Perjuangan Sunyi Mahasiswa Fisika Melawan Finansial
Sastra | 2026-05-18 07:37:31
Sebut saja Harun, sosok laki-laki tinggi yang tampak canggung dengan tatapan serius. Dia teman seperjuanganku waktu kuliah. Kami satu asrama saat tahun pertama di kampus dan kamar kami pun saling berseberangan.
Sejak tahun 2023, yakni tahun keempat kuliah, dia tidak ada kabar bak hilang ditelan ombak. Hilang di tengah gemuruh euforia mahasiswa skripsian. Sirna tanpa kabar kala teman-teman seangkatannya merayakan kelulusan dan sebagian berlomba menuntaskan skripsi hingga penghujung bulan. Maka muncul pertanyaan di kepalaku, "Apa yang terjadi dengan anak ini? Bukankah dia adalah sosok yang rajin dan juga pintar?" gumamku.
Hari pun berjalan, hari demi hari, hingga tak terasa telah berjalan tiga tahun dengan kesibukan masing-masing. Lalu malam tiba dengan segala kejutan layaknya petir menyambar tanpa hujan. Di tengah kenyamananku menggulir layar gawai, ada panggilan masuk. Harun meneleponku dengan menggebu. Kagetlah aku dan tak menyangka, apakah benar ini dia? Sosok yang tak pernah membalas pesan-pesanku dan sangat jarang memperbarui status di media sosial. Bahkan, foto profilnya saja tidak pernah berganti sejak awal kenal dengannya. Sempat terbersit dalam hati, apakah benar ini si Harun yang meneleponku?
Dia menanyakan kabarku, begitupun aku sebaliknya menanyakan bagaimana kabarnya. Ternyata maksud dia menghubungiku tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengabari kalau dirinya akan melaksanakan sidang skripsi besok. Ia baru memberanikan diri untuk menghubungi temannya. Dan aku adalah satu-satunya teman yang ia hubungi dan ceritakan kisahnya secara panjang lebar. Dan kemudian, fakta sebenarnya barulah terungkap.
Sesaat setelah semester delapan berakhir, pikirannya berkecamuk. Semester sembilan dan seterusnya tidak akan sama seperti sebelumnya. Pendanaan beasiswa sudah selayaknya berhenti dan memaksanya untuk memutar otak. Di satu sisi, proposal penelitian masih belum rampung karena kebimbangan dalam pemilihan sensor, yang tentunya juga ada faktor keuangan di dalamnya. Di sisi lain, ia tak bisa mengandalkan orang tua.
Tanpa membuang waktu, ia mengorbankan waktunya yang seharusnya bisa dipakai untuk penyempurnaan skripsi dengan mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Sebuah jihad dalam sunyi yang tak ingin dilihat orang lain. Ia memendam bebannya sendiri, tak ingin orang lain tahu dan tak ingin orang lain terbebani oleh dirinya. Segala hal yang berkenaan dengan penelitian membuatnya linu dan nyeri karena keadaan. Sampai-sampai, ia tak menghiraukan segala pesan dari teman angkatannya demi menjaga mentalnya tetap sehat.
Dua tahun lebih ia tak berkabar, dan selama itulah ia mencari dan menyimpan pundi-pundi uang untuk membiayai penelitiannya, juga membayar UKT yang tak lagi ditanggung oleh beasiswa. Sebuah rencana pelan tapi pasti yang membentuk mental ketangguhan dan kemandirian.
Jadi selama ini dia bekerja sebagai pegawai minimarket di daerah Malang. Suatu hal yang banyak tidak diketahui orang. Tentunya ini menampik isu miring kalau Harun itu malas dan terlalu perfeksionis. Bukan itu, tapi alasan terdalamnya adalah finansial yang tidak mumpuni dan tidak berpihak padanya.
Sampai dua tahun lebih ia bekerja, kariernya mulai membaik dan menunjukkan peningkatan. Namun, ia kembali ke fokus dan niat awalnya bekerja, yakni untuk pendidikan. Ia bekerja semata-mata untuk membiayai kuliah. Maka ia memutuskan melanjutkan proyek skripsinya dan meninggalkan pekerjaan tersebut, meskipun amat sangat disayangkan oleh atasannya.
Lho, memang orang tuanya ke mana? Nah, inilah kisah sedih yang membedakannya dengan orang lain, hal yang kami teman seangkatannya belum tentu tahu secara pasti. Harun sama sepertiku, sama-sama penerima beasiswa Bidikmisi. Sama-sama tidak berkecukupan. Tapi Harun mungkin keadaannya lebih tidak baik dariku. Aku telat satu semester dan mengharuskan Mama membongkar celengan untuk membiayai hidupku selama satu semester. Tapi Harun beda, ekonomi orang tuanya benar-benar tidak kuat, maka ia dengan berani melangkah untuk bisa kerja secara mandiri demi mengumpulkan uang sepeser demi sepeser.
Apalagi dia mengambil peminatan instrumentasi. Penelitian skripsi dalam peminatan ini sangat tergantung pada alat yang digunakan, sedangkan ia sendiri merasa kesusahan dalam membeli sensor dan perangkat pendukung yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah. Detail ini sudah cukup untuk menampik anggapan miring kalau dia sekadar idealis atau terlampau perfeksionis hingga menunda kelulusan.
Akhirnya setelah terkumpul duit dari berbulan-bulan dan bertahun-tahun menabung, dia mampu mewujudkannya. Harun kembali ke laboratorium, menyelesaikan apa yang sempat tertunda, hingga berhasil mengikuti proyek turunan dari Pak Tamim tentang e-nose.
Satu jam lebih aku teleponan dengannya. Hatiku bergetar, emosiku menyala atas curhatan temanku yang satu ini. Di balik perangainya yang diam dan tampak sabar serta biasa saja, ada perjuangan dan ketangguhan dalam hidupnya. Sungguh ini menjadi pelajaran yang sangat berarti bagiku untuk tidak manja dan tidak cengeng sebagai pemuda. Dan juga sebagai orang yang sama-sama perintis, tidak punya modal kuat, dan tidak bersandar pada penghasilan orang tua yang apa adanya.
“Wahai Harun, yang mungkin masih berjuang dalam menunggu fase kelulusan, terima kasih telah berbagi cerita yang menginspirasi. Semua ini menyadarkanku bahwa semua orang punya timeline-nya masing-masing dan juga punya medan juangnya masing-masing. Semoga ketika lulus nanti, kau mendapatkan pekerjaan tanpa perlu bersusah payah lagi dan bisa mengangkat harkat martabat orang tuamu.”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
