Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Didi Kurnia.R.

Bukan Sekadar Peta, Ada Cerita di Baliknya

Momen | 2026-09-08 15:28:17
Dokumentasi pemasangan peta Desa Teluk Jambu di samping Balai Desa. Sumber: Dokumentasi mahasiswa KKN Desa Teluk Jambu, 2026.

“Kayaknya ada yang kurang, deh.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi saat itu kami semua langsung saling melihat. Barang-barang sudah dibeli, dari kayu, paku, seng untuk atap, sampai cat warna putih. Semua terasa sudah lengkap. Kami pun pulang dari toko bangunan dengan tenang, membayangkan rangka peta desa yang sebentar lagi akan mulai dikerjakan.

Sampai akhirnya kami sadar satu hal.

Kuasnya lupa dibeli.

Akhirnya, kami harus kembali lagi ke toko bangunan hanya untuk membeli kuas.

Mungkin terdengar sepele, tapi justru kejadian seperti itulah yang membuat cerita pembuatan peta Desa Teluk Jambu menjadi salah satu pengalaman yang cukup berkesan selama KKN. Sebab selama kurang lebih lima hari pengerjaan, ternyata bukan hanya kayu dan seng yang kami susun, namun juga banyak cerita, kesalahan kecil, perbedaan pendapat, tawa, dan tentunya kebersamaan dengan masyarakat.

Berawal dari keinginan menginginkan sesuatu

Selama berada di Desa Teluk Jambu, kami tidak ingin program kerja yang dilakukan hanya selesai ketika masa KKN berakhir. Kami ingin ada sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan masyarakat setelah kami kembali ke kampus.

Dari situlah muncul ide untuk membuat peta Desa Teluk Jambu.

Lokasinya dipilih di samping Balai Desa karena tempat tersebut cukup strategis dan mudah dilihat oleh orang yang datang ke kantor desa. Peta tersebut memuat beberapa informasi penting, seperti luas wilayah Desa Teluk Jambu serta lokasi beberapa fasilitas yang ada di desa, yaitu Kantor Desa Teluk Jambu, Masjid At-Taqwa, SDN 154 Teluk Jambu, dan PAUD Az-Zahra.

Tujuannya sederhana: membantu orang yang baru datang agar tidak kesulitan mencari lokasi penting di desa.

Bayangkan jika ada tamu dari luar desa atau mahasiswa KKN dari kampus lain yang baru pertama kali datang. Mereka tidak harus langsung bertanya, “Pak, Bu, kalau mau ke masjid lewat mana?” atau “SD-nya di sebelah mana?”

Cukup melihat peta, mereka sudah bisa mendapatkan gambaran mengenai lokasi-lokasi penting tersebut.

Lima Hari, Banyak Kejadian

Setelah ide disepakati, pekerjaan pun dimulai.

Kami tidak langsung berhadapan dengan peta yang sudah jadi. Ada proses panjang yang harus dilalui. Mulai dari mengukur kayu, membuat rangka, memotong bagian-bagian yang diperlukan, membuat atap, mengecat, menyiapkan papan peta, hingga memasangnya di lokasi yang telah ditentukan.

Pengerjaan dari awal sampai pemasangan memakan waktu kurang lebih lima hari.

Untungnya, kami tidak mengerjakan semuanya sendirian. Pemuda **Karang Taruna Desa Teluk Jambu** membantu ikut serta sejak proses awal sampai peta berdiri di tempatnya.

Kehadiran mereka cukup membantu, terutama ketika ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih. Terkadang kami bekerja sambil berdiskusi, terkadang sambil bercanda, dan tidak jarang juga muncul perbedaan pendapat.

Namanya juga mengerjakan sesuatu bersama-sama.

Ada yang merasa ukuran kayu sudah pas, ada yang bilang masih kurang. Ada yang ingin bagian tertentu dibuat lebih tinggi, sementara yang lain merasa ukurannya sudah cukup.

Belum lagi ketika kami menyadari bahwa ada tiang kayu yang salah ukur.

Sudah diukur, sudah dipotong, tetapi ternyata ukurannya tidak sesuai dengan yang direncanakan.

Akhirnya harus diperbaiki lagi.

Setelah urusan tiang selesai, masalah lain muncul. Kali ini giliran bagian atap.

Salah potong.

Kalau diingat sekarang memang lucu, tapi saat pengerjaan tentu saja kami harus berpikir bagaimana caranya agar bahan yang sudah dipotong tetap bisa dimanfaatkan.

Begitulah kira-kira suasana selama lima hari tersebut. Ada pekerjaan yang berjalan lancar, ada juga yang harus diulang. Ada pendapat yang berbeda, tetapi selalu diusahakan untuk menemukan jalan tengah.

Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah siapa yang pendapatnya paling benar, namun bagaimana pekerjaan bisa diselesaikan dengan hasil yang baik.

Ketika Kuas Lebih Berharga dari Kayu

Kalau ada satu kejadian yang paling mudah diingat, mungkin kisah kuas adalah salah satunya.

Sebelum pergi membeli bahan, kami dari posko sudah memikirkan apa saja yang dibutuhkan. Paku sudah dicatat. Kayu sudah. Seng atap juga sudah. Cat warna putih pun tidak ketinggalan.

Kami merasa daftar belanja sudah aman.

Setelah sampai di toko bangunan, semua barang dibeli. Kami pulang membawa bahan-bahan tersebut dan siap melanjutkan pekerjaan.

Namun ketika hendak mengecat, baru terasa ada yang janggal.

“Mana kuasnya?”

Kami mencari.

Tidak ada.

Barulah kami sadar bahwa kuas tidak ikut dibeli.

Akhirnya, kami kembali lagi ke toko bangunan.

Lucunya, barang-barang besar seperti kayu dan seng berhasil kami ingat, tetapi justru kuas yang ukurannya jauh lebih kecil malah hancur.

Perjalanan kedua ke toko bangunan itu akhirnya menjadi salah satu cerita yang kami bawa selama pengerjaan. Setidaknya, sejak saat itu kami belajar bahwa **barang kecil tetap harus masuk daftar prioritas.**

Dari Peta, Kami Menemukan Arti Gotong Royong

Setelah rangka selesai, atap terpasang, cat mulai menghiasi bagian-bagiannya, tibalah saat yang ditunggu-tunggu: pemasangan.

Pada tahap ini, bantuan dari masyarakat kembali terasa.

Dokumentasi pemasangan peta Desa Teluk Jambu di samping Balai Desa. Sumber: Dokumentasi mahasiswa KKN Desa Teluk Jambu, 2026.

Kami mendapat bantuan dari warga, salah satunya dengan meminjamkan bor untuk memasang peta. Peralatan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat membantu kami dalam proses pemasangan.

Pemuda Karang Taruna juga ikut membantu memastikan peta dapat berdiri dengan baik dan terpasang pada tempat yang telah disiapkan.

Di sini kami benar-benar merasakan bagaimana sebuah program kerja bisa menjadi lebih ringan ketika dikerjakan bersama.

Kami datang membawa ide dan tenaga sebagai mahasiswa KKN. Masyarakat dan pemuda desa kemudian ikut memberikan tenaga, waktu, serta berbagai bantuan yang dibutuhkan.

Akhirnya, peta tersebut bukan lagi sekadar program kerja siswa.

Ia menjadi hasil dari kerja bersama

Lima Hari yang Akan Kami Ingat

Setelah lima hari melewati proses yang cukup panjang, akhirnya peta Desa Teluk Jambu berdiri di samping Balai Desa.

Melihatnya untuk pertama kali setelah selesai, rasanya cukup lega.

Semua kesalahan kecil selama pengerjaan seperti salah mengukur tiang, salah memotong atap, lupa membeli kuas, hingga perbedaan pendapat terasa menjadi bagian dari perjalanan yang justru membuat hasil akhirnya lebih berarti.

Kami sadar, peta tersebut mungkin terlihat sederhana bagi orang yang melihatnya.

Namun bagi kami, ada cerita panjang di baliknya.

Ada lima hari yang memenuhi aktivitas. Ada pemuda Karang Taruna yang ikut membantu. Ada warga yang meminjamkan peralatan. Ada kejadian kecil yang akhirnya selesai dengan musyawarah. Ada perjalanan kembali ke toko bangunan karena lupa membeli kuas. Dan tentu saja ada banyak tawa yang muncul di sela-sela pekerjaan.

Kami berharap peta ini nantinya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan siapa pun yang datang ke Desa Teluk Jambu. Terutama bagi tamu desa atau mahasiswa KKN dari kampus lain yang mungkin belum mengenal wilayah desa.

Sebab pada akhirnya, peta ini bukan hanya tentang menunjukkan arah.

Peta ini juga menjadi tanda kecil bahwa selama berada di Desa Teluk Jambu, kami pernah bekerja, belajar, tertawa, dan bergotong royong bersama masyarakat.

Dan mungkin, suatu hari nanti ketika kami kembali berkunjung ke desa ini, kami akan melihat peta itu masih berdiri di samping Balai Desa.

Saat itulah kami bisa berkata dalam hati,

“Ternyata, lima hari yang penuh salah ukur, salah potong, lupa kuas, dan pendapat lain itu pernah menghasilkan sesuatu yang tetap tinggal di sini.”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image