Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image FDR R

Makan Bergizi Gratis: Pisau Bermata Dua bagi Ekonomi Indonesia

Politik | 2026-05-29 16:30:37

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertindak sebagai pisau bermata dua bagi perekonomian Indonesia karena menjadi stimulus kuat di tingkat akar rumput sekaligus memberi tekanan berat pada stabilitas fiskal dan moneter negara. Di satu sisi, kebijakan ini menciptakan efek ganda (multiplier effect) yang masif bagi puluhan juta penerima manfaat melalui operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Rantai pasok program ini secara nyata menghidupkan ekosistem ekonomi mikro dengan menyerap hasil panen petani, peternak, dan pedagang pasar tradisional secara langsung. Dalam jangka panjang, intervensi pemenuhan gizi berskala besar ini merupakan bentuk investasi modal manusia (human capital) yang sangat krusial untuk mencetak angkatan kerja masa depan yang sehat, cerdas, serta berdaya saing tinggi.

Namun di sisi lain, program raksasa ini membawa risiko makroekonomi besar yang memperparah kerentanan ekonomi domestik, terutama di tengah merosotnya nilai tukar Rupiah. Tingginya ketidakpastian geopolitik global yang mengerek Dolar AS hingga sempat membuat Rupiah anjlok menembus level psikologis Rp17.800 per dolar menciptakan tekanan ganda terhadap APBN. Kekhawatiran pasar finansial global terhadap pembengkakan anggaran domestik ikut andil dalam memperlemah sentimen mata uang Garuda. Kondisi ketat ini memaksa Menteri Keuangan melakukan langkah drastis dengan memangkas outlook anggaran belanja MBG tahun 2026 sebesar Rp67 triliun, sehingga pagu anggaran yang semula diproyeksikan mencapai Rp335 triliun kini diciutkan menjadi Rp268 triliun.

Pemotongan masif atas instruksi langsung Presiden ini mencerminkan betapa beratnya beban belanja negara dan tingginya risiko defisit di kala nilai tukar sedang terpuruk. Selain tantangan pembiayaan, penyerapan bahan pangan serentak dalam jumlah masif juga terus membayangi ketahanan pasar karena berpotensi memicu inflasi barang pokok jika suplai lokal gagal mengimbangi permintaan. Oleh karena itu, keberhasilan jangka panjang MBG tidak lagi hanya diukur dari tersalurkannya makanan, melainkan pada ketajaman efisiensi dan transparansi tata kelola anggaran di tengah upaya keras menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan kas negara.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image