Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Cahyanudien Aziz Saputra

Sastra Fragmentaris: Menemukan Kejujuran dalam Cerita Tanpa Plot

Sastra | 2026-03-18 14:31:42

Dunia literasi kita selama ini akrab dengan struktur narasi yang patuh pada hukum sebab-akibat. Ada awal yang menjanjikan, konflik yang memuncak, dan akhir yang memberikan jawaban. Namun, apakah hidup kita benar-benar berjalan se-linear itu?

Ilustrasi: BUKU

Seringkali, hidup justru terasa seperti serpihan momen yang tidak mengarah ke mana-mana. Hal inilah yang coba ditangkap melalui genre prosa fragmentaris atau slice of life. Alih-alih mengejar klimaks, genre ini lebih menghargai "kejadian-kejadian kecil" yang biasanya dianggap sebagai angin lalu dalam sebuah novel konvensional.

Belajar dari Ketidakpastian

Eksplorasi terhadap narasi yang "tidak selesai" ini muncul dalam sebuah karya fiksi indie berjudul ACHE: Hidup Seperti Apa Ini?. Melalui tokoh bernama Rei, pembaca diajak menyusuri keseharian di sebuah kota di Jepang yang sunyi. Menariknya, tidak ada plot besar yang harus dituntaskan. Penulisnya, Cahyanudien Aziz Saputra, justru memilih untuk menyajikan 32 fragmen pendek yang berdiri sendiri.

Dalam fragmen-fragmen tersebut, kita hanya melihat koin yang mengambang di genangan banjir, mesin penjual otomatis yang rusak, atau nomor antrean yang tak kunjung dipanggil. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada resolusi manis. Bagi pembaca yang terbiasa dengan drama, ini mungkin terasa asing. Namun, bagi mereka yang mencari kejujuran, narasi tanpa plot ini justru terasa sangat dekat dengan realitas manusia yang sering kali terjebak dalam ketidakpastian.

Sastra sebagai Bentuk Perlawanan

Di era modern yang menuntut segalanya harus memiliki tujuan (purpose-driven), membaca atau menulis cerita tanpa plot adalah sebuah bentuk perlawanan kecil. Kita belajar untuk tidak terburu-buru mencari kesimpulan. Kita belajar bahwa sebuah momen memiliki nilainya sendiri, meski ia tidak berkontribusi pada "tujuan besar" sebuah cerita.

Mungkin sudah saatnya kita memberikan ruang lebih bagi genre-genre eksperimental seperti ini di tanah air. Sastra bukan sekadar alat untuk menghibur atau menyampaikan pesan moral secara gamblang, melainkan cermin untuk melihat hidup apa adanya: kadang membosankan, seringkali membingungkan, namun selalu layak untuk dicatat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image