Menjadi Perempuan Baik, Menurut Siapa?
Humaniora | 2026-09-17 12:30:37
Sejak kecil, banyak perempuan mungkin sudah akrab dengan satu kata yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan tuntutan yang tidak sederhana “baik.”
Anak perempuan diajarkan untuk menjadi anak yang baik. Sopan, tidak membantah, suka membantu, pandai menjaga perasaan orang lain, dan sebisa mungkin mengalah. Ketika beranjak dewasa, ukuran “baik” itu ternyata tidak berhenti. Ia justru berkembang menjadi seperangkat harapan tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya bersikap.
Perempuan yang baik harus lembut. Tidak boleh mudah marah. Tidak membuat orang lain tidak nyaman. Tahu kapan berbicara dan kapan diam. Menghormati keluarga, menjaga pasangan, mengurus rumah, memahami orang lain, dan kalau bisa tidak menjadi sumber persoalan.
Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: siapa sebenarnya yang menentukan arti “baik” bagi seorang perempuan?
Kata “baik” sering digunakan seolah-olah memiliki ukuran yang sama bagi semua orang. Padahal, dalam kehidupan sosial, kata tersebut kerap dibebani oleh harapan dan norma yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Bagi perempuan, menjadi baik acap kali tidak lagi sekadar berarti memiliki empati, bertanggung jawab, dan memperlakukan orang lain dengan manusiawi. Menjadi “baik” dapat bergeser menjadi kewajiban untuk selalu menyesuaikan diri dengan kenyamanan orang lain.
Karena itu, ketika seorang perempuan mulai berkata “tidak”, menyampaikan keberatan, memilih dirinya sendiri, atau mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan harapan orang lain, label pun mudah berubah.
Ia bisa disebut egois. Keras kepala. Tidak tahu diri. Terlalu ambisius. Bahkan dianggap sudah tidak lagi menjadi perempuan yang baik.
Di sinilah persoalannya.
Perempuan akhirnya tumbuh dengan kesadaran yang sangat kuat terhadap penilaian lingkungan. Sebelum mengambil keputusan, ia memikirkan apakah ada orang yang akan kecewa. Sebelum menolak permintaan, ia merasa perlu memberikan banyak alasan. Bahkan ketika berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman, rasa bersalah tetap muncul karena ia memilih mengatakan “tidak”.
Perempuan bukan hanya dituntut melakukan sesuatu. Ia juga dituntut melakukannya dengan cara yang menyenangkan bagi orang lain.
Ia boleh membantu, tetapi jangan mengeluh. Boleh peduli, tetapi jangan terlalu ikut campur. Harus kuat, tetapi jangan terlihat terlalu dominan. Boleh menyampaikan pendapat, tetapi jangan sampai membuat orang lain tersinggung.
Pada titik tertentu, perempuan seperti dibiasakan untuk terus membaca kebutuhan orang lain, sementara kebutuhan dirinya sendiri ditempatkan di belakang.
Dalam keluarga dan pertemanan, misalnya, perempuan sering dianggap sebagai pihak yang harus lebih memahami. Ketika terjadi konflik, ia diminta mengalah demi menjaga hubungan. Ketika ada persoalan, ia diharapkan menjadi pihak yang lebih sabar. Ketika seseorang tersinggung, ia dituntut lebih dahulu meminta maaf, bahkan ketika bukan dirinya yang memulai persoalan.
Perlahan, tumbuh keyakinan bahwa menjaga hubungan adalah tanggung jawab perempuan.
Jika hubungan rusak, ia merasa gagal. Jika keluarga tidak harmonis, ia merasa belum cukup menjadi anak atau pasangan yang baik. Jika seseorang kecewa terhadapnya, ia merasa bersalah.
Perempuan akhirnya bukan hanya belajar menjadi baik. Ia belajar merasa bertanggung jawab atas perasaan semua orang.
Padahal, ada perbedaan mendasar antara menjadi orang baik dan berusaha memenuhi semua keinginan orang lain.
Menjadi baik semestinya berarti menghargai sesama, memiliki empati, bertanggung jawab, dan tidak dengan sengaja menyakiti orang lain. Namun, menjadi baik tidak berarti harus selalu berkata “iya”. Tidak berarti harus selalu mengalah. Dan tidak berarti seorang perempuan harus mengorbankan dirinya agar semua orang merasa nyaman.
Seorang perempuan tetap dapat menjadi orang baik meskipun ia mengatakan “tidak”.
Ia tetap dapat menjadi anak yang baik meskipun memilih jalan hidup yang berbeda dari keinginan orang tua. Ia tetap dapat menjadi pasangan yang baik meskipun memiliki batasan. Ia tetap dapat menjadi sahabat yang baik meskipun tidak selalu tersedia setiap kali orang lain membutuhkan. Ia tetap dapat menjadi perempuan yang baik meskipun marah ketika diperlakukan tidak adil.
Kebaikan tidak seharusnya menghapus batas diri.
Sayangnya, membangun batas diri bukan perkara mudah bagi banyak perempuan. Ada rasa tidak enak ketika menolak. Ada kekhawatiran dianggap sombong ketika tidak bisa membantu. Ada ketakutan disebut egois ketika memilih menyediakan waktu untuk diri sendiri. Ada pula kecemasan dianggap berubah ketika mulai berani menyampaikan apa yang sebenarnya diinginkan.
Perasaan bersalah itu tidak muncul begitu saja. Ia dapat terbentuk dari pengalaman panjang ketika perempuan berulang kali diajarkan untuk mendahulukan kepentingan orang lain.
Karena itu, kalimat “jadilah perempuan yang baik” perlu kita renungkan kembali.
Baik menurut siapa? Dengan ukuran apa? Dan sampai batas mana?
Pertanyaan tersebut penting. Sebab ketika definisi “baik” dibuat terlalu sempit, perempuan tidak lagi diberi ruang untuk menjadi manusia secara utuh. Ia hanya diizinkan menampilkan sisi-sisi dirinya yang dianggap menyenangkan.
Perempuan boleh lembut, tetapi tidak boleh terlalu tegas. Boleh peduli, tetapi jangan terlalu kritis. Boleh memiliki keinginan, tetapi jangan terlalu menuntut. Boleh memiliki cita-cita, tetapi jangan sampai cita-cita itu dianggap mengganggu peran yang telah diberikan kepadanya.
Seolah-olah ada bagian dari diri perempuan yang harus terus disembunyikan agar ia tetap diterima.
Padahal, manusia tidak selalu lembut.
Manusia bisa marah. Bisa kecewa. Bisa menolak. Bisa berubah pikiran. Bisa mengambil keputusan yang tidak disukai orang lain. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Perempuan tidak seharusnya kehilangan sisi kemanusiaannya hanya demi mempertahankan predikat sebagai “perempuan baik”.
Lebih jauh, kebaikan tidak semestinya dijadikan alat untuk mengontrol pilihan hidup perempuan.
Jangan sampai kalimat “kalau kamu perempuan yang baik” digunakan untuk menanamkan rasa bersalah ketika seorang perempuan memilih jalan hidupnya sendiri.
Ketika seorang perempuan tidak ingin menikah, tidak semestinya ia langsung dianggap belum menjadi perempuan yang baik. Ketika ia memilih bekerja dan membangun karier, jangan serta-merta membuatnya merasa bersalah karena dianggap kurang memperhatikan keluarga. Ketika ia menolak perlakuan tidak adil, jangan buru-buru menyebutnya terlalu keras. Ketika ia memperjuangkan kepentingannya, jangan serta-merta menilainya egois.
Perempuan tidak harus menyenangkan semua orang untuk dianggap baik.
Yang lebih penting, perempuan perlu memiliki ruang untuk memahami bahwa dirinya juga memiliki kebutuhan yang layak didengar.
Ia berhak beristirahat. Berhak menolak. Berhak memilih. Berhak mengubah keputusan. Berhak mempertahankan pendapat. Bahkan berhak mengecewakan orang lain ketika sebuah keputusan memang diperlukan untuk menjaga dirinya.
Sebab hidup yang seluruhnya dihabiskan untuk membuat orang lain bahagia pada akhirnya dapat membuat seseorang kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Menjadi baik seharusnya tidak berarti kehilangan diri sendiri.
Kebaikan semestinya lahir dari kesadaran, bukan ketakutan. Dari empati, bukan rasa bersalah. Dari pilihan, bukan paksaan untuk selalu memenuhi ekspektasi.
Maka, mungkin sudah waktunya kita mengajarkan kepada anak-anak perempuan bahwa menjadi baik tidak harus berarti selalu mengalah.
Bahwa mengatakan “tidak” bukan tanda tidak memiliki hati.
Bahwa memiliki batas bukan berarti tidak peduli.
Dan bahwa memilih diri sendiri, pada situasi tertentu, bukanlah bentuk keegoisan. Bisa jadi, itu justru cara seseorang belajar menghargai dirinya sebagai manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
