Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ida Wahyuni

Tan Malaka (1897 - 1949) Perjuangan Revolusi yang Belum Tuntas

Politik | 2026-01-16 10:02:49

*Tan Malaka (1897 -1949) Perjuangan Revolusi yang belum tuntas.*

Beberapa waktu belakangan ini narasi tentang Tan Malaka cukup menarik perhatian kami, karena beliau dikisahkan sebagai salah satu pejuang yang turut menjadi founding father negeri ini, bahkan konon beberapa pemikirannya diadopsi oleh Bapak Proklamasi Soekarno - Hatta.Tan Malaka, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang lahir pada 2 Juni 1897 di Pandam Gadang, Sumatera Barat. Nama aslinya adalah Ibrahim, tapi lebih dikenal sebagai Tan Malaka, sebuah gelar yang merujuk pada latar belakang bangsawannya. Ayahnya, HM. Rasad, adalah seorang buruh tani, sedangkan ibunya, Rangkayo Sinah Simabur, berasal dari keluarga terpandang.
Tan Malaka dikenal sebagai tokoh kiri yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Sarekat Islam, Partai Komunis Hindia Belanda (PKH), dan mendirikan Partai Murba. Tan Malaka juga dikenal sebagai penulis yang produktif, dengan karya-karya seperti "Naar de Republiek Indonesia" dan "Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika".
Perjuangan Tan Malaka tidak terbatas pada politik saja. Ia juga aktif dalam bidang pendidikan, mendirikan sekolah untuk anak-anak Sarekat Islam di Semarang. Namun, perjuangannya tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah ditangkap dan diasingkan ke Belanda, dan kemudian menjadi buronan di beberapa negara.
Tan Malaka meninggal pada 21 Februari 1949 di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, setelah ditangkap dan dieksekusi oleh tentara Indonesia. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1963.
Tan Malaka adalah seorang muslim yang cukup mendapatkan bekal pendidikan agama Islam dari keluarga, bahkan dikisahkan telah khatam menghafal Al Qur'an di usia 10 tahun. Tan Malaka pada dasarnya berjuang untuk membela rakyat Nusantara dan berusaha membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajah asing, baik Belanda maupun Jepang. Hanya sayangnya perjuangan beliau belum selesai, pemikiran beliau untuk perjuangan kemerdekaan negeri ini tanpa kompromi dengan asing baik Belanda maupun Jepang, mendapat penentangan dari Soekarno Hatta. Tan Malaka berpendapat bahwa bangsa kita mampu untuk merdeka dengan kekuatan sendiri, bukan hadiah dari Belanda ataupun Jepang. Pemikiran beliau untuk memerdekakan negeri ini dari segala macam bentuk penjajahan pada dasarnya cocok dengan apa yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir. Andaikan beliau sempat bertemu dan berguru pada Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir. Insyaa Allah bisa menjadi kolaborasi yang sangat tepat untuk membebaskan negeri ini dan semua negeri kaum muslimin dari segala macam bentuk penjajahan. Wallahu a'lam. Allahu Akbar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image