Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rosi Risalah

Membaca Pola Manipulasi Gaslighting Fir'aun terhadap Nabi Musa AS

Kisah | 2026-05-18 08:42:58

Apakah kamu pernah mengungkapkan sesuatu yang benar kemudian disalahkan dengan penyerangan secara personal? Pernahkah kamu merasa selalu salah setelah mengungkapkan suatu kebenaran objektif di hadapan orang yang lebih berkuasa darimu? Atau pernahkah kamu merasa yakin akan sesuatu tetapi selalu dipermasalahkan dan diragukan sehingga membuatmu mempertanyakan kembali keyakinanmu?

Bukan, bukan kamu yang keliru atas keyakinanmu yang sering disalahkan itu. Tetapi tekanan psikologis yang bertubi-tubi itulah yang biasa disebut sebagai gaslighting. Pola yang dilakukan oleh mereka yang mengira memiliki kuasa atas diri kita, fenomena yang sudah terlukiskan di dalam Al-Qur’an pada dialog antara Fir’aun denganNabi Musa AS.

Sumber gambar: Diego Ferrari/Piexels.com

Gaslighting merupakan bentuk manipulasi psikologis yang berupaya untuk menciptakan keraguan yang ditargetkan sehingga membuat korbannya mempertanyakan tentang persepsi, ingatan dan realitasnya (Arbania, et all (2023). Biasanya hal itu akan dilakukan berulang, menyerang identitas, memutarbalikkan fakta dan mengalihkan pembicaraan untuk membuat korban merasa bersalah. Gaslighter akan memaksa korban untuk bersikap emosional. Hal tersebut juga dilakukan oleh Fir’aun, gelar penguasa Mesir saat itu yang memiliki kekuasaan di bidang politik, militer, ekonomi dan bahkan mengklaim dirinya sebagai tuhan.

Beberapa pola gaslighting yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap Nabi Musa AS:

Menyerang Identitas dan Mengungkit Kebaikan Masa Lalu

Saat Nabi Musa AS datang dan mendakwahi Firaun yang tidak menerima kebenaran itu, Firaun langsung menyerangnya dengan latar belakang identitasnya. Musa adalah anak angkat yang dia besarkan di istananya sejak bayi sampai remaja. Firaun mengungkit-ungkit itu untuk membuat Nabi Musa AS merasa bersalah dan tidak berani untuk melawannya.

Dia (Fir’aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan) dari perbuatan yang telah engkau lakukan dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.” (Lihat QS. Ash- Shu’araa (26) : 18-19)

Gaslighting Fir’aun ini seolah menuntut balas budi pada Nabi Musa AS. Sebenarnya ini tidak seimbang, karena apa yang dikatakan Nabi Musa AS adalah pernyataan objektif tentang keingkaran Fir’aun namun dibalas dengan pernyataan yang subjektif dan menyerang identitas seseorang yang berada di bawahnya. Fir’aun seolah-olah ingin menyampaikan tentang Musa sebagai anak yang dibesarkan di istananya dan seharusnya patuh padanya. Serangan identitas yang bekerja dengan cara membuat korban mendapatkan identitas yang kecil dan tak berdaya. Tujuan dari serangan terhadap latar belakang ini biasanya untuk melemahkan kepercayaan diri lewat kondisi di masa lalu.

Melabeli “Orang Gila” dan Memutarbalikkan Fakta

Saat Nabi Musa AS menjelaskan tentang Allah SWT sebagai Tuhan yang menganugerahkan ilmu dan menjadikannya salah seorang rasul, Fir’aun bertanya “Siapa Tuhan seluruh alam itu?”

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu mempercayai-Nya.” Dia (Fir’aun) berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar (apa yang dikatakannya?”. Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”. Dia (Fir’aun) berkata, “Sungguh, Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.” (Lihat QS. Ash-Syu’ara (26) : 23-27)

Pelabelan negatif menjadi strategi untuk mendiskreditkan seseorang tanpa harus bersusah payah mendebat substansi pesannya. Jika orang percaya bahwa si pembawa pesan adalah “orang gila”, pesannya akan mudah diabaikan. Hal ini dilakukan Fir’aun untuk melanggengkan kekuasaannya yang membuat rakyatnya tidak boleh percaya kepada Nabi Musa AS.

Fir’aun juga melakukan gaslighting dengan memutarbalikkan fakta saat Nabi Musa menunjukkan mukjizatnya seperti tongkat yang berubah menjadi ular dan tangannya yang bercahaya. Saat peristiwa itu disaksikan oleh ribuan orang secara langsung, Fir’aun tidak menyangkal kejadiannya namun melakukan perubahan makna. Memutar balikkan fakta yang alih-alih mengakui kalau Nabi Musa AS adalah utusan Allah, tetapi malah melabeli Nabi Musa AS sebagai ahli sihir.

Dia (Fir’aun) berkata kepada para pemuka di sekelilingnya, “Sesungguhnya dia (Musa) ini pasti seorang pesihir yang pandai, dia hendak mengusir kamu dari negerimu dengan sihirnya; karena itu apakah yang kamu sarankan?” (Lihat QS. Ash-Shu’ara (26) : 34-35)

Apa yang dilakukan Fir’aun adalah melakukan interpertasi sendiri untuk melabeli Nabi Musa AS sebagai seorang pesihir. Menyebarkan narasi palsu dengan gaslighting kolektif yang mempermalukan dan merusak reputasi Nabi Musa AS. Namun, taktik ini akan runtuh sendiri karena para ahli sihir yang paham itu tahu bahwa apa yang dilakukan Nabi Musa AS memang bukanlah termasuk sihir. Para ahli sihir yang nanti bertanding melawan Nabi Musa AS berbalik menjadi beriman seluruhnya kepada Allah SWT.

Menolak Kebenaran dan Memonopolinya

Firaun di zaman Nabi Musa AS sudah sangat terkenal mengaku dirinya sebagai Tuhan. Kesombongan menjangkitinya, ia sudah mendapatkan dakwah dari Nabi Musa AS namun menolak kebenaran yang disampaikan kepadanya. Dia memuja dirinya sendiri dan memosisikan dirinya sebagai satu-satunya kebenaran.

Dan Fir’aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah tanah liat ini untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta.” (Lihat QS. Al-Qasas (28): 38).

Hal ini dapat menjadi gaslighting kosmologis yang memutarbalikkan realitas paling fundamental tentang siapa yang berhak menjadi Tuhan. Ketika penguasa melakukan itu, dia sendiri sudah bersikap otoriter dan meyakini dirinya lebih baik dari Tuhan.

Pergilah engkau kepada Fir’aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan), dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?” Lalu (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi dia (Fir’aun) mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa), kemudian mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaan di dunia. (Lihat QS. An-Naazi’aat (79) : 17 – 25)

Klaim tersebut membuat Fir’aun memonopoli kebenaran kepada para pembesar-pembesarnya untuk menghalangi kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Musa AS.

Reaksi Nabi Musa AS Menghadapi Gaslighting Fir’aun

Nabi Musa AS menampilkan teladan luar biasa saat menghadapi gaslighting yang dilemparkan oleh Fir’aun. Ia tidak goyah dan tetap teguh terhadap kebenaran. Nabi Musa AS juga menegaskan identitasnya dan menyatakan kekuasaan Allah SWT sebagai Tuhan yang melindunginya. Walaupun diserang dari latar belakangnya, Nabi Musa AS tetap menjawab dengan logis dan tidak emosional.

Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya dan ketika itu aku termasuk orang yang khilaf. Lalu aku lari darimu karena takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul. Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) itu engkau telah memperbudak Bani Israil.” (Lihat QS. Ash-Shu’araa (26): 20-22).

Nabi Musa AS memberikan ketegasan dan ketangguhan tanpa menggunakan nada tinggi. Ia tidak melupakan kebaikan Fir’aun dan mengakuinya bahwa itu kebaikan karena telah merawatnya saat kecil tetapi Nabi Musa AS juga menjabarkan kebenaran dan substansi yang sebenarnya bahwa Fir’aun telah memperbudak Bani Israil. Fir’aun sudah semena-mena kepada kaumnya dan bahkan membunuh anak laki-laki dari Bani Israil.

Nabi Musa AS menegaskan bahwa walaupun dia diurus sampai remaja, terlebih dahulu ia sudah diurus dan dilindungi oleh Allah SWT sebagai penyokong dan pemilik langit dan bumi.

“Dia (Musa) berkata, (Dialah) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat dan apa yang ada diantara keduanya; jika kamu mengerti.” Dia (Fir’aun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara.” Dia (Musa) berkata, Apakah (engkau akan melakukan itu) sekalipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (bukti) yang nyata?” (Lihat QS. Ash-Shu’araa (26) : 28 – 30)

Tidak goyah walaupun Fir’aun melakukan ancaman koersif (coercive gaslighting) untuk dipenjara.

__

Jangan pernah menjadi pelaku gaslighting seperti Fir’aun karena sikap tersebut hanya menunjukkan kesombongan yang merendahkan orang lain. Gaslighting di masa kini juga bisa terjadi di berbagai kondisi, bisa dilakukan oleh komunitas masyarakat, orang tua, pasangan atau bahkan penguasa dzalim yang selalu menyalahkan rakyatnya.

Membaca kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun yang diabadikan di dalam Al-Qur’an telah memberikan refleksi memaknai fenomena gaslighting. Kita seperti diarahkan untuk senantiasa melibatkan Allah SWT di setiap kondisi dan menjadi hamba-Nya sebagai identitas kita yang tidak perlu takut kepada selain-Nya. Kita mengambil hikmah bahwa gaslighting sangat berbahaya dan memengaruhi psikologi korbannya, namun kita harus tetap logis dan percaya diri jika mendapatkan perilaku itu. Kita percaya bahwa ada Allah SWT yang menjaga kita dan menganggap kita berharga. Kita percaya bahwa sekejam apa pun kebenaran dibungkam, pasti ia akan menang dan menemukan jalannya.

Sumber:

Bayyinah TV - Nouman Ali Khan. 2020. The Return of Moses (Miracles) Part 2.

Fitriani, A., Marsidi, S.R, Lunanta, L.P. 2023. Psikoedukasi: Gaslighting dan Strategi Menghadapinya. Jurnal Abdimas Volume 09 Nomor 03 Januari 2023. hlm 251-262

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image