Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ummu Zidan

Rakyat Membutuhkan Layanan Kesehatan Terbaik

Curhat | 2026-08-17 08:36:31

Kondisi sakit yang dialami seseorang pasti menjadi beban yang cukup berat. Ketika seseorang datang ke rumah sakit, yang ia harapkan adalah pertolongan. Namun mirisnya ada pasien yang harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan kamar, sementara keluhannya justru mendapat komentar yang tidak pantas, bahkan dari tenaga kesehatan sendiri.

Yurizal adalah pasien BPJS yang mengungkapkan pengalamannya melalui Threads. Ia mengaku harus menunggu sekitar delapan jam di IGD RSCM sebelum memperoleh ruang rawat inap. Unggahan itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.

Kondisi tersebut memang tidak bisa dilepaskan dari keterbatasan kapasitas rumah sakit. RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional menghadapi keterbatasan kamar.

Namun persoalan ini berbuntut panjang ketika Kementerian Kesehatan turut menelusuri komentar di media sosial yang dianggap tidak berempati kepada pasien BPJS.

Dari sini, ada dua persoalan yang berbeda tetapi saling berkaitan. Pertama, persoalan pelayanan kesehatan yang belum mampu memberikan akses secara cepat dan layak. Kedua, persoalan sikap sebagian tenaga kesehatan ketika menghadapi keluhan pasien.

Seorang pasien memang bisa saja menyampaikan keluhan dengan cara yang kurang tepat. Namun, hal itu tidak menjadi alasan untuk merendahkan atau mencibirnya. Apalagi jika respons tersebut datang dari orang yang bekerja di bidang kesehatan. Mereka seharusnya memahami bahwa orang yang datang ke rumah sakit berada dalam kondisi lemah, cemas, bahkan mungkin sedang menghadapi keadaan yang mengancam keselamatannya.

Dalam Islam, kemampuan profesional saja tidak cukup. Seorang Muslim juga membutuhkan syakhsiyah Islamiyah, yaitu kepribadian yang dibentuk oleh pemikiran dan sikap yang bersumber dari Islam. Sikap menyayangi, membantu, menghormati dan menjaga perasaan orang lain seharusnya tidak hanya menjadi teori, tetapi terlihat dalam perilaku sehari-hari.

Karena itu, kalau memang ada tenaga kesehatan yang mencibir pasien, pemberian sanksi tentu diperlukan. Tetapi persoalannya tidak selesai hanya dengan menghukum orang yang bersangkutan. Kita juga perlu memperbaiki proses pembentukan manusia yang bekerja dalam pelayanan kesehatan.

Selama pendidikan lebih banyak mengejar nilai, gelar, kompetensi dan keterampilan, sementara pembentukan kepribadian kurang diperhatikan, tidak mengherankan jika seseorang bisa sangat ahli dalam pekerjaannya tetapi kurang memiliki kepedulian terhadap orang yang dilayaninya.

Persoalan berikutnya adalah tentang bagaimana negara mengatur pelayanan kesehatan. Rumah sakit tentu memiliki keterbatasan. Jumlah kamar, tenaga medis, fasilitas, dan sumber daya lainnya tidak selalu mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasien. Karena itu, persoalan kesehatan tidak bisa dibebankan kepada rumah sakit semata.

Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Jangan sampai orang yang sedang sakit masih harus memikirkan apakah dirinya mampu mendapatkan pelayanan atau tidak.

Dalam Islam, kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang wajib diperhatikan negara. Negara berfungsi sebagai ra'in, yaitu pengurus dan pelindung rakyat. Pembiayaan kesehatan dapat ditanggung melalui Baitul Mal, termasuk dari pengelolaan harta milik umum yang memang diperuntukkan bagi kemaslahatan rakyat.

Peradaban Islam juga memiliki sejarah panjang dalam pelayanan kesehatan. Rumah sakit dalam masa kejayaan Islam tidak hanya digunakan sebagai tempat mengobati orang sakit, tetapi juga menjadi tempat pendidikan dan pengembangan ilmu kedokteran. Wakaf pun banyak dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.

Artinya, Islam tidak hanya mengatur tentang bagaimana seorang dokter atau perawat harus bersikap kepada pasien. Islam juga memberikan pandangan tentang bagaimana kebutuhan kesehatan masyarakat seharusnya diurus.

Karena itu, pelayanan kesehatan yang baik tidak cukup hanya dengan rumah sakit yang memiliki tenaga ahli dan peralatan lengkap. Dibutuhkan pula tenaga kesehatan yang memiliki akhlak dan kepedulian, serta sistem yang menjadikan kesehatan rakyat sebagai tanggung jawab negara, bukan sekadar urusan pelayanan dan kemampuan membayar. Wallahu a'lam bish-shawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image