Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dewi ROHMAWATI

Mahalnya Harga Sebuah Mimpi di Indonesia

Politik | 2026-09-17 11:40:27

Ingatkah ketika SD, guru sering bertanya “Nak, kalau besar nanti cita-citamu mau jadi apa?”, jawaban yang keluar begitu ringan dan polos “Mau jadi dokter, Bu!” atau “Mau jadi polisi, Bu!” Pada usia itu, anak-anak belum mengenal berapa biaya kuliah yang harus dikeluarkan, tidak pusing memikirkan harga tanah, cicilan rumah, atau berapa banyak buku yang harus dibeli demi mencapai cita-cita. Bagi mereka, masa depan adalah kanvas kosong yang menyenangkan, bermimpi itu gratis dan sederhana

Namun, cara pandang tersebut perlahan bergeser seiring bertambahnya usia. Memasuki usia remaja akhir hingga dewasa awal, realitas sosial-ekonomi mulai menagih harga dari mimpi-mimpi tersebut. Kita mulai paham mengapa ada teman dekat yang terpaksa putus sekolah atau langsung bekerja begitu lulus SMA. Memilih pekerjaan bukan lagi sekedar soal menyampaikan minat, atau mengikuti passion.

Pertimbangannya bergeser menjadi hal-hal mendasar, apakah gaji yang diterima cukup untuk membayar sewa tempat tinggal, memenuhi makan sehari-hari, apakah bisa menabung, membantu orang tua, dan jika masih beruntung kita bisa membeli barang impian tanpa disertai rasa bersalah.

Kita dibesarkan di tengah nasihat untuk bermimpi mencapai langit. Namun di saat yang sama, kenyataan hidup memaksa kita untuk selalu berhitung. Wajar jika pada akhirnya banyak anak muda mulai takut bermimpi. Bukan karena tidak punya keinginan, melainkan karena mereka paham betul berapa mahal harga sebuah mimpi.

Dalam kajian sosiologi dan ekonomi masyarakat, garis start setiap orang dalam mengejar cita-cita tidak pernah benar-benar sama. Ada ketimpangan mengenai ketersediaan “ruang untuk mencoba”. Bagi kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, kegagalan adalah hal yang wajar dan tidak dapat diperbaiki. Ketika gagal masuk perguruan tinggi negeri atau salah mengambil jurusan, mereka bisa dengan tenang mengambil gap year, mengikuti berbagai kursus, atau keluar kota untuk mencoba kembali. Ada jaring pengaman yang menopang mereka.

Sebaliknya, bagi anak-anak muda dari keluarga kurang mampu, jatah untuk gagal hampir tidak ada. Satu kali kegagalan, seperti tidak lolos beasiswa, gagal ujian seleksi, atau terpaksa keluar kuliah karena biaya semester, bisa membuyarkan seluruh mimpi mereka.

Bagi mereka, hidup terlalu mahal untuk sekadar memberikan kesempatan kedua.Orang bilang, Indonesia sedang bertumbuh. Gedung-gedung tinggi bermunculan, jalan tol kian memanjang, kereta melaju secepat kilat, sawah maupun hutan berganti rupa menjadi kawasan modern.

Katanya, kita sedang menuju masa depan yang cerah. Namun “Masa depan yang mana?”

Karena di sisi lain, ada ribuan lulusan sarjana yang mengantongi ijazah sambil terus menyebar puluhan lamaran kerja tanpa ada satupun jawaban. Ada pekerja muda yang harus dihitung sebelum tanggal gajian tiba. Ada pula siswa yang terpaksa mengubur mimpinya karena biaya pendidikan tinggi terus melambung di luar jangkauan kemampuan keluarganya.

Kerja keras saja nyatanya tidak selalu cukup, tarif pendidikan yang melonjak, harga perumahan yang semakin tak terjangkau, upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup, serta persaingan kerja yang menuntut pengalaman dari lulusan baru (freshgraduate).

Celakanya, ketika anak muda merasa lelah menghadapi kerumitan negeri ini, mereka dicap “kurang tangguh”, “terlalu memilih pekerjaan”, atau “generasi yang tidak tahan susah”. Padahal, pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah “Mengapa negara ini dibuat sulit untuk perairan?

Merelakan mimpi tentu terasa berat. Pertanyaannya, apakah kita akan sempat merangkai mimpi itu sampai akhir, atau justru usia kita yang lebih dulu habis di tengah jalan? Namun, dengan kita berani berjuang, berproses demi sesuatu yang berharga, itu saja sudah cukup untuk mencapai keberhasilan. Tdak peduli sampai garis akhir atau tidak, mereka yang harus menyelesaikannya lebih awal di tengah jalan bukanlah orang yang gagal.

Pada akhirnya, indikator kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari seberapa tinggi gedung yang berhasil dibangun maupun seberapa cepat angka pertumbuhan ekonominya. Melainkan mampukah mereka membuat “langit” terasa lebih luas dan adil bagi siapa saja yang hidup di bawahnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image