Menakar Peluang Sastra Indonesia di Panggung Dunia
Edukasi | 2026-05-15 15:56:44
Dalam kuliah tamu di Universitas Airlangga, Prof. Dr. Koh Young Hun dari Hankuk University of Foreign Studies melontarkan pertanyaan reflektif: "Apakah Sastra Indonesia dapat mendunia?" Pertanyaan ini menggugah kesadaran kita bahwa sastra bukan sekadar teks, melainkan "diplomat" budaya yang paling jujur bagi sebuah bangsa.
Di tengah gempuran Korean Wave dan dominasi industri kreatif global seperti Harry Potter, sastra memiliki peran strategis sebagai lokomotif ekonomi dan budaya. Namun, untuk mendunia, sebuah bangsa harus berani mempromosikan identitasnya sendiri. Prof. Koh menekankan satu prinsip penting: "Sifat lokal adalah yang paling mendunia." Dunia tidak mencari keseragaman, melainkan keunikan lokal yang membawa nilai universal kemanusiaan.
Indonesia sejatinya memiliki modal besar. Nama-nama seperti Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, hingga Sutardji Calzoum Bachri adalah bukti kekuatan intelektual kita. Sutardji, misalnya, melakukan revolusi puitika dengan membebaskan kata dari makna konvensional, sebuah inovasi yang setara dengan eksperimen seni global. Selain itu, novel Saman karya Ayu Utami dan Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari telah membuktikan diri mampu melintasi batas bahasa.
Namun, jalan menuju panggung dunia masih menemui hambatan, terutama pada aspek ekosistem penerjemahan. Upaya kolaboratif seperti penerbitan kumpulan cerpen Bulan dan Tukang Sulap Berbaju Merah (2019) di Korea merupakan langkah nyata. Melalui terjemahan 22 cerpen dari penulis seperti Ben Sohib dan Linda Christanty, pembaca internasional mulai mengenal kompleksitas ideologi, agama, dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Belajar dari kesuksesan Han Kang (pemenang Nobel Sastra 2024), dominasi Barat di dunia literatur perlahan mulai runtuh oleh kekuatan narasi Asia. Sastra Indonesia memiliki peluang besar jika kita mampu mengelola kualitas terjemahan, memperkuat peran kritikus internasional, dan menjaga otentisitas narasi Nusantara.
Mendunianya sastra kita bukan sekadar soal popularitas, melainkan tentang kontribusi pemikiran Indonesia bagi peradaban. Dengan ekosistem yang tepat, narasi dari khatulistiwa akan terus menemukan jalannya untuk menyentuh hati pembaca di berbagai belahan dunia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
