Menghidupkan Hari dan Malam Ramadhan dengan Ibadah
Agama | 2026-02-28 12:54:53
Bulan Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti umat Islam karena di dalamnya diwajibkan berpuasa dan dilipatgandakannya pahala setiap amal kebaikan.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah Swt berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al Baqarah : 183)
Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga belaka, melainkan juga menahan melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa mendatangkan dosa, dan bisa membatalkan puasa.
Oleh karena itu, untuk menghindarkan diri dari itu, Ramadhan menjadi kesempatan terbaik untuk memperbanyak amalan yang mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Memperbanyak Dzikir
Dzikir merupakan amalan sederhana, namun mendatangkan pahala yang luar biasa. Apalagi jika melakukannya di bulan Ramadhan. Dzikir membantu menenangkan hati, membersihkan dosa, serta meningkatkan derajat seorang hamba di sisi Allah. Di bulan Ramadhan, amalan sederhana ini menjadi semakin bernilai ketika dilakukan secara konsisten, terutama pada waktu-waktu mustajab. Bacaan dzikir dapat diucapkan secara lisan maupun batin. Untuk mendapatkan manfaat yang lebih maksimal, dzikir dapat dibaca di waktu-waktu terbaik, seperti setelah Sholat Fardhu, saat sepertiga malam, 10 malam terakhir bulan Ramadhan atau Malam Lailatul Qadar.
Dalam Surah Al-Ahzab ayat 41, Allah SWT berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya.” (Q.S. Al- Ahzab : 41)
Tadarus Al-Qur'an
Dalam riwayat Hadits Nabi SAW yang berbunyi,
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya: “Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril as menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah SAW orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)
Seperti yang tertuang dalam Hadits tersebut di atas yang menjelaskan bahwa pada bulan suci Ramadhan ini, malaikat Jibril mengajari Rasulullah SAW tentang Al-Qur'an. Dari hadits ini para ulama menjadikannya sebagai tolak ukur dalil yang menganjurkan bertadarus Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.
Dalam beberapa riwayat juga dijelaskan bahwa Rasulullah SAW akan memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibanding bulan lainnya. Kemudian, kebiasaan ini diikuti oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, dan para umat Muslim pada umumnya.
Memperbanyak Do’a
Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk memperbanyak do’a. Dalam suasana hati yang tenang dan ibadah yang intens, seorang Muslim dapat menyampaikan harapan, permohonan ampun, serta do’a-do’a kebaikan dunia dan akhirat. Waktu mustajab dalam berdo’a yaitu, menjelang berbuka puasa, sepertiga malam terakhir, dan setelah melaksanakan sholat fardhu. Berdo’a dapat memperkuat hubungan spiritual kita dengan Allah, dan untuk melatih ketundukan dan keikhlasan hati.
Shalat Tarawih
Shalat tarawih merupakan ibadah sunnah yang menjadi ciri khas Ramadhan dan memiliki keutamaan besar bagi yang mengerjakannya. Merujuk pada Durratun Nashihin, setiap malam Shalat Tarawih di bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Sepuluh malam pertama dipenuhi dengan ampunan dan rahmat, di mana dosa-dosa dihapus dan pahala besar dilimpahkan. Sepuluh malam kedua menjadi fase kenaikan derajat, dengan berbagai keutamaan seperti keselamatan di hari kiamat, keridaan Allah, hingga jaminan surga. Sementara itu, sepuluh malam terakhir merupakan puncaknya, yakni pembebasan dari api neraka, pengangkatan derajat di surga, serta limpahan pahala yang berlipat ganda. Yang terpenting bukanlah jumlah rakaatnya, melainkan konsistensi dan kekhusyukan dalam menjalankannya. Melalui tarawih, Ramadhan terasa lebih hidup karena malam-malamnya diisi dengan ibadah.
Qiyamul Lail dan Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir
Memasuki sepuluh malam terakhir, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan ibadah, terutama qiyamul lail. Malam-malam tersebut memiliki keutamaan yang besar karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Menghidupkan malam dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak istighfar menjadi bentuk kesungguhan dalam meraih keberkahan Ramadhan.
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: ”Barangsiapa yang menunaikan ibadah shalat malam pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bersedekah
Ramadhan juga dikenal sebagai bulan kepedulian sosial. Amalan ini sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Islam. Bersedekah dapat berupa makanan untuk orang berbuka, bantuan materi, maupun dukungan kepada yang membutuhkan. Sedekah dapat menumbukan rasa empati dan membersihkan hati dari sifat kikir. Di bulan penuh pahala ini, setiap kebaikan dilipatgandakan, sehingga Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk berbagi.
Menjaga dan Mempererat Silaturahmi
Selain ibadah personal, Ramadhan juga menjadi kesempatan memperbaiki hubungan dengan sesama. Menghubungi keluarga, meminta maaf, dan menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat renggang merupakan bagian dari amalan yang bernilai besar. Menjalin silaturahmi memiliki keutamaan besar, di antaranya dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur. Allah Swt menjanjikan kemudahan serta keluasan rezeki bagi mereka yang menjaga hubungan baik dengan sesama. Selain itu, meskipun usia telah ditetapkan, silaturahmi menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan umur.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
