aswad.

Jika Pilkada sampai Pilpres memiliki satu tujuan yang sama yakni menyejahterakan rakyat, membangun manusia seutuhnya sebagaimana diamanatkan UUD 1945, maka selayaknya masing-masing komponen bangsa ini dibawah sosok pemimpin pilihan rakyat mampu menempatkan dirinya masing-masing sesuai dengan kompetensinya untuk ikut memegang salah satu sudut dari “serban” pembangunan bangsa ini, dan tak perlu saling mengklaim sebagi pihak yang berjasa.

Semua kalangan selayaknya berusaha ikut mengantarkan rakyat negeri ini menjadi manusia-manusia cerdas, beriman dan bertaqwa, sejahtera, dibawah naungan keamanan dan keadilan hukum menuju rida Allah.

Ilustrasi : Pemeliharaan Hajar al Aswad (sumber gambar :https://republika.co.id)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Beriman Kepada Hari Kebangkitan (Yaumul Bats)

Image

Mushola dan Air Bersih untuk Pengungsi Cianjur

Image

Rekomendasi Restoran Ikan Bakar di Kota Malang, Telap88

Image

Peduli Gempa Cianjur, APPGINDO Bantu Warga Kampung Ciseupan

Image

Wisudawan Hafidz Quran 30 Juz UM Metro Terima Hadiah Umroh ke Baitullah

Image

Tanamkan Peduli pada Bumi Murid Lab School PAUD Ikuti Penanaman Sepuluh Juta Pohon

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image