Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi
Agama | 2026-09-21 10:49:25
Dua peristiwa memilukan terjadi dalam kurun waktu berdekatan. Pada Rabu (16/9/2026), seorang mahasiswa PENS di Surabaya berinisial RPA (20) diduga meninggal dunia dengan gantung diri di kosnya. Seminggu sebelumnya, Kamis (10/9/2026), seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus.
Kedua kasus ini terjadi selang satu minggu. Data dari hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id menunjukkan bahwa kliennya didominasi kelompok usia 21–30 tahun. Rentang usia ini tergolong produktif dan semestinya penuh harapan. Namun, justru menjadi kelompok paling rentan mengalami krisis kesehatan mental.
Sistem yang Melahirkan Kerapuhan
Fenomena ini terjadi di keseharian kita. Dialami oleh generasi muda yang masa depannya masih panjang, tetapi mereka dengan sadar memilih untuk mengakhiri hidupnya. Seolah persoalan selesai saat hidupnya berakhir, padahal kehidupan kekal baru dimulai saat ia menekan tombol off.
Kelak, seorang diri dia akan mempertanggungjawabkan segenap perbuatannya. Tidak ada amal perbuatan yang luput dari kalkulasi Allah Azza wa Jalla. Namun sayangnya, pertimbangan ini hilang saat ia memutuskan berbuat sesuatu yang dilarang Allah. Pertanyaannya adalah mengapa fakta ini makin sering terjadi?
Di luar persoalan individu baik masalah perkuliahan, keluarga, atau pun ekonomi, sebenarnya ada persoalan yang jauh lebih mencengkeram, yaitu problem sistem kehidupan yang melingkupi kita hari ini. Faktor sistemis berupa sekularisme dan kapitalisme punya andil besar yang memperberat kerentanan tersebut. Sistem inilah yang mencabut pegangan spiritual remaja sekaligus melemahkan jejaring sosial yang semestinya menjadi penopang saat individu menghadapi tekanan hidup.
Sekularisme berasaskan pemisahan agama agama dari kehidupan sehari-hari. Agama hanya boleh dibahas di ruang-ruang pribadi dan ibadah. Dalam urusan keseharian, agama tidak boleh ikut campur. Kondisi ini otomatis mencabut akidah sebagai pijakan generasi muda. Ketika keimanan tidak lagi menjadi rujukan dalam memaknai kesulitan hidup, setiap ujian terasa berat ditanggung sendirian, dan keputusasaan menjadi jalan yang tampak "masuk akal".
Di sisi lain, Kapitalisme membentuk masyarakat yang individualistis. Budaya positivisness dan obsesi terhadap kesuksesan pribadi mendorong setiap orang berjuang sendiri-sendiri tanpa ikatan sosial yang kokoh. Akibatnya, kesepian merajalela, bahkan pada mereka yang secara materi tampak berkecukupan.
Kedua kondisi ini merupakan buah dari penerapan sistem Sekularisme-Kapitalisme. Sistem ini membentuk pendidikan sekuler dan ekonomi kapitalistik sekaligus. Dua pilar yang menciptakan individu rapuh dan masyarakat yang saling asing satu sama lain.
Islam Menawarkan Solusi Mendasar
Sebaliknya Islam menjadikan akidah sebagai asas sekaligus benteng jiwa sejak dini. Keyakinan bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah, dan bahwa mengakhiri hidup adalah perbuatan haram, menjadi penahan terkuat bagi seorang Muslim dari jurang keputusasaan.
Islam sangat menjaga jiwa manusia. Larangan Allah tegas. Tidak boleh bunuh diri dan menghilangkan jiwa seseorang. "Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’: 29)
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu alasan yang benar.” (QS. Al-Isra’: 33)
Dalam sistem Islam, penguasa adalah pengurus urusan rakyatnya. Dia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusannya tersebut. “Seorang pemimpin adalah penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang digembalakannya.” (HR. Bukhari)
Lebih dari itu, Islam merajut ikatan kuat antara individu, keluarga, dan masyarakat berlandaskan akidah yang sama. Dalam bingkai ini, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya seorang diri.
Penerapan sistem Islam secara Kaffah oleh negara melalui pendidikan berbasis akidah dan sistem ekonomi yang menjamin kesejahteraan per individu, akan melahirkan individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, alih-alih generasi yang kesepian di tengah keramaian.[]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
