Homesick: Tantangan Kesehatan Mental Mahasiswa Baru di Perantauan
Curhat | 2026-10-18 20:47:30Suasana rumah yang biasanya hangat, kini berubah menjadi kamar kos yang sepi. Segala hal dilakukan sendirian membuat rindu rumah semakin terasa. Setiap hari muncul pertanyaan yang hampir tak pernah terucap di rumah: “Makan apa ya hari ini?”. Pertanyaan yang sederhana, namun bagi anak rantau, itulah yang membuat semakin rindu.
Mungkin kesibukan kuliah membuat kita lupa akan kerinduan itu, tetapi ketika kesibukan itu berlalu, rasa sedih itu pun muncul. Dalam persoalan ini, rindu rumah adalah hal yang sangat wajar terjadi pada mahasiswa rantau dan biasa terjadi pada mahasiswa baru.
Umumnya mahasiswa baru masih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, baik itu lingkungan pertemanan maupun sistem perkuliahan yang jauh berbeda dengan SMA. Rasa rindu tidak boleh dibiarkan begitu saja hingga mengganggu motivasi kuliah atau bahkan bisa kemungkinan mengganggu kesehatan mental mahasiswa. Jika sampai mengganggu kedua hal tersebut, ini justru dapat menimbulkan permasalahan baru seperti turunnya motivasi belajar dan stress.
Perlu adanya sikap penanganan yang baik dari diri sendiri dan lingkungan yang mendukung. Terlepas dari hal yang wajar, perasaan homesick yang berkepanjangan dapat menimbulkan dampak yang buruk pada seseorang. Sejumlah riset psikolog yang dilakukan oleh Christopher Thurber dan Edward Walton dalam Jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa Homesickness bahkan dapat berdampak pada fungsi sosial, somatik, emosional, kognitif, serta perasaan cemas hingga depresi. Bila homesickness tidak ditangani dengan benar, maka akan memicu munculnya akibat yang meluas pada kehidupan mahasiswa tahun awal.
Tingkatan tekanan pikiran yang besar akibat homesickness bisa merangsang keletihan mental yang sungguh-sungguh. Mahasiswa rantau bisa jadi merasa terbebani dengan tanggung jawab akademik yang bertambah serta tekanan buat berprestasi. Keadaan ini diperburuk oleh perasaan rindu oleh dukungan emosional dari keluarga serta sahabat dekat, yang bisa membuat mereka merasa lebih terbebani serta kewalahan.
Permasalahan ini sudah sering terjadi di Indonesia. Sebuah penelitian di e-journal Intelektika: Jurnal Ilmiah Mahasiswa oleh Sri Suryani Mimah dan Oktaviani Adhi Suciptaningsih (2024) di Universitas Negeri Malang menemukan bahwa beberapa mahasiswa baru mengalami homesick karena berbagai alasan. Sahabat lama dan rasa rindu akan rumah merupakan faktor utama. Merindukan rumah tidak berarti merindukan strukturnya, tetapi merindukan mereka yang tinggal di dalamnya.
Dengan dukungan keluarga, hari akan lebih baik. Itu juga berlaku untuk kehilangan teman-teman yang dekat. Menghabiskan waktu bersama, baik di sekolah maupun di luar sekolah, menjadi sangat dirindukan karena saat kita masuk ke dunia perkuliahan kita harus memulai dari awal. Ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah ini. Untuk mengatasinya, kita dapat memulai dengan diri sendiri dan lingkungan terdekat:Menerima perasaan: Belajarlah mengendalikannya dari dalam.
Kuatkan semangat dasar dan tujuan awal perantauannya.Jangan menutup diri: Cari setidaknya satu teman yang dapat dipercayai dan di mana kita dapat berkeluh kesah tentang masalah yang kita alami maupun saling bertukar cerita tentang hal lain. Karena kita akan lebih tertekan jika kita hanya memendam.
Waktu luang harus dipenuhi dengan kegiatan yang menyenangkan dan menguntungkan. Namun, perlu diingat bahwa kegiatan tersebut ditujukan untuk menghindari menjadikan kesibukan sebagai sumber stres tambahan.Jaga hubungan dengan keluarga: Selain memperluas hubungan pertemanan, penting juga untuk mempertahankan hubungan keluarga dan rajin berkomunikasi melalui telepon atau chat.
Saling merangkul dan peduli: Jika teman kita sendirian dan jauh dari keluarga, rangkul dia, dengarkan dia, dan berikan dukungan positif. Kematangan serta kesiapan secara mental mahasiswa baru pula telah wajib dibangun semenjak dini. Dalam riset oleh Kamilah dkk.(2024) di Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa menampilkan hasil riset yang dicoba di Kota Malang bahwa kematangan emosi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap homesickness yang dirasakan mahasiswa rantau tahun awal.
Bila kematangan emosinya besar, maka homesickness yang dialami akan rendah. Kebalikannya, bila kematangan emosinya rendah, maka homesickness yang dialami akan besar. Oleh sebab itu, berarti untuk mahasiswa buat belajar mengendalikan perasaan dirinya supaya tidak jadi sesuatu penghambat.
Kehidupan di perantauan tidak sepatutnya diisi oleh kesedihan yang berlarut-larut. Kita seharusnya bisa menciptakan rasa aman itu sendiri bersamaan berjalannya waktu. Rindu rumah bukan sesuatu perihal yang wajib dihilangkan, tetapi ialah suatu fakta kalau kita memiliki tempat pulang yang berharga. Tugas kita bukan buat menghilangkannya, namun malah mengelola perasaan itu supaya tidak mengusik keberlangsungan hidup di perantauan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
