Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Riswan Hidayat

Gerilyawan Masa Depan

Sastra | 2026-09-25 13:51:57
Gambar dari chat gpt ai

Masa depan hampir tidak pernah lahir dari tempat yang telah disediakan untuknya. Ia justru sering muncul dari ruang-ruang kecil yang nyaris tidak diperhitungkan: sebuah sanggar di kampung, sekolah alam dengan beberapa puluh murid, kelas yang lebih banyak berlangsung di kebun daripada di ruang tertutup, atau seorang guru yang lebih sering bertanya daripada menjelaskan.

Di tempat-tempat semacam itu, pendidikan tidak sepenuhnya dimulai dari kurikulum. Ia dimulai dari pengalaman.

Anak tidak hanya belajar tentang dunia. Ia belajar dari dunia.

Seekor belalang yang hinggap di daun dapat menjadi awal pembicaraan tentang kehidupan. Hujan yang turun tiba-tiba dapat mengubah rencana belajar sekaligus mengajarkan bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Batang pohon yang patah dapat menjadi bahan untuk membicarakan sebab dan akibat. Bahkan pertengkaran kecil antar murid dapat menjadi kesempatan untuk memahami emosi, tanggung jawab, dan cara menyelesaikan persoalan.

Dalam pendidikan semacam itu, dunia tidak lagi sekadar ilustrasi bagi pelajaran. Dunia itu sendiri menjadi pelajaran.

Model pendidikan seperti ini tampak seperti gerilya. Ia tidak memiliki gedung megah, ribuan siswa, anggaran besar, atau kekuasaan untuk mengubah sistem pendidikan nasional. Ia hidup di pinggir, bekerja dalam skala kecil, dan sering kali tidak terlalu diperhatikan.

Namun hampir setiap pembaruan bermula dari tempat semacam itu.

Yang berada di pinggir sering memiliki kebebasan yang tidak dimiliki pusat. Ia dapat mencoba, keliru, mengubah cara, dan memulai kembali tanpa terlalu banyak beban untuk mempertahankan citra keberhasilan.

Masalahnya, gerilya sering berhenti menjadi gerilya ketika mulai memperoleh pengakuan.

Ketika berhasil, ia ingin menjadi sistem. Ketika membesar, ia mulai menyusun prosedur. Ketika mendapatkan penghargaan, ia mulai sibuk mempertahankan reputasi. Pada titik tertentu, keberanian untuk mengambil risiko perlahan digantikan oleh kebutuhan untuk terlihat berhasil.

Padahal masa depan membutuhkan ruang yang bersedia gagal.

Karena itu, sekolah-sekolah alternatif tetap penting. Tetapi kita juga harus jujur bahwa sekolah semacam itu tidak mungkin menampung semua anak. Jumlahnya terbatas, aksesnya tidak selalu mudah, dan sebagian membutuhkan sumber daya yang belum tentu dimiliki setiap keluarga.

Maka persoalannya bukan bagaimana semua sekolah harus berubah menjadi sekolah alam, Montessori, atau bentuk pendidikan alternatif lainnya. Persoalannya jauh lebih mendasar: bagaimana sekolah biasa tetap memiliki ruang bagi lahirnya manusia yang tidak biasa.

Sekolah tidak harus menghasilkan lulusan yang seragam.

Sekolah justru seharusnya cukup rendah hati untuk membiarkan sebagian murid tumbuh melampaui kurikulumnya sendiri. Ada anak yang mungkin tidak unggul dalam ujian, tetapi mampu mengajukan pertanyaan yang tidak terpikirkan gurunya. Ada yang tidak cepat menghafal, tetapi mampu menemukan cara baru untuk menyelesaikan masalah. Ada yang tidak cocok dengan pola belajar yang tersedia, tetapi justru memiliki kepekaan terhadap sesuatu yang belum dikenali oleh sistem.

Pendidikan yang baik bukan hanya pendidikan yang berhasil mengantarkan semua anak mencapai standar yang sama. Pendidikan yang baik juga mampu mengenali ketika seseorang mulai bergerak melampaui standar tersebut.

Di sinilah kita perlu memikirkan kembali makna keberhasilan.

Hal serupa terjadi dalam dunia seni.

Ekosistem seni sering kali terlalu cepat mengajarkan seniman untuk menemukan pasar, jaringan, festival, residensi, penghargaan, dan pengakuan. Karya kemudian diukur melalui seberapa cepat ia masuk ke dalam sirkulasi kebudayaan.

Akibatnya, seniman dapat ter

goda untuk membuat karya yang bukan terutama karena sesuatu yang mendesak ingin dikatakan, melainkan karena sesuatu itu sedang dibutuhkan oleh pasar.

Padahal setiap zaman membutuhkan orang-orang yang memilih jalan lain.

Mereka bekerja tanpa menunggu tren. Mereka menulis tanpa menghitung kemungkinan penghargaan. Mereka melukis tanpa terlebih dahulu memastikan galeri akan menerimanya. Mereka menciptakan sesuatu bukan karena pasar sedang mencarinya, tetapi karena ada persoalan yang belum menemukan bentuk.

Mereka adalah gerilyawan masa depan.

Gerilyawan semacam itu mungkin tidak segera berhasil. Bahkan mungkin tidak pernah memperoleh pengakuan. Mereka dapat hidup tanpa nama, bekerja dalam kesunyian, dan meninggalkan karya yang baru dipahami jauh setelah mereka tidak lagi berada di sana.

Tetapi kebudayaan tidak hanya dibangun oleh mereka yang berhasil masuk ke panggung. Ia juga dibentuk oleh mereka yang bekerja sebelum panggung itu tersedia.

Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak ruang yang tidak tergesa-gesa meminta hasil. Sekolah membutuhkan ruang untuk bereksperimen. Seniman membutuhkan ruang untuk menyimpang. Guru membutuhkan kebebasan untuk mencoba. Anak-anak membutuhkan kesempatan untuk menemukan sesuatu yang bahkan belum tercantum dalam buku pelajaran.

Masa depan tidak selalu datang sebagai program besar. Kadang-kadang ia datang sebagai seseorang yang diam-diam melakukan sesuatu yang belum dipahami zamannya.

Mungkin ia seorang guru di sebuah desa. Mungkin seorang anak yang terus bertanya. Mungkin seorang seniman yang menolak mengikuti arus. Mungkin sebuah karya yang hari ini dianggap aneh, tetapi kelak justru menjadi tanda bahwa kita pernah memiliki keberanian untuk berpikir berbeda.

Itulah gerilya yang paling sunyi: bekerja tanpa jaminan bahwa masa depan akan berterima kasih.

Sebab masa depan memang tidak membutuhkan orang-orang yang sekadar pandai menyesuaikan diri dengan zaman.

Ia membutuhkan mereka yang berani mengganggu kenyamanan zaman, meskipun belum memiliki bahasa untuk menjelaskan ke mana mereka sedang pergi.

Gerilyawan masa depan tidak selalu tahu bentuk masa depan yang mereka perjuangkan.

Mereka hanya tahu bahwa masa kini tidak cukup mewadahinya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Tulisan Terpilih


Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image