Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ria Febrina

Presiden Prabowo dan Metafora Londo Ireng

Humaniora | 2026-07-26 22:36:25
Foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia

Pada Jumat, 24 Juli 2026 lalu, tepatnya pada Pidato Peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta, Presiden Prabowo mengeluarkan metafora londo ireng. Metafora ini berasal dari dua kata, yaitu londo yang merujuk pada Belanda atau orang asing dan ireng yang dalam bahasa Jawa bermakna ‘hitam’. Dalam sejarah Indonesia, londo ireng merupakan istilah yang dipakai untuk orang-orang Afrika yang dibawa oleh pemerintah kolonial untuk dijadikan tentara. Orang-orang Afrika ini direkrut sebagai pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) dan digunakan untuk menjaga kekuasaan Belanda di wilayah jajahan Indonesia.

Lalu, mengapa Presiden Prabowo kemudian menggunakan londo ireng? Presiden Prabowo memakai londo ireng untuk menyebut orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Menurut Presiden Prabowo, orang Indonesia yang dulu ikut Belanda berperang melawan Indonesia disebut dengan londo ireng. Meskipun londo ireng ini sudah tidak ada lagi karena Indonesia sudah merdeka, Prabowo kemudian menggunakannya sebagai metafora karena menganggap masih ada masyarakat Indonesia yang berperilaku seperti londo ireng.

Dalam kajian linguistik, metafora merupakan unsur mendasar dalam sistem berpikir manusia. Metafora bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan ranah pemikiran, baik pemikiran tentang emosi, tentang masyarakat, tentang karakter manusia, tentang bahasa, maupun tentang hakikat hidup dan mati. Metafora-metafora ini membangun kerangka kognitif pengetahuan sosial dan pandangan dunia.

Novi Eka Susilowati, I Dewa Putu Wijana, and Hayatul Cholsy (2023) dalam “Analisis Metafora Kritis: Menuju Kerangka Teoritis dan Analisis Berbasis Korpus” menjelaskan bahwa sebuah metafora menjadi ungkapan yang dapat menunjukkan konseptualisasi pengalaman, perasaan, dan pemikiran seseorang dalam memahami suatu entitas. Metafora menjadi ekspresi linguistik yang maknanya tidak dapat dipahami secara langsung dari simbol yang digunakan, tetapi harus melalui interpretasi terhadap ekspresi linguistik tersebut.

Dalam hal ini, metafora londo ireng yang disampaikan oleh seorang presiden jelas-jelas menunjuk pada pengalaman Presiden Prabowo pada masa lampau yang dijadikan pembanding untuk mengekspresikan suatu maksud tertentu. Prabowo menyampaikan maksud melalui kemiripan (similarity). Josef Stern (2018) menyatakan bahwa seseorang bisa menyampaikan pemikirannya melalui similarities atau kemiripan. Kemiripan-kemiripan antara lain kemiripan fisik atau ragawi (physical similarities), kemiripan sifat khas (characteristic similarities), dan kemiripan yang berhubungan dengan konsepsi ataupun kemiripan kebudayaan (conceptual similarities or cultural similarities). Metafora londo ireng menunjukkan kemiripan fisik atau ragawi berdasarkan warna kulit para tentara KNIL yang berasal dari Afrika.

Metafora londo ireng ini tidak akan menjadi sebuah masalah jika diucapkan oleh orang-orang yang berdiskusi di sebuah warung kopi. Metafora ini justru menjadi sebuah persoalan karena diucapkan oleh seorang presiden, yakni Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Apalagi, Presiden Prabowo langsung menyebutkan kepada siapa metafora londo ireng tersebut dialamatkan. Secara tegas Presiden Prabowo menyebutkan metafora londo ireng ditujukan kepada wartawan atau jurnalis yang lebih mementingkan kepentingan bangsa lain daripada bangsa Indonesia.

Metafora ini dinilai membangun narasi negatif karena Presiden Prabowo dianggap merendahkan profesi jurnalis. Jika seorang wartawan dan jurnalis yang mengungkap fakta, menyatakan kritik atas kinerja pemerintah dianggap ancaman, bukan sebagai alat kontrol kerja pemerintah, tentu saja hal ini akan berdampak buruk terhadap kebebasan pres dan kehidupan demokrasi di Indonesia.

Dalam kajian linguistik, pernyataan Presiden Prabowo melalui metafora ini berdaya cipta untuk menyangkal sifat-sifat kemanusiaan seseorang dan secara sengaja digunakan sebagai ungkapan kebencian terhadap seseorang sebagaimana yang diungkapkan Prażmo (2020) melalui tulisannya “Foids are worse than animals. A cognitive linguistics analysis of dehumanizing metaphors in online discourse. Sebuah metafora dapat mendegradasi martabat manusia. Metafora londo ireng yang dihasilkan oleh Presiden Prabowo dan dialamatkan langsung kepada jurnalis merupakan upaya yang secara sengaja mengecilkan peran wartawan melalui pelabelan yang bermakna negatif.

Ketika Presiden Republik Indonesia yang menyatakan ini, tentu saja metafora ini bermakna peyoratif karena dianggap melanggar UU No. 40 tahun 1999 tentang pers. Negara melalui pemimpinnya—dalam hal ini presiden—berkewajiban menciptakan lingkungan yang memungkinkan pers bekerja secara bebas, aman, dan profesional, serta bertanggung jawab. Namun, tuduhan presiden melalui metafora londo ireng terhadap profesi jurnalis dianggap tuduhan yang tidak mendasar dan tentu saja tidak pantas dilontarkan oleh seorang presiden.

Oleh karena itulah, metafora londo ireng yang pada awalnya dianggap sebagai kritik oleh Presiden Prabowo terhadap profesi tertentu kemudian menjadi bumerang karena telah menjadi stigmatisasi atau narasi negatif terhadap kerja jurnalis yang menjalankan fungsi sebagai kontrol publik. Pernyataan Presiden Prabowo ini dinilai dapat menjadi intimidasi terhadap wartawan yang melaksanakan pemberitaan kritis dan juga dinilai tidak menghormati kebebasan pers.

Dalam analisis wacana kritis, siapa yang berbicara dan membicarakan apa, menjadi sorotan penting, terutama ketika yang berbicara adalah seorang pemimpin bangsa, khususnya seorang presiden. Apalagi yang dibicarakan adalah profesi jurnalis yang menuntut adanya kebebasan berpendapat dan menjalankan fungsi sebagai kontrol publik. Metafora londo ireng telah menunjukkan kepada kita bahwa tuturan seorang pemimpin bangsa dapat menunjukkan keberpihakan atau ketidakberpihakan terhadap suatu profesi dan orang-orang yang menjalankan profesi tersebut.

Daftar Pustaka
Prażmo, E. (2020). "Foids are Worse than Animals: A Cognitive Linguistics Analysis of Dehumanizing Metaphors in Online Discourse." Topics in Linguistics, vol. 21, no. 2, pp. 16 27. doi: 10.2478/topling-2020-0007.
Stern, Josef. (2018). Metaphor in Context. Cambridge: MIT Press.
Susilowati, Novi Eka, I Dewa Putu Wijana, and Hayatul Cholsy. 2023. "Critical Metaphor Analysis: Toward A Theoretical Framework And Corpus Based", International Seminar on Language, Education, and Culture. Universitas Negeri Malang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image