Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Akmansyah

Mengelola Cemas dengan Tawakal, Bukan Pelarian

Agama | 2026-08-02 14:04:53
Muhammad Akmansyah, Dosen Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung

Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, banyak orang menanggung beban yang tidak kelihatan dari luar. Wajahnya tenang, tapi pikirannya penuh kekhawatiran, soal pekerjaan, kesehatan, pendidikan anak, ekonomi, sampai masa depan yang belum tentu terjadi. Ironisnya, di era banjir informasi, tidak semua informasi menghadirkan ketenangan. Tanpa kemampuan menyaringnya, informasi justru dapat memperluas ruang bagi kecemasan.

Kecemasan sesungguhnya bagian dari fitrah manusia. Islam tidak mengajarkan manusia untuk sama sekali bebas dari rasa takut atau khawatir. Nabi Ya'qub a.s. pernah bersedih karena kehilangan putranya, Nabi Musa a.s. sempat merasa takut menghadapi Fir'aun, bahkan Rasulullah saw. sendiri menghadapi banyak tekanan dalam perjuangannya. Yang diajarkan Islam bukan menghapus rasa cemas, melainkan mengelolanya agar tidak menguasai hati dan melemahkan ikhtiar.

Di sinilah tawakal berperan. Sayangnya, banyak orang masih memahami tawakal sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal Al-Qur'an dan Sunnah mengajarkan bahwa hakikatnya, tawakal bukan berhenti berusaha karena percaya kepada Allah. Sebaliknya, ia berarti berusaha sebaik mungkin karena percaya kepada Allah.

Ketika Manusia Mencari Kepastian

Banyak kecemasan lahir ketika manusia berusaha memperoleh kepastian atas sesuatu yang memang belum Allah tetapkan untuk diketahuinya. Kita ingin tahu bahwa usaha yang dilakukan pasti berhasil, penyakit akan sembuh, anak akan sukses, atau hidup akan selalu berjalan sesuai rencana.

Padahal kepastian mutlak bukan milik manusia. Masa depan sepenuhnya berada dalam ilmu Allah. Ketika seseorang memaksakan diri mengendalikan sesuatu di luar kemampuannya, kecemasan justru makin membesar.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa manusia memang memiliki kewajiban untuk berusaha, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

"Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Āli 'Imrān [3]: 159)

Allah tidak memerintahkan tawakal sebelum ada tekad dan usaha. Tawakal justru hadir setelah seseorang mengambil keputusan dan mengerahkan kemampuan terbaiknya. Artinya, tawakal bukan pengganti ikhtiar, melainkan penyempurnanya.

Tawakal Bukan Menunggu Keajaiban

Dalam keseharian, masih ada anggapan bahwa tawakal berarti membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya. Cara pandang ini keliru dan bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw.

Suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Nabi,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَمْ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ: اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

"Wahai Rasulullah, apakah aku lepaskan untaku lalu bertawakal, atau aku ikat terlebih dahulu kemudian bertawakal?" Beliau menjawab, "Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakallah." (HR. al-Tirmiżi)

Mengikat unta di sini melambangkan ikhtiar, sedangkan tawakal adalah penyerahan hati kepada Allah setelah usaha itu dilakukan.

Tawakal tidak diukur dari tangan yang berhenti bekerja, tetapi dari hati yang tetap tenang ketika hasil tidak selalu sesuai harapan.

Karena itu, orang yang bertawakal tetap belajar sebelum ujian, tetap bekerja sungguh-sungguh, dan tetap memeriksakan diri ketika sakit. Ia tetap menyusun rencana dan terus berikhtiar memperbaiki hidupnya.

Allah Tidak Menjanjikan Hidup Tanpa Ujian

Banyak orang mengira tawakal akan membuat hidup bebas dari masalah. Padahal Allah tidak pernah berjanji menghilangkan semua badai kehidupan. Yang Dia janjikan adalah pertolongan, bimbingan, dan kecukupan bagi hamba-Nya ketika menghadapi ujian.

Allah berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya." (QS. al-Ṭalāq [65]: 3)

Allah tidak mengatakan bahwa orang yang bertawakal tidak akan mengalami kesulitan. Allah justru menjanjikan akan menjadi penolong dan pencukup bagi hamba-Nya.

Bedanya ada di sini. Kecemasan menuntut jaminan bahwa masalah tidak akan datang. Tawakal memberi keyakinan bahwa sekalipun masalah datang, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya menghadapinya sendirian.

Ketenangan Berasal dari Kedekatan dengan Allah

Dalam dunia modern, banyak orang mencari ketenangan lewat berbagai cara: berlibur, berbelanja, atau menjauh sejenak dari rutinitas. Semua itu mungkin membantu, tapi sifatnya sementara. Zikir bukan sekadar melafalkan nama Allah. Zikir adalah latihan hati untuk mengingat bahwa tidak ada satu pun keadaan yang berada di luar kekuasaan-Nya. Dari kesadaran itulah ketenangan perlahan tumbuh.

Firman-Nya,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. al-Ra'd [13]: 28)

Ayat ini tidak mengatakan bahwa masalah akan hilang. Yang berubah adalah kondisi hati. Orang yang dekat kepada Allah mampu menghadapi masalah dengan lebih tenang, karena ia yakin setiap peristiwa berada dalam pengawasan dan hikmah-Nya.

Fokus pada Wilayah Ikhtiar

Salah satu penyebab kecemasan adalah keinginan mengendalikan sesuatu yang sebenarnya di luar kemampuan manusia. Kita tidak bisa mengatur umur, keputusan orang lain, perubahan ekonomi, atau apa yang terjadi esok hari.

Islam mengajarkan agar manusia memusatkan perhatian pada apa yang dapat diusahakan. Selebihnya diserahkan kepada Allah.

Seorang mukmin tidak menghabiskan tenaganya mengejar sesuatu yang tidak berada dalam kuasanya. Ia memusatkan seluruh energinya pada ikhtiar terbaik yang menjadi tanggung jawabnya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Rasulullah saw. menegaskan prinsip ini dalam sebuah hadis.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ

"Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi lemah." (HR. Muslim)

Hadis ini memuat tiga hal sekaligus: perintah untuk berusaha, perintah memohon pertolongan Allah, dan larangan menyerah pada kelemahan serta keputusasaan.

Belajar Menerima Takdir

Setelah berikhtiar semaksimal mungkin, seorang Muslim diajarkan menerima hasilnya sebagai bagian dari ketetapan Allah. Menerima takdir bukan berarti menyerah kepada keadaan. Menerima takdir berarti berhenti mempertanyakan keputusan Allah dengan penolakan yang berkepanjangan.

Rasulullah saw. bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

"Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa yang tidak ditetapkan bagimu tidak akan pernah mengenaimu." (HR. al-Tirmiżi)

Keyakinan terhadap takdir tidak membuat seseorang berhenti berusaha. Sebaliknya, ia jadi terbebas dari penyesalan berlebihan karena memahami bahwa hasil akhir ada dalam ilmu dan kebijaksanaan Allah.

Tawakal Melahirkan Optimisme

Rasulullah saw. pernah memberi gambaran tentang hakikat tawakal.

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. al-Tirmiżi)

Burung dalam hadis ini tidak menunggu makanan datang ke sarangnya. Ia terbang, mencari, berusaha, lalu Allah mencukupkan kebutuhannya. Di situlah letak hakikat tawakal.

Sebagian orang menjadikan agama sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab. Mereka menyebutnya tawakal, padahal itu hanyalah pelarian. Tawakal tidak mengajak manusia lari dari kenyataan, tetapi menghadapinya dengan hati yang teguh, usaha yang sungguh-sungguh, dan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai hamba-Nya.

Pada akhirnya, ketenangan bukan lahir karena hidup menjadi mudah, melainkan karena hati telah belajar kepada siapa ia harus bersandar. Tawakal tidak mengubah semua keadaan, tetapi mengubah cara seorang mukmin menghadapi setiap keadaan. Ketika ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh, doa dipanjatkan dengan penuh harap, dan hasil diserahkan sepenuhnya kepada Allah, kecemasan kehilangan kuasanya. Sebab tawakal bukanlah jalan untuk lari dari kenyataan, melainkan kekuatan untuk menghadapinya dengan hati yang tetap yakin kepada Allah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image