Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Ramadhan (046) Syahidna: Kami Bersaksi

Khazanah | 2026-03-02 16:34:58

Ada satu kata dalam Al-Qur’an yang begitu kuat, namun sering kita lewati tanpa getar: syahidna — kami bersaksi. Ia bukan sekadar jawaban, melainkan pernyataan tegas yang lahir dari kesadaran penuh. Bukan bisikan ragu, bukan anggukan samar. Ia adalah deklarasi jiwa.

Di hadapan cahaya yang membelah cakrawala, seorang hamba membuka tangannya seolah memperbarui kesaksian lama: bahwa Allah adalah Rabbnya. Setiap terbitnya matahari adalah pengingat bahwa syahidna bukan sekadar kata, tetapi komitmen hidup yang harus dibuktikan dalam setiap langkah dan pilihan.

Dalam Qur'an, QS. Al-A’raf ayat 172, Allah mengabadikan momen agung ketika seluruh ruh manusia ditanya: “Alastu bi Rabbikum?” — “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Dan kita menjawab, “Balaa syahidna” — “Benar, kami bersaksi.”

Itulah syahadat pertama kita.

Sebelum lisan ini mampu berbicara.

Sebelum dunia memengaruhi pilihan kita.

Kesaksian itu bukan jawaban basa-basi. Ia adalah komitmen. Ia adalah pengakuan total atas rububiyah Allah. Artinya, hidup kita seharusnya menjadi bukti dari kesaksian tersebut.

Namun mari jujur sejenak.

Jika hari ini Allah bertanya kembali, “Bukankah Aku Tuhanmu?” — apakah jawaban kita masih sekuat dulu? Apakah hidup kita sudah mencerminkan kesaksian itu?

Karena syahidna bukan hanya terdengar di langit, tetapi seharusnya terlihat di bumi.

Ia terlihat dalam shalat yang dijaga, bukan ditunda.

Dalam puasa yang bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan amarah.

Dalam kejujuran saat tidak ada yang melihat.

Dalam pilihan-pilihan kecil yang lebih memilih ridha Allah daripada tepuk tangan manusia.

Ramadhan pekan kedua sering menjadi titik rawan. Semangat mulai melandai. Kelelahan mulai terasa. Di sinilah kesaksian diuji. Apakah ia hanya gema masa lalu, atau komitmen yang terus hidup?

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang pembaruan janji. Kesaksian itu perlu diperbarui—bukan dengan mengulang lafaznya, tetapi dengan menguatkan amalnya.

Karena syahadat bukan hanya ucapan dua kalimat. Ia adalah arah hidup. Ia menentukan cara kita bekerja, berbicara, mencintai, dan bersabar.

Ajakan Muhasabah

Mari kita bertanya pada diri sendiri di pekan kedua ini:

Apakah hidupku sudah menjadi bukti dari “syahidna”?

Apakah ibadahku sekadar kebiasaan, atau benar-benar cermin kesaksian?

Ramadhan masih memberi waktu.

Masih ada malam untuk memperbaiki sujud.

Masih ada hari untuk meluruskan niat.

Jangan biarkan kesaksian itu memudar oleh rutinitas.

Perbarui ia dengan amal. Hidupkan ia dengan keistiqamahan.

Karena kelak, kita akan kembali menghadap Allah—dan yang akan ditanya bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi bagaimana kita membuktikannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image