Kuliah Sambil Bekerja? Begini Cara Mengatur Keuangan Agar Tetap Stabil
Gaya Hidup | 2026-08-02 21:10:44Menjadi mahasiswa pekerja bukan lagi hal yang asing. Banyak mahasiswa memilih bekerja sambil kuliah karena ingin mandiri secara finansial, membantu orang tua, atau memperoleh pengalaman kerja sebelum lulus. Apalagi saat ini banyak perguruan tinggi yang membuka kelas karyawan dengan jadwal yang lebih fleksibel. Perkuliahan hanya berlangsung satu hari dalam seminggu, misalnya setiap hari Kamis, sehingga mahasiswa tetap dapat bekerja pada hari-hari lainnya.
Sekilas, kondisi tersebut terlihat lebih ringan dibandingkan mahasiswa reguler. Nyatanya, tantangan yang dihadapi justru berbeda. Setelah menyelesaikan pekerjaan, masih ada tugas kuliah yang harus dikerjakan, bahan presentasi yang perlu dipersiapkan, hingga diskusi kelompok yang sering dilakukan secara daring pada malam hari. Waktu istirahat pun sering kali harus dikorbankan agar semua tanggung jawab dapat diselesaikan tepat waktu.
Di tengah kesibukan tersebut, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu mengelola keuangan. Tidak sedikit mahasiswa pekerja yang merasa lebih tenang setelah menerima gaji. Namun, rasa tenang itu sering kali hanya bertahan beberapa hari. Memasuki pertengahan bulan, saldo rekening mulai berkurang dan muncul pertanyaan yang hampir selalu sama, "Uangnya habis untuk apa?"
Padahal, jika diperhatikan lebih teliti, pengeluaran mahasiswa pekerja sebenarnya cukup banyak. Selain biaya makan dan transportasi menuju tempat kerja, masih ada biaya kuliah, pembelian buku atau modul, kuota internet, biaya mencetak tugas, hingga kebutuhan saat datang ke kampus setiap hari Kamis. Ditambah lagi dengan pengeluaran kecil seperti membeli kopi sebelum bekerja, memesan makanan secara daring saat lembur, atau mengikuti promo belanja yang sering muncul di media sosial.
Pengeluaran tersebut memang terlihat kecil jika dilakukan sesekali. Akan tetapi, ketika menjadi kebiasaan, jumlahnya dapat menghabiskan sebagian besar penghasilan dalam satu bulan. Inilah alasan mengapa banyak mahasiswa pekerja merasa gaji mereka selalu kurang, meskipun penghasilannya relatif tetap.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membuat anggaran sejak hari pertama menerima gaji. Tidak perlu menggunakan metode yang rumit. Cukup pisahkan penghasilan ke dalam beberapa kebutuhan utama, seperti biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, transportasi, tabungan, dan dana darurat. Dengan cara tersebut, setiap rupiah yang dimiliki sudah memiliki tujuan sebelum digunakan.
Kebiasaan lain yang tidak kalah penting adalah mencatat setiap pengeluaran. Banyak orang menganggap aktivitas ini merepotkan, padahal hanya membutuhkan waktu beberapa menit setiap hari. Dari catatan tersebut, mahasiswa dapat mengetahui pengeluaran mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sebenarnya masih bisa dikurangi.
Sebagai contoh, membeli minuman atau camilan setiap hari mungkin terasa biasa saja. Namun, jika kebiasaan tersebut dilakukan selama satu bulan, jumlah uang yang dikeluarkan bisa setara dengan biaya membeli buku kuliah atau bahkan sebagian uang transportasi. Kesadaran terhadap pengeluaran kecil inilah yang sering menjadi awal perubahan dalam mengelola keuangan.
Selain mencatat pengeluaran, mahasiswa pekerja juga perlu membiasakan diri untuk menabung segera setelah menerima gaji. Banyak orang baru menabung jika masih ada sisa uang di akhir bulan. Sayangnya, cara tersebut sering kali tidak berhasil karena hampir seluruh penghasilan sudah habis digunakan. Menyisihkan tabungan di awal akan membantu membangun kebiasaan yang lebih disiplin.
Tidak hanya tabungan, dana darurat juga perlu mulai dipersiapkan. Mahasiswa pekerja tentu tidak pernah berharap mengalami keadaan yang tidak diinginkan. Namun, kenyataannya berbagai risiko dapat terjadi kapan saja, mulai dari laptop yang tiba-tiba rusak ketika mengerjakan tugas, kendaraan yang membutuhkan perbaikan, hingga biaya kesehatan yang muncul tanpa diduga. Dana darurat akan membantu menghadapi kondisi tersebut tanpa harus meminjam uang.
Kuliah sambil bekerja memang bukan perjalanan yang mudah. Dibutuhkan komitmen, disiplin, dan kemampuan membagi waktu agar pekerjaan serta pendidikan dapat berjalan beriringan. Namun, di balik semua tantangan tersebut, ada kesempatan besar untuk belajar mengelola keuangan sejak usia muda.
Pada akhirnya, kestabilan keuangan tidak selalu ditentukan oleh besarnya gaji yang diterima, melainkan oleh bagaimana seseorang mengelola setiap penghasilan yang dimilikinya. Kebiasaan sederhana yang dimulai sejak masih menjadi mahasiswa dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi kehidupan setelah lulus.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
