Ketika Cinta Berhadapan dengan Ketidakpastian Ekonomi
Rubrik | 2026-09-30 18:48:19Pernikahan sering kali dibayangkan sebagai keputusan yang lahir dari cinta. Dua orang bertemu, merasa cocok, kemudian memutuskan membangun kehidupan bersama. Namun, bagi banyak anak muda hari ini, pertanyaan tentang pernikahan tampaknya tidak berhenti pada soal “apakah kami saling mencintai?". Ada pertanyaan lain yang semakin menentukan: apakah kami sudah siap secara ekonomi?, Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan perubahan sosial yang lebih dalam. Pekerjaan yang belum stabil, kebutuhan memiliki tempat tinggal, biaya hidup, tabungan, hingga rencana memiliki anak menjadi bagian dari perhitungan sebelum seseorang memutuskan menikah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa pada 2024, 54,66 persen pemuda berusia 25–30 tahun di Indonesia berstatus belum kawin, sedangkan 42,73 persen berstatus kawin. Angka ini tidak berarti bahwa seluruh pemuda menunda pernikahan karena alasan ekonomi. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa status belum kawin merupakan kondisi yang sangat signifikan pada kelompok usia yang secara sosial selama ini sering dianggap sebagai usia membangun keluarga.
Temuan tersebut menarik karena membongkar anggapan sederhana bahwa kondisi ekonomi yang lebih baik otomatis membuat seseorang lebih cepat menikah. Kenyataannya lebih kompleks. Ekonomi bukan hanya menentukan kemampuan seseorang untuk menikah, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang mendefinisikan kapan dirinya dianggap “siap” untuk menikah.
Dari “Sudah Waktunya” Menjadi “Sudah Siapkah?”
Dalam masyarakat yang lebih tradisional, keputusan menikah relatif kuat dipengaruhi oleh norma sosial, keluarga, agama, usia, dan kewajiban sosial. Ketika seseorang telah mencapai usia tertentu dan memiliki pasangan, pertanyaan yang muncul biasanya sederhana: kapan menikah?
Modernitas mengubah cara hubungan intim dijalani. Anthony Giddens dalam The Transformation of Intimacy menjelaskan transformasi keintiman sebagai bagian dari perubahan masyarakat modern. Hubungan personal semakin menjadi sesuatu yang harus dinegosiasikan, dibangun, dan direfleksikan oleh individu. Sesuatu yang dahulu dapat diterima sebagai aturan sosial yang relatif tetap menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan secara personal.
Dalam konteks pernikahan, perubahan tersebut menghasilkan konsekuensi penting. Menikah bukan lagi sekadar mengikuti tahapan kehidupan yang sudah ditentukan masyarakat. Individu semakin dituntut untuk memastikan bahwa keputusan tersebut sesuai dengan tujuan hidup, kondisi emosional, pekerjaan, serta rencana masa depan.
Karena itu, definisi “siap menikah” menjadi semakin kompleks, Seseorang mungkin sudah memiliki pasangan yang dianggap tepat, tetapi belum merasa siap karena pekerjaan belum stabil. Orang lain mungkin telah memiliki pekerjaan, tetapi belum memiliki tabungan. Ada pula yang telah memiliki pendapatan memadai, tetapi belum mempunyai tempat tinggal atau belum yakin mampu membiayai kehidupan anak.
Pernikahan kemudian berubah dari sekadar keputusan mengenai pasangan menjadi keputusan mengenai kehidupan seperti apa yang ingin dibangun bersama pasangan. Di titik inilah ekonomi memasuki ruang yang selama ini dianggap sangat personal: cinta dan hubungan intim.
Ketika Ekonomi Masuk ke Dalam Keputusan Personal
Pada masa lalu, ukuran kesiapan mungkin lebih sederhana: usia, status pekerjaan, dan restu keluarga. Sekarang, standar tersebut dapat menjadi jauh lebih kompleks. Seseorang yang telah memiliki pasangan belum tentu merasa siap menikah. Ia mungkin masih mempertimbangkan karier, pendapatan, tempat tinggal, pendidikan, hubungan dengan keluarga pasangan, pembagian kerja domestik, hingga rencana memiliki anak. Kesiapan akhirnya tidak lagi hanya menjadi persoalan usia, tetapi menjadi proses evaluasi terhadap masa depan.
Di titik inilah kondisi ekonomi menjadi relevan, Penting untuk diingat, bahwa Data BPS tidak menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan penyebab tunggal seseorang menunda pernikahan. Keputusan menikah dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pendidikan, nilai pribadi, keluarga, agama, relasi dengan pasangan, dan kondisi sosial. Namun, kehidupan ekonomi tetap menjadi bagian dari realitas yang harus dipertimbangkan ketika seseorang membayangkan kehidupan setelah menikah.
Data BPS mengenai upah menunjukkan bahwa pada 2024 rata-rata upah per jam pekerja laki-laki sebesar Rp19.787, sedangkan pekerja perempuan sebesar Rp17.457. BPS juga menunjukkan adanya perbedaan upah berdasarkan tingkat pendidikan. Perbedaan tersebut menggambarkan bahwa posisi individu di pasar kerja tidak seragam. Artinya, dua orang yang sama-sama berusia 28 tahun dan sama-sama memiliki keinginan menikah belum tentu menghadapi kondisi yang sama.
Satu pasangan mungkin memiliki pekerjaan relatif stabil dan dukungan keluarga. Pasangan lain mungkin masih menghadapi pendapatan yang terbatas atau pekerjaan yang belum memberikan kepastian jangka panjang. Kondisi tersebut kemudian melahirkan pertanyaan - pertanyaan mengenai masa depan seperti:
“Setelah menikah kita tinggal di mana?”, “Bagaimana membayar kebutuhan sehari-hari?”, “Kalau nanti punya anak, bagaimana biaya pendidikannya?”, “Bagaimana kalau salah satu kehilangan pekerjaan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti cinta telah berubah menjadi perhitungan ekonomi. Sebaliknya, pertanyaan itu menunjukkan bahwa hubungan intim semakin ditempatkan dalam kerangka kehidupan yang direncanakan secara sadar.
Kebebasan Memilih dan Beban untuk Memilih
Di sinilah terdapat paradoks dalam kehidupan modern, Masyarakat semakin memberikan individu kebebasan untuk menentukan kapan menikah dan dengan siapa mereka ingin membangun keluarga. Tetapi kebebasan tersebut juga membawa tuntutan untuk mempertanggungjawabkan pilihan.
Jika seseorang menikah terlalu cepat dan kemudian menghadapi persoalan ekonomi atau ketidakcocokan hubungan, keputusan tersebut dapat dipertanyakan. Sebaliknya, jika seseorang menunda pernikahan, ia juga dapat menghadapi pertanyaan sosial:
“Kenapa belum menikah?”
Dengan kata lain, individu berada di antara dua tekanan, di satu sisi terdapat norma sosial yang masih menganggap pernikahan sebagai bagian penting dari kehidupan orang dewasa. Di sisi lain terdapat tuntutan modern agar seseorang memilih pasangan dan waktu pernikahan berdasarkan pertimbangan personal.
Semakin besar ruang untuk memilih, semakin besar pula kebutuhan untuk menjelaskan pilihan tersebut. Dalam perspektif Giddens, kondisi ini merupakan bagian dari kehidupan yang semakin refleksif. Individu terus memonitor kehidupannya, mengevaluasi keputusan yang telah dibuat, dan mempertimbangkan konsekuensinya bagi masa depan.
Karena itu, terlalu sederhana apabila fenomena penundaan pernikahan langsung dijelaskan dengan mengatakan bahwa generasi muda sekarang terlalu individualistis, terlalu mengejar karier, atau tidak lagi percaya pada institusi keluarga. Padahal, perubahan cara seseorang memandang pernikahan juga merupakan bagian dari perubahan masyarakat. Generasi muda hidup dalam kondisi yang memungkinkan mereka membuat lebih banyak pilihan mengenai pendidikan, pekerjaan, pasangan, gaya hidup, dan keluarga. Konsekuensinya, mereka juga harus membuat lebih banyak keputusan mengenai masa depan.
Pernikahan menjadi salah satu keputusan tersebut. Mereka tidak hanya bertanya apakah mereka mencintai seseorang, tetapi juga apakah mereka dapat membangun kehidupan yang mereka anggap layak bersama orang tersebut. Karena itu, menunda pernikahan tidak selalu berarti menolak pernikahan. Dalam sebagian kasus, penundaan dapat menjadi bentuk refleksi sebelum mengambil keputusan yang memiliki konsekuensi jangka panjang.
Pernikahan sebagai Proyek Kehidupan
Pada akhirnya, perubahan cara memandang pernikahan menunjukkan perubahan yang lebih luas dalam kehidupan sosial. Pernikahan semakin menjadi proyek kehidupan yang harus direncanakan. Individu harus menentukan bukan hanya siapa pasangan mereka, tetapi juga kehidupan seperti apa yang ingin dibangun bersama.
Data BPS mengenai status perkawinan pemuda menunjukkan bahwa pada kelompok usia 25–30 tahun, mereka yang belum kawin merupakan proporsi yang besar. Data tersebut tidak menjelaskan alasan setiap individu berada dalam kondisi tersebut. Namun, ia memberikan konteks bahwa kehidupan menuju pernikahan tidak berlangsung dalam satu pola yang seragam.
Karena itu, pertanyaan yang lebih produktif bukanlah “mengapa anak muda tidak mau menikah?”, melainkan “bagaimana generasi muda menentukan kapan mereka siap menikah?”. Pertanyaan tersebut membawa kita dari penghakiman terhadap individu menuju pemahaman mengenai perubahan kehidupan intim.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
