Ketika Pasien Sakit Kehilangan Empati
Kolom | 2026-08-17 09:50:02
Ada kalanya orang datang ke rumah sakit bukan untuk mencari kenyamanan. Mereka datang karena sedang berada dalam kondisi yang paling rentan: tubuh sakit, pikiran cemas, dan keluarga menunggu kabar dengan penuh harap.
Karena itu, saya selalu merasa miris ketika seorang pasien yang sedang membutuhkan pertolongan justru harus menghadapi sikap yang membuatnya merasa semakin tidak berdaya.
Belakangan publik ramai membicarakan pengalaman seorang pasien BPJS Kesehatan, Yurizal, yang mengaku harus menunggu sekitar delapan jam di IGD RSCM sebelum mendapatkan ruang rawat inap. Keluhannya di media sosial kemudian memicu berbagai respons. Sayangnya, sebagian komentar dari akun yang disebut berkaitan dengan tenaga kesehatan justru dinilai mencibir dan tidak menunjukkan empati kepada pasien.
Persoalannya kemudian berkembang. Bukan lagi semata tentang berapa lama pasien menunggu kamar, tetapi tentang bagaimana seorang manusia yang sedang sakit diperlakukan.
Memang, RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional memiliki kapasitas terbatas. Ketersediaan kamar tidak selalu sebanding dengan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan. Dalam kondisi seperti ini, tenaga kesehatan pun menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Namun ada satu hal yang menurut saya tidak boleh hilang dalam situasi apa pun: empati.
Pasien mungkin tidak memahami seluruh persoalan teknis sistem rujukan. Ia mungkin tidak mengetahui mengapa kamar belum tersedia atau mengapa proses administrasi membutuhkan waktu. Yang ia tahu hanyalah satu: dirinya sedang sakit dan membutuhkan pertolongan.
Maka ketika keluhannya dibalas dengan cibiran, yang terluka bukan hanya perasaannya. Kepercayaan terhadap tenaga kesehatan dan sistem pelayanan publik pun ikut terkikis.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar.
Kita tidak bisa buru-buru menyalahkan satu dokter, satu perawat, atau satu rumah sakit. Bisa jadi tenaga kesehatan sendiri sedang kelelahan menghadapi beban kerja, tekanan administratif, keterbatasan fasilitas, dan tuntutan pelayanan yang tinggi. Bahkan pengalaman di ruang digital menunjukkan bahwa relasi pasien dan tenaga kesehatan sama-sama dapat berada dalam situasi yang penuh tekanan.
Artinya, persoalan ini tidak semestinya dipertentangkan menjadi pasien versus tenaga kesehatan.
Keduanya membutuhkan sistem yang sehat.
Tetapi sistem yang sehat juga tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya.
Jika seorang pasien miskin atau peserta BPJS dipersepsikan sebagai pasien yang merepotkan, sementara pasien dengan kemampuan membayar lebih tinggi dipandang lebih menguntungkan, maka pelayanan kesehatan berisiko bergeser dari hubungan kemanusiaan menjadi sekadar hubungan transaksi.
Di sinilah kita perlu bertanya lebih dalam: apakah kesehatan benar-benar dipandang sebagai hak setiap manusia, atau perlahan menjadi komoditas yang kualitas dan aksesnya sangat dipengaruhi kemampuan ekonomi?
Dalam sistem ekonomi yang menempatkan mekanisme pasar dan pertimbangan pembiayaan sebagai bagian besar dalam pengelolaan layanan, persoalan kesehatan mudah terseret ke dalam logika efisiensi dan transaksi. Padahal orang sakit tidak selalu datang dengan kemampuan membayar yang sama.
Sakit tidak mengenal kaya atau miskin.
Serangan jantung tidak bertanya seseorang peserta BPJS atau pasien umum.
Kecelakaan tidak memilih berdasarkan kelas sosial.
Dan rasa sakit tidak menjadi lebih ringan hanya karena seseorang memiliki kartu kesehatan.
Islam memandang kesehatan sebagai salah satu kebutuhan dasar yang harus dijaga. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai. Dalam Islam, seorang pemimpin bukan sekadar pengatur administrasi, tetapi ra'in, pengurus yang bertanggung jawab atas rakyatnya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas mereka."(HR. Bukhari dan Muslim)
Prinsip ini menunjukkan bahwa pelayanan kepada masyarakat bukan semata urusan teknis pemerintahan, tetapi amanah.
Karena itu, sistem kesehatan yang ideal tidak cukup hanya menyediakan rumah sakit dan tenaga medis. Negara juga harus memastikan fasilitas kesehatan memadai, tenaga kesehatan tersedia dalam jumlah dan kualitas yang cukup, pembiayaan kesehatan tidak menjadi beban yang membuat rakyat kehilangan akses, serta pelayanan diberikan tanpa merendahkan martabat pasien.
Dalam sejarah peradaban Islam, kita mengenal bimaristan, rumah sakit yang berkembang di berbagai wilayah Muslim. Sejumlah bimaristan memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa membedakan latar belakang pasien. Di Rumah Sakit Qalawun, misalnya, sumber sejarah mencatat bahwa pasien tidak ditolak dan masa pengobatannya tidak dibatasi; di Rumah Sakit al-Nuri, dokter juga melakukan kunjungan kepada pasien.
Tentu kita tidak bisa begitu saja memindahkan praktik berabad-abad lalu ke zaman sekarang. Namun ada nilai penting yang patut direnungkan: pelayanan kesehatan dibangun dengan orientasi merawat manusia, bukan sekadar melayani transaksi.
Di sisi lain, membangun sistem kesehatan yang manusiawi juga berarti memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan. Dokter, perawat, bidan, dan seluruh tenaga medis adalah manusia yang bisa lelah, mengalami tekanan, dan membutuhkan dukungan. Menuntut mereka selalu ramah tanpa membenahi beban kerja dan lingkungan kerjanya juga bukan solusi.
Karena itu, perubahan harus berjalan dari dua arah: pasien mendapatkan pelayanan yang bermartabat, sementara tenaga kesehatan mendapatkan sistem kerja yang layak dan mendukung mereka menjalankan amanah profesinya.
Pada akhirnya, saya tidak ingin kasus ini berhenti menjadi perdebatan di media sosial tentang siapa yang salah.
Saya ingin kita bertanya lebih jauh: mengapa orang sakit harus berjuang mendapatkan ruang, mengapa tenaga kesehatan bisa begitu tertekan hingga empati terkikis, dan mengapa pelayanan kesehatan masih mudah terjebak dalam sekat kemampuan ekonomi?
Bagi saya, rumah sakit seharusnya menjadi tempat manusia menemukan pertolongan ketika tubuhnya sedang lemah, bukan tempat ia merasa semakin kecil karena status ekonominya.
Sebab ketika seseorang datang dalam keadaan sakit, yang pertama kali seharusnya ia temukan bukanlah pertanyaan tentang berapa banyak ia mampu membayar, melainkan tangan yang menolong dan suara yang menenangkan.
Itulah wajah pelayanan kesehatan yang semestinya kita perjuangkan: maju secara teknologi, kuat secara sistem, dan tetap manusiawi.
Wallahu a'lamu bish-shawwab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
