Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nabila

Apakah Sastra Indonesia Bisa Mendunia?

Sastra | 2026-05-14 15:54:44

Apakah Sastra Indonesia dapat Mendunia?

Karya sastra merupakan diplomat masing-masing negara, karena mewakili budaya dan masyarakat negara terkait. Bidang budaya sering mendukung bidang lain misalnya; ekonomi, sosial, dan politik, contoh; di Korea ada budaya K-pop dan K-drama yang dapat dikomersialkan. Kita perlu mempromosikan negaranya terlebih dahulu, seperti halnya gelombang Korea mewarnai dunia. Contoh lain dapat diterapkan dengan; 18th Asian Games Jakarta Palembang 2018.

Globalisasi Sastra Indonesia? Memerlukan tokoh-tokoh sastra bertaraf internasional. Langkah kedua adalah menghasilkan karya-karya sastra berkualitas tinggi. Sastra yang mampu menembus batas nasional biasanya mengangkat nilai-nilai universal kemanusiaan, seperti kebebasan, keadilan, dan martabat manusia. Namun demikian, misalnya; kekuatan utama sastra Indonesia justru terletak pada kekhasannya; nilai-nilai lokal, budaya, dan pengalaman historis yang unik. Dunia tidak membutuhkan karya yang seragam, melainkan suara yang autentik. Ekosistem kesusastraan di Indonesia pun juga mendukung adanya perkembangan budaya kreatif.

Sifat lokal merupakan sifat yang paling mendunia. Usaha dan eksperimen Sutardji Calzoum Bachri patut diberi apresiasi, dikarenakan karya nya yang melahirkan genre baru dengan kedudukan yang sama pentingnya dengan sejarah puisi Chairil Anwar. Gagasan dari Sutardji pun adalah kata-kata yang tidak hanya sebagai sarana untuk menyampaikan sebuah pengertian. Sebab diksi yang digunakan justru bebas dari penjajahan pengertian dari beban idea. Sutardji juga memberontak terhadap tradisi pengertian tentang puisi. Ia ingin menonjolkan sisi lain dari puisi yang sarat oleh pikiran. Contoh lainnya ada pada di tahun 2019 Literature Translation Institute of Korea telah menerbitkan kumpulan terjemahan cerpen Indonesia . 22 cerpen oleh 10 penulis berhasil mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia dengan sempurna. Pembahasan mengenai persoalan keluarga, kemerdekaan, agama, dan isme (pemikiran kiri dan kanan).

Pentingnya seorang penerjemah. Tanpa penerjemahan, sastra aka tetap terkurung dalam bahas bahasa tertentu. Dalam konteks ini, kualitas terjemahan menjadi faktor penentu. Sebuah karya besar dapat kehilangan daya tariknya jika diterjemahkan secara buruk. Sebaliknya, terjemahan yang baik dapat menghidupkan kembali karya tersebut dalam bahasa lain. Contoh; terjemahan karya dari Pramoedya Ananta Toer dengan judul Bumi Manusia. Sejak didirikan pada tahun 1996, LTI di Korea sudah berkomitmen pada pengembangan dan globalisasi sastra Korea. Lembaga tersebut terus berupaya memperkenalkan sastra dan budaya Korea ke dunia dengan berkontribusi dalam pembentukan budaya global. Melalui berbagai program dukungannya, lembaga LTI mendukung adanya total 2.032 penerbitan dalam 44 bahasa dan berhasil menyelenggarakan 1.454 kegiatan pertukaran internasional. Selain itu, LTI berhasil meluluskan 1.490 peserta dari Akademi Penerjemahan, serta membina banyak penerjemah professional. Melalui capaian tersebut, LTI di Korea telah berkontribusi dalam memperkuat posisi sastra Korea di panggung dunia.

Program studi Indonesia di Hankuk University of Foreign Studies telah menawarkan bidang terjemahan mulai dari jenjang pendidikan S1, S2, dan S3. Cultural Translation alias terjemahan kultural. Disarankan supaya pemerintah Indonesia juga memberi perhatian kepada pembentukan badan terjemahan untuk mempromosikan sastra Indonesia dan mendirikan prodi terjemahan di sejumlah perguruan tinggi. Hasil terjemahan karya Indonesia dalam Bahasa Korea (1976 - 2022) seperti; novel 11 karya, puisi 4 karya didampingi 15 orang penerjemah dari orang Korea asli. Penerjemahan tidak langsung (melalui bahasa perantara) perlu dihindari, penggunaan teks asli memungkinkan penerjemahan yang berlandaskan konteks budaya.

Penerjemahan ritme:

  1. Alih-alih menonjolkan makna setiap kata yang terpisah, penerjemah harus memahami dahulu mengenai rantai proses pemaknaan yang dihasilkan oleh penyusunan kata tersebut
  2. Perhatian perlu ditekankan pada dinamika bahasa di aktivitas berbahasa; pusaran makna yang digunakan oleh seorang penulis untuk menampilkan subjek kepenulisannya
  3. Koherensi logis teks sumber serta kemungkinan adanya kesalahan penulisan (typo) harus diperhatikan dengan cermat
  4. Pemahaman yang mendalam terhadap teks sumber merupakan kunci utama

Selain itu, juga ada konsep dari Cultural Translation atau translasi budaya, yakni penerjemah bukan hanya merubah bahasa, melainkan penerjemahan kultural yang menampilkan makna budaya serta mendorong pertukaran budaya. Penerjemah bukanlah pengkhianat (traitor), melainkan mediator budaya. Melalui penerjemahan karya sastra, dimungkinkan terjadinya perjumpaan aktif antara dua budaya serta tercapainya pemahaman yang lebih mendalam mengenai isi karya. Bahasa tanpa budaya adalah bahasa yang mati, hanya berisi sekadar kemungkinan-kemungkinan. Contoh; Churchyard, Knock on WOod, etc.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image