Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dr. Ernita Arif Bahri Chaniago

Memanggil Anak dengan Kasih Sayang dalam Komunikasi Keluarga

Parenting | 2026-08-15 20:47:06

Oleh: Dr. Ernita Arif, M.Si.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Ada percakapan sederhana di ruang kelas yang membuat saya kembali memikirkan satu hal penting dalam komunikasi keluarga: ternyata cara kita memanggil anak dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan.

Saat mengajar mata kuliah Komunikasi Keluarga, saya bertanya kepada mahasiswa tentang panggilan yang paling mereka sukai ketika orang tua berbicara kepada mereka. Jawabannya menarik. Sebagian besar mengatakan lebih menyukai ketika orang tua memanggil mereka dengan sebutan “Nak”.

Padahal mereka sudah dewasa. Mereka adalah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi, mulai belajar mengambil keputusan sendiri, memiliki kesibukan dan pergaulan yang semakin luas. Namun, ketika berbicara tentang komunikasi dengan orang tua, kata “Nak” tetap memiliki tempat yang istimewa.

Menariknya, ketika pertanyaan yang sama diarahkan pada komunikasi dengan dosen, mahasiswa lebih menyukai panggilan “Ananda”, sementara “kamu”, “kalian”, dan “Anda” berada pada pilihan berikutnya. Tentu, percakapan di kelas tersebut bukan penelitian yang dapat digeneralisasi kepada seluruh mahasiswa. Saya melihatnya sebagai refleksi dari proses pembelajaran. Namun, sebagai pengajar Komunikasi Keluarga, jawaban itu memunculkan pertanyaan menarik: mengapa sebuah kata yang sederhana dapat memiliki makna emosional yang begitu kuat?

Panggilan Bukan Sekadar Sebutan

Dalam komunikasi interpersonal, kata-kata tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menyampaikan hubungan. Ketika seorang ibu berkata, “Nak, sudah makan?”, pesan yang diterima anak bukan hanya tentang makanan. Ada perhatian yang menyertainya. Ketika seorang ayah berkata, “Nak, kalau ada masalah, cerita kepada Ayah,” terdapat pesan bahwa anak memiliki tempat untuk pulang dan didengarkan.

Inilah yang membuat komunikasi keluarga memiliki karakter khas. Sebuah kata dapat membawa sejarah hubungan, kedekatan emosional, pengalaman bersama, dan rasa memiliki. Dalam komunikasi keluarga, relasi dibentuk melalui interaksi sehari-hari, termasuk pilihan kata, cara menyampaikan pesan, mendengarkan, merespons, dan memberikan penghargaan.

Karena itu, “Nak” bukanlah kata ajaib dalam pengasuhan. Yang penting adalah makna relasional yang menyertai panggilan tersebut. Ketika hadir dalam hubungan yang hangat, panggilan itu dapat menjadi simbol kedekatan yang mengingatkan anak bahwa dirinya memiliki tempat khusus dalam kehidupan orang tuanya.

Anak Boleh Bertumbuh, tetapi Jangan Kehilangan Rumah Emosional

Ketika anak semakin dewasa, cara orang tua berkomunikasi sering ikut berubah. Percakapan tentang perasaan perlahan bergeser menjadi pertanyaan tentang pencapaian. “Bagaimana harimu?” berubah menjadi “Kapan selesai kuliah?” “Ada cerita apa hari ini?” berubah menjadi “Jangan sampai nilaimu turun.”

Tidak ada yang salah dengan perhatian terhadap pendidikan, kesehatan, dan masa depan anak. Namun, komunikasi keluarga bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan disampaikan dan perasaan apa yang muncul setelahnya.

Komunikasi yang membuat anak merasa didengar dan dipahami menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat. Karena itu, ketika anak semakin dewasa, mungkin yang perlu berubah bukan kasih sayang orang tua, melainkan cara mengekspresikannya.

Anak yang sudah dewasa mungkin tidak lagi membutuhkan orang tua untuk mengatur setiap langkahnya. Namun, mereka tetap membutuhkan hubungan yang membuat mereka merasa diterima. Mereka membutuhkan rumah emosional, yaitu ruang tempat mereka merasa aman untuk berbicara, berbeda pendapat, melakukan kesalahan, dan kembali ketika menghadapi kesulitan.

Pendidikan Dimulai dari Cara Kita Berkomunikasi

Ketika berbicara tentang pendidikan anak, perhatian kita sering tertuju pada sekolah, nilai, prestasi, dan pilihan pendidikan. Padahal, pendidikan pertama berlangsung di rumah.

Anak belajar berbicara dari bagaimana orang tua berbicara kepadanya. Anak belajar menghargai orang lain dari bagaimana pendapatnya dihargai. Anak belajar mengelola perbedaan dari bagaimana konflik diselesaikan di rumah. Anak juga belajar memahami dirinya dari bagaimana orang tua memandang dan memperlakukannya.

Dengan demikian, komunikasi keluarga merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Mendidik anak bukan hanya mengajarkan apa yang benar dan salah, tetapi juga membantu anak membangun keyakinan bahwa dirinya berharga, pendapatnya layak didengar, kesalahannya dapat diperbaiki, dan rumah merupakan tempat yang aman untuk bertumbuh.

Dalam konteks inilah pilihan kata menjadi penting. Panggilan sederhana seperti “Nak” dapat menjadi bagian dari pesan pendidikan yang lebih besar ketika hadir bersama penghargaan, perhatian, dan kasih sayang.

Jangan Hanya Mendidik Anak untuk Berprestasi

Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak berhasil. Kita ingin mereka mendapatkan pendidikan terbaik, memiliki pekerjaan yang baik, mandiri, dan mampu menghadapi kehidupan.

Namun, pendidikan keluarga tidak hanya mempersiapkan anak agar mampu menghadapi dunia. Pendidikan keluarga juga memastikan bahwa ketika dunia terasa berat, anak tahu bahwa ia memiliki tempat untuk kembali.

Karena itu, sesekali mungkin kita perlu mengurangi nasihat dan memperbanyak dialog. Bukan hanya, “Sudah makan?”, tetapi, “Nak, bagaimana harimu?” Bukan hanya, “Kapan lulus?”, tetapi, “Nak, apa yang bisa Ayah dan Ibu bantu dalam perjuanganmu?”

Pertanyaan sederhana seperti itu memberi pesan bahwa anak bukan hanya objek yang harus diarahkan, tetapi pribadi yang memiliki pikiran, perasaan, pengalaman, dan pilihan. Anak yang merasa didengar akan lebih mungkin bercerita. Anak yang merasa dihargai akan lebih mungkin membuka diri.

Ketika Anak Sudah Dewasa

Anak-anak kita akan bertumbuh. Mereka akan kuliah, bekerja, mungkin pergi jauh dari rumah, dan suatu hari memiliki keluarga sendiri. Semakin dewasa, semakin sedikit hal yang dapat kita atur dalam kehidupan mereka. Yang dapat kita jaga adalah kualitas hubungan.

Mungkin itulah yang membuat jawaban mahasiswa di kelas saya menarik. Mereka sudah dewasa dan sedang belajar menjadi mandiri. Namun, ketika berbicara tentang panggilan dari orang tua, mereka tetap memilih satu kata sederhana: Nak.

Barangkali karena menjadi dewasa tidak berarti berhenti membutuhkan kasih sayang. Anak yang tumbuh dewasa memang membutuhkan ruang untuk menentukan kehidupannya sendiri, tetapi di balik kemandirian itu mereka tetap membutuhkan hubungan yang hangat dengan orang tua.

Maka, jika hari ini masih ada kesempatan untuk memanggil anak dengan lembut, panggillah. Jika masih ada kesempatan untuk bertanya tanpa menghakimi, bertanyalah. Jika masih ada kesempatan untuk mendengarkan tanpa buru-buru memberikan nasihat, dengarkanlah.

Sebab suatu hari nanti, ketika anak-anak kita sudah jauh dari rumah, mungkin bukan nasihat panjang yang paling mereka ingat. Bisa jadi justru satu panggilan sederhana yang terus tinggal dalam ingatan:

“Nak ”

Sebuah panggilan yang mengingatkan bahwa di tengah dunia yang menuntut mereka menjadi kuat, selalu ada rumah yang membuat mereka tahu bahwa mereka dicintai.

Pada akhirnya, komunikasi keluarga bukan hanya tentang membuat anak mendengar apa yang kita katakan. Lebih dari itu, komunikasi keluarga adalah tentang membuat anak merasakan apa yang kita maksudkan: bahwa ia dicintai, dihargai, didengarkan, dan selalu memiliki tempat untuk pulang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image