Sebelum Menolong Orang Lain, Saya Belajar Menemui Diri Sendiri
Pendidikan dan Literasi | 2026-09-18 10:06:53
https://share.google/3cNsAM99zvQFgE2KJ" />
Diri Sendiri Sebagai "Alat Kerja"
Kita sering membayangkan pekerja sosial sebagai orang yang piawai mendengarkan, sabar, dan penuh empati. Tapi jarang ada yang bilang bahwa "alat kerja" utama seorang pekerja sosial bukan metode atau teori yang dihafalkan di kelas, melainkan dirinya sendiri. Nilai yang kita anut, luka yang belum sembuh, bias yang kita bawa tanpa sadar; semua itu ikut duduk di ruang konseling bersama kita, entah kita mau atau tidak.
Itulah sebabnya kesadaran diri, atau yang dalam kajian kode etik pekerja sosial Indonesia disebut sebagai prinsip "mawas diri", ditempatkan sebagai salah satu fondasi utama profesi ini. Prinsipnya sederhana tapi berat untuk dijalani sungguh-sungguh: seorang pekerja sosial dituntut jujur mengenali kekuatan sekaligus keterbatasan dirinya sendiri, sebelum menilai kekuatan dan keterbatasan orang lain. Tanpa kejujuran itu, layanan yang kita berikan bisa jadi lebih banyak mencerminkan luka kita sendiri, bukan kebutuhan klien yang sesungguhnya kita dampingi.
Dua Sisi Cermin
Dalam bacaan-bacaan psikologi yang saya telusuri, kesadaran diri digambarkan punya dua sisi cermin. Sisi pertama menghadap ke dalam, tentang bagaimana kita memahami kepribadian, nilai, dan gejolak emosi kita sendiri. Sisi kedua menghadap ke luar, tentang bagaimana kita memahami dampak diri kita terhadap orang lain saat berinteraksi. Saya baru betul-betul memahami dua sisi ini saat terjun langsung mendampingi lansia di panti. Di sana saya belajar bahwa niat baik saja tidak cukup; saya juga harus peka pada bagaimana kehadiran saya diterima, dan kapan saya perlu mundur selangkah agar tidak mendikte, bukan mendampingi.
Kesadaran diri, dalam beberapa kajian, juga digambarkan sebagai kompas. Bukan kebetulan kalau ketertarikan saya pada isu lansia dan kesehatan mental tumbuh justru setelah proses refleksi panjang, bukan karena tren atau ekspektasi orang lain. Kompas itu yang akhirnya menuntun saya, dari pengalaman pribadi menghadapi masa transisi menuju dunia kerja, sampai pada keinginan membangun ruang yang aman bagi orang-orang yang sedang melewati masa serupa, termasuk lansia yang sering kali justru paling sunyi didengar.
Ketika Mengenal Saja Tidak Cukup
Tapi mengenal diri saja ternyata belum menyelesaikan pekerjaan rumah. Ada satu langkah lagi yang lebih menantang: menguasai apa yang sudah kita kenali itu, supaya tidak diam-diam mengganggu proses pertolongan yang sedang kita jalankan.
Saya belajar ini dengan cara yang tidak selalu nyaman. Ada masanya saya terlalu larut dalam cerita seseorang, sampai lupa menjaga jarak profesional yang justru dibutuhkan agar saya bisa berpikir jernih untuknya. Ada masanya saya harus menahan diri untuk tidak menghakimi pilihan hidup yang berbeda dari nilai yang saya pegang. Kajian tentang kecerdasan emosional menyebut bahwa kesadaran diri membantu seseorang mengenali sekaligus mengatur emosinya secara konstruktif; bagi saya, itu artinya belajar bertanya pada diri sendiri setiap selesai mendampingi seseorang: apa yang saya rasakan tadi, dan kenapa saya bereaksi seperti itu?
Dan yang tidak kalah penting, saya belajar bahwa mengenali keterbatasan diri juga berarti berani mengaku butuh bantuan; entah itu berdiskusi dengan rekan sejawat, meminta arahan dari yang lebih berpengalaman, atau sekadar memberi ruang untuk diri sendiri beristirahat dari peran menolong.
Perjalanan yang Tidak Pernah Selesai
Kalau ada yang bertanya kapan proses mengenal dan menguasai diri ini selesai, jawaban saya: tidak pernah, dan mungkin memang tidak seharusnya selesai. Setiap orang baru yang saya temui, setiap cerita yang saya dengar, selalu membuka lapisan diri saya yang belum sepenuhnya saya kenali sebelumnya.
Namun justru di situlah letak keindahannya. Sebaik apa pun teori yang saya kuasai, alat kerja saya tetap diri saya sendiri, dengan segala keretakan dan proses penyembuhannya. Dan semakin jujur saya menemui diri sendiri, semakin jernih pula saya bisa hadir untuk orang lain, tanpa lagi membebani mereka dengan persoalan yang sebenarnya adalah pekerjaan rumah saya sendiri.
Daftar Pustaka
BPPM Psikomedia. (2024). Self-Awareness: Mengenali Diri dalam Perspektif Psikologi. Fakultas Psikologi UGM. https://bppmpsikomedia.psikologi.ugm.ac.id/glopsyrium/self-awareness-mengenali-diri-dalam-perspektif-psikologi/
Hemawan, D. B. (2011). Analisis Kode Etik Profesi Pekerjaan Sosial Indonesia (Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia). https://dollybeltahemawan.blogspot.com/2011/02/analisis-kode-etik-profesi-pekerjaan.html
Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI). Kode Etik. https://www.ipspi.org/index.php/organisasi/kode-etik
Kumpulan Makalah Kessos. Prinsip-Prinsip Dasar Etik Pekerjaan Sosial. http://kessos07.blogspot.com/
Machdum, H. T. S. V. Pekerjaan Sosial Dasar-Dasar. Buku Teks Kurikulum, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. https://static.buku.kemdikbud.go.id/content/pdf/bukuteks/kurikulum21/Dasar-Pekerjaan-Sosial-BS-KLS-X.pdf
Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner (JPIM). (2026). Mengenal Diri Lebih Dalam: Peran Self-Awareness dalam Pengembangan Diri Mahasiswa. Vol. 03, No. 01, 597–605. https://ojs.ruangpublikasi.com/index.php/jpim/article/download/1751/1442/5230
Jurnal TERAPUTIK. (2024). Pengaruh Self Awareness terhadap Peningkatan Kesiapan Karir. Vol. 7, No. 3, 102–110. https://journal.unindra.ac.id/index.php/teraputik/article/download/4477/pdf
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
