Sastra Sebagai Diplomat Negara: Dapatkah Sastra Indonesia Mendunia?
Edukasi | 2026-05-13 09:36:26Karya sastra sejak dahulu dikenal sebagai salah satu cara untuk memahami suatu negara. Melalui membaca karya sastra, pembaca akan menemukan banyak isu di dalamnya, meliputi aspek sosial, politik, budaya, dan sebagainya. Dari aspek tersebut, karya sastra menjadi representasi identitas nasional, dan dapat dipandang sebagai diplomat negara untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat global melalui narasi, dan sejarah yang terkandung di dalamnya.
Keberhasilan sebuah karya sastra di tingkat internasional tidak hanya mengandalkan kualitas karya sastra itu sendiri, tetapi diperlukan juga peran negara untuk memperkenalkan dan mempromosikan negara kepada dunia agar semua orang dapat mengetahui bagaimana Indonesia. Melalui promosi negara, diharapkan muncul minat lebih lanjut untuk membaca karya sastra Indonesia sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa.
Di sisi lain, untuk lebih menarik perhatian dalam menglobalisasikan sastra Indonesia, diperlukan juga peran tokoh-tokoh sastra yang memiliki karya khas dan dikenal luas. Seperti Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ahmad Tohari, Selain itu, keberhasilan sastrawan Asia seperti Mau Yan dan Han Kang di tingkat internasional juga menunjukkan bahwa sastra Asia memiliki peluang besar untuk dikenal dunia.
Untuk menarik perhatian pembaca, karya sastra perlu memiliki kekhasan dan keunikan. Salah satunya tampak pada Puisi milik Sutardji Calzoum Bachri yang memandang bahwa kata-kata yang ditulisnya tidak sekedar menjadi sarana untuk penyampai makna, sebab kata-kata itu sendiri pengertiannya, dan kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Oleh karena itu, sebagian besar karya Sutardji memberontak terhadap tradisi pemahaman tentang puisi, karena Ia ingin menonjolkan segi lain dari puisi yang sarat oleh pikiran dan teka-teki.
Keunikan karya sastra Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah sastranya. Selain melalui karya dan pengarang, penulisan sejarah sastra juga memiliki peran penting dalam menduniakan sastra Indonesia. Melalui sejarah sastra inilah, masyarakat dunia dapat memahami perkembangan budaya, pemikiran, dan identitas masyarakat Indonesia dari masa ke masa. Dengan adanya sejarah sastra yang tersusun, karya sastra Indonesia tidak hanya dipandang sebagai hiburan, namun juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah suatu bangsa.
Namun, salah satu tantangan utama saat menduniakan sastra Indonesia adalah proses penerjemahan, Tanpa adanya penerjemahan, karya sastra akan tetap terbatas dan terkurung dalam batas bahasa dan pembaca lokal. Dalam hal ini, kualitas terjemahan juga akan menjadi faktor penentu apakah karya itu akan menarik, karena tidak semua karya yang bagus memiliki terjemahan yang baik, dan juga memiliki pemaknaan yang sama. Sebuah karya besar dapat kehilangan daya tariknya jika diterjemahkan secara buruk. Sebaliknya, terjemahan yang baik dapat menghidupkan kembali karya tersebut dalam bahasa lain.
Sebagai perbandingan, Korea sendiri memiliki lembaga Literature Translation Institute of Korea yang bergerak dalam bidang penerjemahan karya sastra Korea ke bahasa asing maupun sebaliknya. Lembaga tersebut membantu karya sastra Korea semakin dikenal oleh pembaca internasional melalui berbagai program penerjemahan dan kerja sama budaya. Keberadaan Lembaga seperti ini juga seharusnya dapat memberikan inspirasi bagi Indonesia agar membentuk badan penerjemahan untuk mempromosikan sastra Indonesia agar dapat menjadi sarana mengangkat sastra Indonesia dikenal lebih luas lagi ke seluruh penjuru dunia.
Prof. Dr. Koh Young Hun dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia pada bulan April 2026, memaparkan bahwa terjemahan dapat menjadi sarana untuk mengangkat sastra Indonesia ke dunia internasional. Hal ini telah dilakukan oleh Literature Translation Institute of Korea dalam menerjemahkan karya sastra Korea ke dalam bahasa asing, bekerja sama dengan instansi luar dalam bidang sastra dan mengelola Translation Academy. Selain itu, terdapat juga hasil terjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Korea. Beberapa karya yang sudah diterjemahkan, antara lain: Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, Gadis Kretek karya Ratih Kumala.
Melihat banyaknya keberagaman budaya Indonesia, peluang sastra Indonesia untuk mendunia sangat besar karena adanya keunikan karya yang dimiliki oleh pengarang Indonesia. Namun keberhasilan tersebut tidak hanya bergantung pada kualitas karya sastra, melainkan juga pada promosi budaya, penulisan sejarah sastra, dan juga penerjemah yang mampu membuka jalan bagi sastra Indonesia untuk dikenal lebih luas dengan pembaca internasional.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
