Salah Arah, Ketika Kekuasaan tidak Dipegang Ahlinya
Politik | 2026-02-14 20:17:21Salah Arah : Ketika Kekuasaan Tidak Dipegang oleh Ahlinya
Oleh : Masita Maya
Sejarah Islam mencatat bahwa kemajuan bukanlah kebetulan semata, melainkan hasil dari sistem yang menghormati kompetensi. Pada masa awal pemerintahan Islam, penunjukan jabatandilakukan berdasarkan kepakaran dan integritas, bukan kedekatan ataupun popularitas. Parakarena keahlian literasinya, Khalid bin Walid sebagai panglima karena keahlian militernya, dan Mua’adz bin Jabal diutus ke Yaman karena keluasan ilmunya. Ya, bisa dikatakan bahwa meritokrasi telah dijalankan pada masa itu. Ketika ilmu dihargai dan amanah dijaga, lahirlah peradaban yang menjadi sentral dari sains, ekonomi dan tata kelola. Prinsip inilah yang menjadikan peradaban Islam dikenal luas di seluruh penjuru negeri. Di sinilah saatnya sejarah digaungkan kembali, bukan untuk dipuja melainkan untuk dijadikan sebagai cermin. Di tengah gejolak situasi politik, muncul sebuah pertanyaan: sejauh mana prinsip ini dipegang untuk memajukan kehidupan bangsa Indonesia? Kita menyaksikan bahwa tak selamanya jabatan diemban oleh orang yang berkompetensi. Popularitas kerap lebih menonjol dibandingkan dengan kapasitas; loyalitas kerap kali dipertimbangkan dibandingkan dengan profesionalitas. Dan mirisnya, koneksi menjadi senjata utama pelanggengan jabatan. Dalam hiruk pikuk kehidupan, pertimbangan politis acap kali mengalahkan acap kali menganak tirikan kepakaran. Jika pola ini terus berulang, maka peringatan yang telah dikatakan Rasulullah bukan lagi sekadar teks sejarah, melainkan realitas yang hanya menunggu waktu. Ketika amanah dipegang oleh yang bukan ahlinya, efek yang ditimbulkan bagaikan deretan domino yang disentuh ujungnya. Satu kepingan runtuh akan menjalar ke kepingan-kepingan lainnya. Ketika keputusan diambil dengan serampangan tanpa ada fondasi keahlian yang mumpuni, akan menghasilkan kebijakan yang reaktif, tidak solutif, bahkan kontraproduktif. Program-program pemerintah berjalan tanpa arah yang jelas, anggaran yang terkesan dipaksa, dan pada akhirnya, masyarakat yang menanggung kegagalannya. Melalui kebijakan yang tidak berpihak dan bersimpati kepada rakyat, memperlebar jarak antarkelas sosial, menurunkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Hilangnya kepercayaan inilah yang sangat berbahaya.
Para sahabat ditunjuk sesuai kapasitasnya, Rasulullah telah menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai ahli bahasa dan pencatat wahyu.
Peringatan ini bukan hanya seruan spiritual, tetapi juga hukum sosial.
peringatan kepada umat-Nya bahwa kehancuran akan datang jika suatu urusan tidak diberikan kepada ahlinya.Di setiap zaman, peradaban yang tangguh selalu berdiri di atas satu prinsip mendasar: amanah
Tanpa adanya saling percaya, hubungan antara rakyat dan pemimpin kehilangan fondasi yang menyatukan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
