Potensi Sastra Indonesia dalam Kancah Dunia
Sastra | 2026-05-06 14:50:29Sastra merupakan ekspresi kreatif manusia yang dituangkan dalam bentuk bahasa sebagai medium guna menyampaikan pemikiran, pengalaman, dan keindahan. Menurut Sapardi Djoko Damono, salah seorang sastrawan Indonesia, mengatakan bahwa sastra adalah lembaga sosial yang menggambarkan kenyataan hidup. Tulisan bergenre sastra merupakan karya yang terdiri dari cerminan realitas, imaji, dan interpretasi yang menciptakan nilai estetis dan fungsi bagi masyarakat.
Era globalisasi menciptakan banyak tatanan baru yang perlahan mengubah kondisi sosial masyarakat. Sastra tak hanya bergerak di dalam negeri, melainkan juga bergerak dalam bidang internasional dengan menghadirkan karya yang diterjemahkan ke bahasa asing. Budaya berperan besar dalam pergerakan sebuah konsep sosial. Globalisasi yang membawa pertukaran budaya menciptakan sastra Indonesia yang diakui secara internasional. Dalam penyajian sastra internasonal tidak pernah lepas dari peran bahasa sebagai medium utama yang mendorong hadirnya bahasa-bahasa lain sebagai media untuk pertukaran budaya. Hadirnya karya sastra Indonesia dalam bentuk terjemahan lain tentunya menciptakan dampak besar bagi citra bangsa.
Pada kuliah tamu yang diselenggarakan secara daring pada 27 April 2026 oleh Prof. Koh Young Han dengan topik “Apakah Sastra Indonesia Bisa Mendunia?” Pemaparan topik diawali dengan sebuah karakteristik sastra, yaitu sebuah karya yang mencerminkan identitas masyarakatnya, hal tersebut sama seperti pendekatan sosiologis budaya “ketika ingin memahami suatu bangsa, maka bacalah karya sastranya.” Begitulah alasan sebuah sastra mencerminkan identitas suatu bangsa.
Pertanyaan “Apakah Sastra Indonesia Bisa Mendunia?” telah terjawab pada kuliah tamu, yaitu bisa. Demi mewujudkan hal tersebut, terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses apresiasinya. Proses tersebut meliputi empat tahap, yang pertama adalah mengapresiasi karya sastra dalam negeri dengan konsisten dan menyeluruh. Sebelum menduniakan karya sastra, diperlukan upaya untuk menciptakan masyarakat yang dapat mengapresiasi karya sastra, sehingga karya sastra bisa besar di dalam negeri. Ketika karya sastra disepakati masyarakat sebagai sesuatu hal penting, maka akan memudahkan proses diseminasi sebuah karya.
Proses kedua, yaitu menduniakan sastrawan. Setelah sebuah sastra telah besar di dalam negeri, tahap selanjutnya adalah memperkenalkan sastrawan pada kancah dunia. Sebagai upaya mewujudkan tahap ini, diperlukan relasi dunia supaya nama sastrawan dapat mendunia, seperti pihak pemerintah dalam program pertukaran budaya atau relasi sastrawan yang sampai pada kancah dunia.
Proses ketiga, yaitu melahirkan karya sastra yang berkualitas. Selain fokus pada promosi dan diseminasi, hal paling penting adalah memperhatikan kualitas sastra. Ketika karya sastra memiliki kualitas yang baik dan memiliki nilai-nilai unik, maka akan lebih mudah mempromosikan karya sastra dengan menonjolkan poin-poin di dalamnya.
Proses keempat, yaitu penerjemahan dengan kualitas bahasa yang baik. Pada tahap menerjemahkan, hal yang harus diperhatikan bukan sekadar alih bahasa, melainkan seorang penerjemah harus memahami budaya dari bahasa penerima. Setiap diksi diterjemahkan dengan memperhatikan kaidah sesuai dengan aturan dari bahasa penerima. Oleh karena itu diksi memegang peran penting dalam alih bahasa. Untuk mempertajam makna diksi, perlu dipahami bahwa struktur kata dalam bahasa sumber tidak selalu memiliki padanan langsung dalam bahasa sasaran. Diksi-diksi lokal menjadi sebuah ciri khas tersendiri dalam sebuah karya sastra. Semakin unik diksi lokal yang memiliki berbagai makna dalam kacamata semantik dan pragmatik, juga menimbulkan sebuah tantangan bagi penerjemah. Perlu juga memperhatikan inovasi bahasa sumber dengan mempertimbangkan slang dan peran kreatif dalam ekspresif. Tantangan penerjemah adalah harus memiliki strategi untuk mempertahankan nuansa lokal tapi tetap memperhatikan keterimaan pada bahasa penerima.
Secara umum, karya sastra di Indonesia sudah diupayakan masuk dalam kancah dunia. Seperti Eka Kurniawan dengan karyanya yang berjudul Cantik Itu Luka, Pramoedya Ananta Toer dengan karya Bumi Manusia, Abdoel Moeis dengan karya Salah Asuhan, dan karya-karya sastrawan lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Hal tersebut membuktikan bahwa terdapat peluang untuk karya sastra Indonesia menuju kancah dunia.
Potensi internasionalisasi sastra Indonesia sangat besar, terutama karena kekayaan budaya, keberagaman bahasa, dan kreativitas pengarang dalam mengolah diksi serta bentuk kata. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai representasi identitas bangsa yang dapat dikenalkan ke dunia melalui proses globalisasi. Sebagai upaya mengoptimalkan karya sastra di kancah dunia perlu memperhatikan konsistensi dalam mempromosikan karya sastra di dalam negeri, menduniakan sastrawan Indonesia, melahirkan sastra yang berkualitas, dan menerjemahkan karya sastra dengan bahasa yang baik.
Dalam hal ini, aspek linguistik seperti morfologi, sintaksis, dan semantik, khususnya pemilihan diksi dan proses pembentukan kata menjadi kunci penting dalam mempertahankan keutuhan karya. Oleh karena itu, sinergi antara penulis, penerjemah, dan masyarakat diperlukan agar sastra Indonesia mampu tampil secara stabil sekaligus dapat diterima oleh pembaca global.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
