Jangan Menganggap Kita Ada
Agama | 2026-05-06 04:54:35Abdul Hadi tamba.
Jangan menganggap kita ada.
Dalam pandangan kami kalimat "jangan menganggap kita ada" (atau menafikan diri) adalah inti dari ajaran penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan tauhid tingkat tinggi.
Konsep ini bertujuan menghancurkan ego (nafs), kesombongan, dan rasa memiliki kuasa, untuk mencapai fana' (peleburan diri) dan baqa' (kekal bersama Allah).
Secara ringkas, pandangan kami terhadap kalimat tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
Dasar dalam Al-Qur'an dan Hadis (Dalil Naqli) Meskipun istilah "jangan menganggap kita ada" tidak tertulis secara harfiah, konsepnya berakar kuat dalam Al-Qur'an dan Hadis yang memerintahkan manusia untuk menyadari kelemahan diri dan kemutlakan Allah.
QS. Al-Qashas: 88:
"...Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah..."
Ayat ini menjadi landasan fana (kebinasaan/ketiadaan) makhluk.
QS. Al-An'am: 162:
"Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Ini menunjukkan bahwa existensi (keberadaan) manusia hanyalah sebagai perantara ibadah kepada Allah.
Hadis Qudsi (riwayat Bukhari):
"..Jika Aku mencintainya, maka Aku-lah pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat..."
Ini adalah puncak di mana seorang merasa dirinya "tidak ada" karena yang "ada" adalah gerak Allah.
Makna "Jangan Menganggap Kita Ada" dalam pandangan kami Nafi Isbat (Dzikir Laa Ilaaha Illallah):
Kami menafikan (menghilangkan/menganggap tidak ada) segala wujud, termasuk wujud dirinya, dan menetapkan (isbat) bahwa hanya Allah yang benar-benar Ada.
Hilang Ego (Fana' al-Af'al, sifat, Zat):
Tidak menganggap diri memiliki kekuatan, kecerdasan, atau amal, melainkan semua itu milik Allah.
Merasa Hina (Fakir):
Menyadari bahwa manusia adalah laa syai' (bukan apa-apa) tanpa pertolongan Allah.
Pandangan kami Terhadap Kalimat Ini Imam Al-Ghazali:
Menekankan bahwa tasawuf adalah ketulusan (ikhlas) dan pembersihan hati, di mana seseorang melepaskan keterikatan duniawi dan ego diri untuk fokus pada Allah.
Abu Yazid al-Bustami:
Mempopulerkan konsep fana', di mana sufi lebur dari kesadaran duniawi dan diri sendiri untuk meraih keabadian dengan-Nya.
Kesimpulan Pandangan kami terhadap kalimat tersebut bukanlah untuk meniadakan fisik manusia, melainkan meniadakan keakuan (ego) yang merasa memiliki diri sendiri.
Ini adalah ajaran tauhid untuk mengembalikan hakikat "Ada" hanya kepada Allah SWT, yang didasarkan pada ayat-ayat tentang kepasrahan dan hadis-hadis tentang kedekatan diri kepada Allah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
