Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Nurannisa

Bunga, Tembok, dan Suara yang tak Didengar

Sastra | 2026-01-04 23:14:40
Gambar: Sumber milik pribadi

Puisi sering dipakai untuk menyampaikan hal-hal yang sulit diucapkan secara langsung. Marah, kecewa, dan rasa tidak adil kadang lebih aman disampaikan lewat perumpamaan. Hal itu terlihat jelas dalam dua puisi ini, Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul dan Kau karya Nuke Hanasasmit.

Dalam puisi Bunga dan Tembok, “kami” digambarkan sebagai bunga. Bunga biasanya identik dengan sesuatu yang hidup dan indah. Namun di sini, bunga justru dianggap tidak diinginkan. Ia tidak boleh tumbuh dan bahkan dirontokkan di tanahnya sendiri. Lewat metafora ini, “kami” bisa dibaca sebagai rakyat kecil yang keberadaannya sering dianggap mengganggu.

Lawan dari bunga adalah tembok. Tembok digambarkan sebagai sesuatu yang keras, kaku, dan menutup ruang. Ia dibangun lewat rumah, jalan raya, dan pagar besi. Semua itu menunjukkan kekuasaan yang lebih mementingkan pembangunan daripada kehidupan manusia. Meski begitu, puisi ini tidak berakhir dengan putus asa. Bunga menyebarkan biji-biji di tubuh tembok. Artinya, masih ada harapan bahwa suatu hari tembok itu bisa runtuh.

Berbeda dengan itu, puisi Kau tidak memakai simbol alam. Bahasanya lebih langsung. Puisi ini hanya membenturkan dua kata: “kami” dan “kau”. “Kami” adalah orang-orang yang bekerja keras, berkeringat, dan hidup dalam kekurangan. Sementara “kau” digambarkan sebagai pihak yang mengambil hak dan membiarkan penderitaan terjadi.

Metafora yang muncul dalam puisi Kau lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ungkapan seperti “banting tulang”, “keringat”, dan “menari-nari di atas penderitaan” mudah dipahami tanpa perlu penafsiran yang rumit. Pertanyaan tentang “hati” dan “mata” juga sederhana, tetapi terasa menyakitkan karena menyentuh soal hilangnya rasa peduli.

Jika dibandingkan, Bunga dan Tembok menyampaikan perlawanan dengan cara yang lebih halus dan simbolis. Puisi ini percaya bahwa perubahan bisa tumbuh perlahan. Sementara Kau menyampaikan protes secara terbuka dan emosional. Ketika “kami” merasa tidak sanggup melawan, harapan terakhir diserahkan kepada Tuhan.

Dua puisi ini menunjukkan bahwa metafora bisa dipakai dengan cara yang berbeda. Ada yang memilih jalan simbol dan perumpamaan, ada juga yang memilih bahasa yang lugas. Namun keduanya sama-sama lahir dari rasa tidak adil dan keinginan untuk bersuara.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image