Mengapa Otak Kita Mengira Panggung adalah Singa yang Mau Menerkam?
Gaya Hidup | 2026-09-30 16:32:47
Oleh Mupbilah
Mengapa Otak Kita Mengira Panggung Adalah Singa yang Mau Menerkam?
Pernah merasa sudah hafal materi presentasi, tetapi begitu berdiri di depan kelas malah lupa semuanya?
Sebelum maju, rasanya biasa saja. Bahkan mungkin sempat berpikir, “Kayaknya nanti lancar.” Tapi begitu semua mata mulai melihat ke arah kita, keadaan bisa berubah. Jantung mulai berdebar, tangan terasa dingin atau berkeringat, suara berubah, dan kepala terasa kosong.
Padahal, kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita sedang aman-aman saja. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada binatang buas. Tidak ada bahaya yang mengancam keselamatan. Lalu, kenapa tubuh bisa bereaksi seolah-olah kita sedang menghadapi sesuatu yang berbahaya? Ternyata, ada penjelasan dari cara kerja otak dan tubuh manusia.
Ketika Presentasi Terasa Seperti Menghadapi Bahaya
Salah satu bagian otak yang mempunyai peran dalam memproses rasa takut adalah amigdala. Penelitian mengenai amigdala menunjukkan bahwa bagian otak ini berhubungan dengan proses mengenali dan merespons informasi yang berkaitan dengan rasa takut.
Dalam kehidupan sehari-hari, ancaman tidak selalu berbentuk bahaya fisik. Situasi sosial juga bisa membuat seseorang merasa tertekan, terutama ketika merasa dirinya sedang diperhatikan atau dinilai.
Presentasi di depan banyak orang adalah salah satu contohnya. Kita mungkin mulai memikirkan hal-hal seperti, “Kalau saya salah bagaimana?”, “Kalau tiba-tiba lupa bagaimana?”, atau “Kalau teman-teman menertawakan saya bagaimana?” Pikiran tersebut membuat situasi yang sebenarnya aman terasa jauh lebih menegangkan.
Jadi, ketika muncul kalimat “otak mengira panggung adalah singa”, kalimat itu sebenarnya hanya sebuah perumpamaan. Otak manusia tentu tidak benar-benar melihat dosen atau teman sekelas sebagai predator. Yang terjadi adalah tubuh dapat memberikan respons stres ketika seseorang merasa berada dalam situasi yang mengancam atau penuh tekanan.
Jantung Berdebar Bukan Cuma Perasaan
Hal menarik dari demam panggung adalah reaksi tubuhnya memang nyata. Penelitian mengenai public speaking menunjukkan bahwa situasi tersebut dapat meningkatkan rasa takut dan ketegangan serta memengaruhi respons fisiologis tubuh.
Jadi, kalau jantung terasa lebih cepat ketika akan presentasi, itu bukan sekadar “perasaan saja”. Tubuh sedang menjadi lebih waspada.
Respons seperti ini sebenarnya merupakan bagian dari mekanisme tubuh ketika menghadapi situasi yang dianggap penting atau menekan. Masalahnya, saat presentasi kita tentu tidak perlu berlari atau melawan siapa pun. Kita hanya perlu berdiri dan berbicara.
Akibatnya, respons tubuh yang sebenarnya normal justru terasa mengganggu. Kita semakin sadar bahwa jantung sedang berdebar, lalu mulai khawatir akan terlihat gugup. Kekhawatiran itu bisa membuat kita semakin tegang.
Akhirnya, muncul lingkaran seperti ini: merasa gugup → tubuh bereaksi → sadar bahwa tubuh bereaksi → semakin gugup.
Kenapa Kita Lebih Takut Dinilai daripada Berbicara?
Kalau dipikir-pikir, mungkin sebenarnya kita tidak takut berbicara. Kita takut salah ketika berbicara di depan orang lain.
Berbicara sendirian di kamar mungkin tidak membuat kita gugup. Materi yang sama bisa terasa mudah ketika dijelaskan kepada satu teman. Tetapi ketika harus menyampaikannya di depan satu kelas, situasinya berubah.
Ada orang yang melihat. Ada kemungkinan ditanya. Ada kemungkinan salah. Dan ada kemungkinan kita merasa malu.
Kekhawatiran terhadap penilaian sosial dapat berkaitan dengan respons emosional seseorang ketika berada dalam situasi sosial. Artinya, perasaan “sedang dinilai orang” memang dapat menjadi bagian dari pengalaman yang membuat seseorang merasa tertekan.
Itulah sebabnya public speaking bagi sebagian orang bisa terasa jauh lebih menegangkan dibandingkan berbicara dalam percakapan biasa.
Istilah “Amygdala Hijack”
Dalam pembahasan tentang respons emosional, kita juga sering menemukan istilah “amygdala hijack”. Istilah tersebut dipopulerkan oleh psikolog Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence yang diterbitkan pada 1995.
Secara sederhana, istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika respons emosional yang sangat kuat muncul dengan cepat sehingga seseorang dapat bereaksi sebelum sempat memikirkan situasi secara tenang.
Contohnya bisa kita lihat saat seseorang tiba-tiba mendapat pertanyaan ketika presentasi. Sebenarnya dia tahu jawabannya. Tetapi karena panik, yang keluar justru, “Hmm... apa ya?” Padahal setelah selesai presentasi dan suasana sudah lebih tenang, jawabannya tiba-tiba muncul di kepala.
Pengalaman seperti ini dapat dipahami melalui hubungan antara emosi, perhatian, dan kemampuan berpikir dalam situasi yang penuh tekanan. Namun, istilah amygdala hijack sebaiknya tidak dipahami secara harfiah sebagai keadaan ketika amigdala mengambil alih seluruh otak. Itu adalah istilah populer untuk menjelaskan respons emosional yang berlangsung sangat cepat.
Kenapa Bisa Tiba-Tiba Blank?
Ini mungkin bagian yang paling familiar bagi mahasiswa. Materi sudah dipelajari. Slide sudah dibuat. Bahkan sebelum maju kita merasa bisa. Tapi setelah berdiri di depan kelas, semuanya seperti hilang.
Salah satu alasannya bisa berkaitan dengan perhatian yang terlalu banyak digunakan untuk memikirkan ancaman atau penilaian dari orang lain.
Daripada fokus pada apa yang ingin disampaikan, pikiran justru sibuk dengan pertanyaan: “Suara saya kedengaran nggak?”, “Dosen kelihatan suka nggak?”, “Kalau saya salah bagaimana?”, atau “Teman-teman melihat saya aneh nggak?”
Ketika perhatian terbagi seperti itu, menyampaikan materi tentu menjadi lebih sulit. Jadi, ketika seseorang mengalami blank saat presentasi, belum tentu penyebabnya karena dia tidak belajar.
Bisa saja dia memang menguasai materi, tetapi pada saat tampil, rasa tegang membuat proses mengingat dan menyampaikan informasi menjadi lebih sulit. Namun, bukan berarti setiap orang yang tiba-tiba lupa saat presentasi pasti mengalami amygdala hijack. Ada banyak faktor lain yang juga dapat menyebabkan seseorang sulit mengingat materi ketika sedang tampil.
Jadi, Apakah Demam Panggung Itu Wajar?
Rasa gugup ketika berbicara di depan orang lain bukan sesuatu yang aneh. Bahkan orang yang sudah sering tampil pun masih bisa merasakan ketegangan sebelum berbicara.
Yang perlu dipahami adalah rasa gugup tidak otomatis berarti seseorang tidak mampu berbicara. Jantung berdebar bukan berarti presentasi pasti gagal. Tangan berkeringat bukan berarti kita tidak menguasai materi. Dan merasa takut bukan berarti kita tidak percaya diri selamanya.
Tubuh hanya sedang memberikan respons terhadap situasi yang dianggap penting atau menekan. Memahami hal tersebut setidaknya bisa membuat kita berhenti menyalahkan diri sendiri setiap kali merasa gugup.
Panggung Bukan Singa
Pada akhirnya, judul “otak mengira panggung adalah singa” memang bukan penjelasan harfiah tentang cara kerja otak.
Panggung bukan singa. Dosen bukan predator. Teman sekelas juga bukan sekumpulan hewan buas yang siap menerkam ketika kita salah bicara.
Tetapi rasa takut terhadap penilaian orang lain memang dapat memicu respons psikologis dan fisiologis yang nyata. Mungkin itu sebabnya presentasi yang bagi satu orang terasa biasa saja bisa menjadi pengalaman yang sangat menegangkan bagi orang lain.
Jadi, kalau suatu saat berdiri di depan kelas lalu jantung mulai berdebar, mungkin kita tidak perlu langsung berpikir bahwa kita akan gagal. Bisa jadi tubuh kita hanya sedang terlalu waspada.
Dan kalau dipikir lagi, memang tidak ada singa di sana. Hanya kita, sebuah presentasi, dan beberapa orang yang sebenarnya juga pernah merasakan gugup.
Referensi
Adolphs, R., Tranel, D., Damasio, H., & Damasio, A. R. (1995). Fear and the human amygdala. The Journal of Neuroscience, 15(9), 5879–5891.
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.
Miller, R. S. (1995). On the nature of embarrassability: Shyness, social evaluation, and social skill. Journal of Personality, 63(2), 315–339.
Birk, S. L., Horenstein, A., Weeks, J. W., Olino, T., Heimberg, R. G., Goldin, P. R., & Gross, J. J. (2019). Neural Responses to Social Evaluation: The Role of Fear of Positive and Negative Evaluation. Journal of Anxiety Disorders, 67, 102114.
Hofmann, S. G., Ehlers, A., & Roth, W. T. (1995). Conditioning theory: A model for the etiology of public speaking anxiety? Behaviour Research and Therapy, 33(5), 567–571.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
