Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Didi Kurnia.R.

Ketika Gapura Menjadi Wajah Sebuah Desa

Info Terkini | 2026-09-10 12:21:24
Dokumentasi Pelaksanaan Kegiatan Di Desa Teluk Jambu (Sumber Gambar : Mahasiswa Kkn Desa Teluk Jambu)

Setiap desa memiliki cerita yang tersimpan di setiap sudutnya, namun ada satu titik yang selalu menjadi kesan pertama bagi siapa saja yang datang berkunjung, yaitu gapura. Bagi warga Desa Teluk Jambu, gapura bukan sekadar penanda batas wilayah. Ia adalah wajah desa, sapaan pertama yang menyambut setiap tamu, dan cerminan dari identitas serta semangat masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Menyadari peran penting itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sutha Posko 30 Gelombang 2 bersama warga Desa Teluk Jambu menjadikan pembangunan gapura sebagai salah satu program kerja selama masa pengabdian. Program ini lahir dari kenyataan bahwa selama ini Desa Teluk Jambu belum memiliki penanda yang benar-benar menyambut siapa pun yang memasuki wilayahnya. Padahal, gapura adalah hal pertama yang dilihat setiap orang sebelum benar-benar memasuki dan mengenal Desa Teluk Jambu lebih dalam.

Selama ini, masuk batas Desa Teluk Jambu hanya ditandai oleh jalan tanah yang perlahan menyempit di antara rimbunnya pohon pisang, tanpa ada penanda tertulis yang menyatakan bahwa seseorang telah memasuki wilayah desa. Bagi warga yang sudah terbiasa, hal ini mungkin tidak menjadi masalah besar. Namun bagi tamu, kerabat dari luar desa, atau bahkan mahasiswa KKN yang baru pertama kali datang, ketiadaan gapura membuat kesan awal terhadap desa terasa kurang lengkap.

Wajah Pertama Sebuah Desa

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kesan pertama akan selalu membekas. Hal itu pula yang menjadi alasan mengapa keberadaan gapura begitu penting bagi sebuah desa. Sebuah gapura yang berdiri jelas dan menampilkan nama desa dengan gamblang akan memberi kesan bahwa desa tersebut memiliki identitas, tertata, dan dijaga dengan penuh kebanggaan oleh warganya. Sebaliknya, tanpa penanda yang jelas, siapa pun yang melintas bisa saja tidak menyadari bahwa mereka baru saja memasuki wilayah Desa Teluk Jambu.

Berangkat dari kesadaran kesadaran, mahasiswa KKN Posko 30 mengajak warga untuk bersama-sama mewujudkan sebuah gapura baru di titik masuk utama Desa Teluk Jambu, tepat di tepi jalan yang diapit rimbunnya pohon pisang. Bukan sekedar membangun penanda, melainkan menghadirkan simbol yang mampu menggambarkan identitas dan kebanggaan desa kepada siapa saja yang melintas.

Dari Anyaman Bambu Menjadi Karya Bersama

Program pembangunan gapura ini dimulai dari diskusi kecil antara mahasiswa KKN dan perangkat desa, yang kemudian disambut baik oleh warga sekitar. Bambu dipilih sebagai bahan utama karena mudah didapat di lingkungan sekitar dan mencerminkan keindahan khas pedesaan. Batang-batang bambu dianyam rapi membentuk sebuah panel besar, dicat hijau, lalu dituliskan Berbagai "Selamat Datang di Desa Kalimat Teluk Jambu" dengan huruf putih besar yang mudah dibaca dari jarak jauh, lengkap dengan penanda "KKN UIN Sutha Posko 30 Gel 2" di bagian bawahnya.

Proses pengerjaannya tidak berlangsung dalam waktu singkat. Dibutuhkan ketelatenan untuk menganyam bambu satu per satu, mengecatnya hingga rata, sampai menuliskan huruf demi huruf dengan rapi agar hasilnya kokoh dan layak menjadi kebanggaan desa. Di sela-sela pengerjaan, banyak obrolan ringan yang tercipta antara mahasiswa dan warga, cerita tentang sejarah desa, harapan untuk masa depan, hingga candaan kecil yang membuat suasana kerja terasa lebih akrab dan menyenangkan.

Gotong Royong yang Mempersatukan

Salah satu hal yang paling berkesan dari program ini adalah bagaimana ia berhasil menghidupkan semangat gotong royong di tengah masyarakat. Warga yang semula hanya menyaksikan dari kejauhan, lambat laun ikut turun tangan, ada yang membantu mengumpulkan batang bambu, ada yang menawarkan tenaga untuk memasang tiang penyangga, dan ada pula yang sekadar menemani sambil menyediakan kopi hangat untuk para pekerja. Kebersamaan semacam ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang paling bermakna adalah pembangunan yang dikerjakan bersama-sama, bukan oleh satu pihak saja.

Anak-anak desa pun turut mengambil bagian dengan cara mereka sendiri. Ada yang membantu memindahkan bambu, ada pula yang hanya duduk memperhatikan sambil sesekali bertanya, gapuranya akan seperti apa nanti, atau kapan gapura itu akan selesai dibangun. Rasa ingin tahu mereka menjadi warna tersendiri yang menghidupkan suasana kerja bakti hari itu.

Tidak jarang pula warga yang lewat sejenak berhenti, sekadar melihat perkembangan pengerjaan sambil melontarkan komentar bercanda tentang hasil anyaman yang mulai terbentuk. Suasana yang hangat semacam ini semakin memperkuat rasa memiliki warga terhadap gapura yang sedang dibangun, seolah-olah gapura itu bukan lagi sekadar program kerja mahasiswa, melainkan telah menjadi milik bersama seluruh warga Desa Teluk Jambu.

Gapura sebagai Simbol Identitas dan Harapan

Setelah melalui proses pembangunan yang tidak sebentar, gapura anyaman bambu Desa Teluk Jambu akhirnya berdiri untuk pertama kalinya di tepi jalan masuk desa, diapit pepohonan pisang yang rimbun. Kehadirannya membuat siapa pun yang melintas kini dapat langsung mengenali bahwa mereka telah memasuki Desa Teluk Jambu. Namun lebih dari sekadar penanda fisik, gapura ini membawa makna yang lebih dalam, yaitu simbol kebersamaan warga yang berhasil mewujudkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Program pembangunan gapura ini memang menjadi bagian dari kerja mahasiswa KKN Posko 30, tetapi harapannya, semangat menjaga dan merawat gapura ini akan terus dilanjutkan oleh warga Desa Teluk Jambu meski masa pengabdian telah usai. Sebab sebuah gapura yang berdiri kokoh bukan hanya soal bangunan, melainkan cerminan dari bagaimana sebuah desa membangun identitas dan menyambut dunia luar dengan penuh kebanggaan.

Pada akhirnya, gapura bukan sekadar anyaman bambu yang berdiri di ujung jalan masuk desa. Ia adalah wajah, sapaan, sekaligus cerita pertama yang menggambarkan siapa dan bagaimana masyarakat yang tinggal di baliknya. Ketika gapura itu berdiri dari hasil kerja bersama, maka begitu pula citra dan kebanggaan Desa Teluk Jambu di mata siapa saja yang melewatinya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image